Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Qari Cemburu Buta


__ADS_3

Naqi sepanjang jalan menuju kantor, bernyanyi mengikuti lagu yang ia putar di dalam mobilnya. Jalanan yang macet tidak ia perdulikan, padahal biasanya kalo jalanan macet ia akan mengupatnya dengan kata-kata kasar di dalam mobilnya. Terutama semenjak Naqi di tinggal Cyra, dia menjadi orang yang sangat berbeda dengan Naqi yang dulu, pemarah dan tidak ramah seperti dulu. Namun setelah ada Cyra sifatnya perlahan kembali seperti Naqi yang ceria dan tidak pemarah.


Wajah cerianya masih berlanjut sampai ia sudah tiba di kantornya, biasanya Naqi akan berjalan dengan tampang yang dingin dan cuek, tetapi berbeda dengan pagi ini ketika dia datang. Senyum terkembang di wajah tampanya dan bukan hanya itu, Naqi juga sempat memperingatkan cleaning service kantor yang tengah mengepel agar berhati-hati takut jatuh karena Naqi melihat pekerjanya itu mengepel dengan gerakan mudur. Sangat jeli bukan? Biasa boro-boro kelihatan hal sekecil itu, orang berpapasan denganya ajah cuek dan masa bodo.


"Pagi Al, Mirna," sapa Naqi dengan ceria. Al da Mirna yang masih duduk di kursi kerjanya masing-masih pun sama dengan yang lain heran dengan sikap bosnya itu.


"Oh ya Al, Mir nanti siang kita makan siang bareng yah, aku yang telaktir kalian, dan juga bonus akan ditambah," ucap Naqi sebelum benar-benar masuk keruanganya.


"Baik Tuan," jawab Alzam dan Mirna secara serentak. Namun sudah jelas Naqi tidak mendengaenya. Mirna dan Alzam pun saling melirik bukan ada sesuatu tetapi mereka sangat heran ketika melihat kelakuan Naqi yang sangat aneh itu.


Brakkk... Qari yang baru masuk keruanganya dan melihat Alzam dan Mirna saling memandang satu sama lain pun merasa terbakar api cembury, hatinya panas. Sehingga tas mahal yang ia bawa pun Qari banting dengan keras ke atas meja, sehingga menimbulkan suara yang sangat kencang dan mengagetkan Alzam dan Mirna.


Bagai pasangan selingkuh yang ke gep, Mirna pun buru-buru menundukan pandanganya dan tidak berani mengangkatnya, menginggat bertapa galaknya Qari sama dia. Berbeda dengan Alzam yang terasa biasa saja karena memang ia tidak sedang bermain perasaan dengan Mirna. Alzam menatap Mirna hanya karena ia heran karena sifat bosnya yang aneh itu, dan mungkin saja Mirna tahu penyebabnya.

__ADS_1


"Ngapain loe masih di ruangan ini, balik sanah keruangan loe," bentak Qari sama Alzam yang terbakar apa cemburu sehingga kejutekanya kembali dengan sempurna. Tanganya menunjuk ruangan Alzam.


"Dan loe Mir, jadi cewek ganjen banget sih. Masih pagi juga udah mesum," ucap Qari matanya menatap tajam sama Mirna, seolah ingin mecambik-cabik perempuan yang ada dihadapanya itu. Saking gemeznya karena sudah di ingatin kalo Alzam itu milik dia tapi masih ajah dipepet sama yang disebut cewek gatel itu oleh Qari.


"Qari kamu jangan bilang gitu, lagian tadi kita itu cuma menatap karena heran dengan perubahan Tuan Naqi tanpa bermaksu lain," bela Alzam, ia tidak enak dengan Mirna, hubunganya yang dulu berteman baik bahkan sekarang sudah tidak baik lagi,seperti dulu. Itu semua karena Qari yang selalu menuduh Mirna cewek ganjen lah gantel lah dan lain sebagainya sehingga setiap Al mau nyapa Mirna canggung, takut membuat Qari salah paham. Yah jadinya kaya sekarang.


"Bela ajah Mirna terus Al, bahkan kamu tidak pernah menjaga perasaan aku. Setidaknya hargai kek perasaan sayang aku sama kamu. Apa sebegitu menjijiknya aku sampai kamu tidak pernah anggap aku ada?" tanya Qari dengan perustasi. Namun ia juga tidak bisa menghilangkan perasaanya kepda Alzam itu, sementara Alzam tidak bisa kasih kepastian terhadapnya. Ingin menjauh dari Alzam pun Qari tidak bisa. Seolah hatinya sudah mentok cinta mati pada laki-laki kaku itu.


