
Cyra ikut menutup matanya ketika team dokter mulai membuka perban satu persatu untuk momy'nya. Mr Kim yang tahu bahwa Cyra tengah berusaha menghalau kecemasanya pun menarik tubuh Cyra agar bersembunyi di dalam dadanya. Tubuh yang tinggi milik Mr Kim bisa ia gunakan untuk bersembunyi, Cyra hanya sepundak Mr Kim sehingga gadis kecil itu bisa menggunakan dadanya untuk bersembunyi.
Cyra merasakan kekuatan di saat ia sedang ketakutan dengan semua yang menimpanya setidaknya ia masih merasakan ada dada kokoh yang bisa digunakan untuk bersandar.
Sungguh Cyra tidak siap berada di detik-detik ini. Dia ingin pergi menghilang dari semua situasi yang menegangkan ini. Cyra tidak tahu bahwa yang sedang ia pinjam dadanya untuk bersandar adalah Mr Kim, tetapi ia masih bisa mencium wangi parfum mahal itu.
Satu per satu perban yang menutup mata momy di buka, sampai di helai terakhir. Suasana di ruangan itu menjadi sangat menegangkan terlebih Cyra sudah menangis sesegukan. Sebenarnya bukan Cyra dan keluarga pasien yang mulai cemas dengan hasilnya. Team dokter pun sama mereka berpacu dengan rasa cemas, detup jantung yang memompa dengan cepat, keringat dingin yang tiba-tiba muncul. Mereka takut gagal terlebih pasien datang dari negri yang berbeda dengan harapan tinggi bahwa pasien akan mendapatkan hasil yang sempurna. Apabila ada kegagalan tentu nama baik rumah sakit dan lainya akan tercoreng dan diragukan sehingga calon pasien lain akan berfikir lagi apabila sampai gagal. Mereka sangat memiliki harapan sangat tinggi bahwa proses oprerasi ini bisa sembuh.
"Anda siap Nona?" tanya dokter yang berdiri di hadapan momy Ezah.
Gemaz, Cyra sangat gemaz dan ingin memaki kenapa harus segala pake siap tidak? Langsung ajah buka, nambah-nambah perasaan was-was ajah. Begitu kira-kira umpatan Cyra di dalam hati ketika mendengat pertanyaan dokter.
Mommy mengangguk dengan lemah, ia pun merasa pertanyaan itu hanya membuat dirinya semakin tegang sajah. Ah, mungkin ini memang bagian cara mereka agar susana semakin dapat tegangnya. Ingin Cyra teriak dan bilang langsung saja buka. Momy di dalam hatinya juga sudah tidak sabar ingin melihat wajah putrinya yang dari tadi sudah menangis haru. Yah, momy tahu bahwa Cyra sudah menangis takut kalo-kalo operasi mommy'nya gagal.
Dokter kembali membuka perban itu, segala doa sudah mereka rapalkan baik dari team dokter maupun dari Cyra, Mr Kim dan Mommy.
__ADS_1
Momy mengerjapkan matanya ketika perban sudah dibuka semuanya. "Cyra." Momy langsung mencari sosok prutrinya ketiak ia sudah yakin bahwa oprasi yang di jalani berhasil. Dan Bayang-bayang yang masih samar bisa ia tangkap dari indra penglihatanya yang baru itu.
Cyra, yah wajah pertama yang ingin momy lihat adalah wajah buah hatinya. Yang dulu pernah ia lihat ketika momy melahirkannya, tetapi setelah itu ia tidak pernah lagi bisa melihat anaknya itu.
Cyra yang merasa di panggil langsung membuka telapa tanganya yang sejak tadi menutup matanya. "Mommy." Cyra berlari menuju momy'nya dan mecoba duduk di depan momy yang tengah tersenyum dengan sangat manis.
Momy menggerakan tangan-tangan lentiknya menelusuri wajah Cyra. "Sayang, kamu cantik. Sesuai dengan yang momy bayangkan," ujar momy dengan mata berkaca-kaca.
"Momy, apa momy bisa melihat wajah Cyra?" tanya Cyra ia penasaran apakah momy'nya benar-benar bisa melihat atau tidak.
Cyra pun karena merasa tidak dibutuhkan ia duduk di sofa tempat kesayangan Mr Kim di mana manusia kulkas itu selalu menghabiskan waktunya di atas sofa yang berada di samping jendela kaca yang cukup besar. "Wah lumayan juga yah duduk dari sini, pantas sajah sofa ini jadi tempat ternyaman Mr Kim, ternyata pemandangan dari sini kelihatan sangat indah," batin Cyra yang sudah hampir tiga bulan berada di rumah sakit ini, tetapi ia belum tahu betawa nyamanya duduk di sofa favorit Mr Kim.
Cyra mencoba mendengar dan mengartikan apa yang Mr Kim dan team dokter bicarakan, tetapi sekeras apa pun Cyra mencoba untuk mengartikanya kedalam bahasanya tetap sajah ia tidak tahu dengan apa yang mereka katakan.
Cukup lama Cyra menunggu sampai dokter itu pergi. Ok kini mereka sudah bersiap akan meninggalkan ruangan momy'nya. Cyra pun begitu Mr Kim dan dokter itu pergi langsung menghampir mommy'nya. Rasanya tidak sabar Cyra ingin mendengar jawaban dari yang ia tanya barusan tetapi momy belum sempat menjawab Cyra sudah terusir.
__ADS_1
"Momy, gimana apa momy sudah bisa melihat? Momy setelah ini Momy akan sembuh dan kita akan jalan-jalan bersama dan akan mencari makam papah kan?" tanya Cyra dengan antusias. Ia masih sangat ingat dengan apa yang Mr Kim katakan bahwa keinginan momy'nya adalah mengunjungi makam suaminya alias papah Cyra.
Momy kembali meraih wajah Cyra dan membelainya dengan lembut sama seperti pertama kali Momy bertemu dengan Cyra dan saat itu belum bisa melihat bahkan untuk berjalan momy masih belum kuat terlalu lama, itu karena kondisi tubuhnya yang masih lemas. Namun setelah Cyra merawat dengan penuh kasih dan selalu menyuapi momy dengan makanan yang bergizi sehingga berat badan momy terus meningkat dan itu sangat berpengaruh dengan tubuhnya yang awalnya lemah tetapi sekarang sudah cukup kuat untuk berjalan cukup jauh. Bahkan setiap pagi maupun sore hari, Cyra mengajak momy untuk mengelilingi rumah sakit yang super luas itu.
"Cyra, kenapa wajah kamu cantik sekali. Pasti banyak laki-laki yang ngejar-ngejar kamu kan?" tanya Momy terus mengusap pipi mulus Cyra.
"Momy ini semua tanda kan kalo momy itu sudah bisa melihat?" Cyra tidak akan berhenti bertanya sampai momy'nya bisa menjawab dengan jawaban yang Cyra lontakan.
"Ezah sudah bisa melihat Cyra, mana bisa Ezah bilang kamu cantik kalo dia tidak melihat kamu. Masa kaya gitu saja kamu tidak bisa menyimpulkan jawaban dari pertanyaanmu itu," ucap Mr Kim yang baru sajah masuk keruangan momy Ezah, dengan gaya kembali dingin.
Cyra pun sebenarnya sebal dengan jawaban Mr Kim yang ia nilai sangat menyebalkan, tetapi biarlah kali ini sajah Cyra tidak akan memperdulikan ocehan manusia kulkas itu. Cyra akan merayakan keberhasilan momy'nya yang kembali bisa melihat indahnya dunia.
Cyra memeluk tubuh wanita yang bahkan kali ini menempati nomor satu di hatinya. Yah Momy menjadi orang yang memperingati juara nomor satu dihati Cyra.
"Momy, Cyra sudah tidak sabar ingin keluar dari rumah sakit ini dan memulai hidup hanya dengan momy dan Cyra," lirih Cyra. Yah Cyra menganggap bahwa setelah keluar dari rumah sakit ini maka ia akan terbebas dari pengawasan manusia kulkas alias Mr Kim-Kim.
__ADS_1
#Sadar Cyra, emang bisa kamu bebas dari Mr Kim bahasa di sana kamu ajah nggak tau....