"Aku tidak membelia Mirna, aku hanya ingin mengajari kamu sopan sa....(Tidak di lanjut karena Qari yang memotong ucapan Alzam)


Qari ingin pergi meninggalkan kecewanya sama Alzam dan tentu Mirna. Kurang apa perhatian yang Qari berikan pada Alzam sampai ia mau merendah mengikuti setiap apa yang Al mau tetapi tidak sekali pun cintanya di beri kepastian. Malahan Al lebih terlihat peduli dengan Mirna, sementara dengan Qari sendiri terlihat dingin dan menjaga jarak.


Qari bukan anak TK yang tidak tahu bahwa Al tidak mencintainya tetapi apa salahnya dia berusaha mencintai Qari atau bahkan menghargai perasaanya. Al dan Mirna sudah tau bahwa Qari cemburu dengan hubungan mereka tetapi mereka seolah sengaja memamerkan hubungan mereka, marah yang ditahan tahan itu pun akhirnya meledak juga.

__ADS_1


Qari memacu laju mobilnya dengan sangat kencang, fikiranya kalut karena ucapan Al yang Qari anggap sebagai hinaan karena membentak dirinya di depan Mirna dengan maksud membela sekretaris abangnya.


"Sebuah atap gedung paling tinggi di antara gedung yang lain menjadi tujuan Qari untuk meluapkan rasa sedihnya. Selama ini mereka tidak tahu bahwa dibalik sifat tomboy, galak, jutek dan jahil ada sisi Qari juga cape dan lelah menghadapi hidupnya. "Pura-pura kuat itu sangat melelahkan," batin Qari matanya memerah, tetapi tidak bisa menangis. Hatinya dongkol, itu yang Qari rasakan saat ini.


Tempat itu dulu sejak jaman sekolah sering Qari dan teman-temanya gunakan untuk nongkrong sekedar berkumpul dan bahkan untuk berkencan buta ala anak putih abu-abu. Ini adalah kali pertamanya ia datang lagi ketempat itu. Entah mengapa Qari ingin menenangkan diri diatap gedung itu. Mungkin akan enak kalo ia bolos kerja dan bersembunyi di sana dengan bermain game seharian penuh. Setelah meminta izin ke pada security Qari pun diizinkan naik keatas. Terlebih salah satu security masih mengingat wajah Qari yang dulu waktu sekolah sering keatas gedung itu, bersama anak pemilik gedung perkantoran itu.


Qari memilih tidak menaiki lift tetapi menelusuri gedung dengan tangga padahal laintai lebih dari dua puluh. Entah tujuanya apa, tapi Qari ingin meluapkan emosinya dengan menaiki tangga.


Sesampainya di gedung Qari duduk di bangku yang ada di pojokan dan memang atap gedung itu masih sama dengan dulu. Di sana Qari menangis hal yang sejak tadi ingin Qari lakukan bahkan ketika Qari menaiki tangga air matanya sudah beberapa kali jatuh. "Apa sesakit ini cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Qari setengah menjerit seolah sering dengan jeritanya bebanya akan menghilang. Tangannya yang berotot, karena Qari memang suka bermain samsak tinju, tangan itu memukul-mukul dadanya dengan keras, rasanya sakit, sesak, dongkol. "Alzam kamu jahat" teriak Qari kembali dengan tanganya masih memukul dadanya.


Tanpa sadar ketika Qari meminta izin kesecurity tadi, ada sosok laki-laki muda yang memperhatikan gerak-gerik Qari dan tanpa sepengetahuan Qari laki-laki itu mengikuti Qari naik keatas atap geduk.


Dari balik pintu besi yang menghubungkan atap gedung dengan tangga, terdengar isakan pilu dari Qari. Laki-laki itu yang awalnya ingin menemui Qari pun mengurungkan niatanya dan berdiri mematung menunggu Qari sampai tenang dan akan berusaha tidak tahu bahwa diatap gedung ini ada seorang wanita yang sedang patah hati.

__ADS_1


"Sebegitu cintanya kamu sampai menangis tersedu-sedu seperti itu, wahai wanita bodoh," ucap pria itu sembari telinganya terus menajam dengan sempurna agar tahu apa saja yang gadis cengeng itu katakan untuk membuat hatinya lega.


__ADS_2