Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Luapan Emosi Naqi


__ADS_3

Pintu mobil Qari tutup dengan sangat keras, gadis itu tidak peduli lagi, kalau efek dari kelakuanya membuat orang di rumahnya terbangun. Mobil kembali menyusuri jalanan ibu kota yang mulai lengang. Tujuanya kemana? Entahlah, Qari pun hanya ingin pergi menenangkan fikiranya. Hatinya terlalu sakit, sehingga ia enggan bertemu dengan Luson apalagi Rania, gadis yang di banding-bandingkan oleh papihnya.


Apa pantas orang tua membandingkan anaknya? Tidak sama sekali, seharusnya orang tua memberikan contoh yang baik. Tidak akan membandingkan darah dagingnya, mereka harus sadar bahwa setiap anak memiliki pembawaan masing-masing kalau orang tua saja membandingkan mereka, gimana orang luar. Itu yang ada dalam batin Qari, terlebih dengan tamparan, rasanya tidak bisa di terima oleh akal fikirnya, walaupun ia mencoba menerimanya tetap cacat dalam otaknya, tidak bisa ditolerin.


Bagaimana perasaan mamihnya apabila tahu anaknya, di banding-bandingkan dengan anak wanita lain? Bahkan sampai ditampar oleh laki-laki yang dia masih menyandang setatus suami. Pasti mamih Qanita juga sakit hatinya, ketika melihat itu semua. Untung Naqi sigap langsung membawa mamih ke kamar. Qari menghentikan laju kereta besinya ketika berada di taman yang sudah sepi. Dia duduk dan menenggelamkan wajahnya di atas setir mobil. Air matanya kembali luluh, ia membenci Luson dan Rania, tetapi ia tidak bisa pergi dari rumah itu, ada tiga orang yang ia cintai. Biarpun Naqi galak dan ngeselin tetapi ia sayang dengan Qari. Naqi selalu melindungi Qari, walaupun tanpa Qari sadari, tetapi Qari tahu Abangnya sangat sayang dengan dirinya. Berdiam di tempat sunyi adalah pilihan Qari, untuk mengungkapkan unek-uneknya, dan mencoba menenangkan diri.


****


Naqi yang sudah melihat mamihnya tidur pun berancak ke luar kamar maminya. "Mimpi indah wanita tangguhku," bisik Naqi lalu menghadiahkan satu kecupan di kening mamihnya cukup lama.


Naqi tadi seperti mendengar mobil keluar, tetapi ia fikir Luson yang pergi. Tidak ada fikiran sama sekali bahwa adiknya lah yang pergi. Naqi menuruni anak tangga dengan perasaan sedikit tenang karena setidaknya masalah di keluarga sudah mereda, dan Qari juga sudah menyadari kesalahan dirinya. Tanpa Naqi ketahui bahwa ini adalah awal dari semua masalah yang datang dan lebih runyam lagi.

__ADS_1


Naqi terkejut ketika sampai di anak tangga terakhir melihat Luson tertidur di sova. Lalu suara mobil yang barusan keluar apa itu artinya adiknya pergi lagi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Qari ketika ia tinggal ke kamar mamihnya.


"Luson, bangun! Kemana Qari?" tanya Naqi dengan suara berat nan tegasnya. Naqi tahu bahwa Luson tidak benar-benar tidur. Dia hanya pura-pura tidur.


"Tidak tau. Anak seperti dia tidak bisa di nasehati buat apa kamu cari," jawab Luson. Tubuhnya masih tertidur di atas sova. Matanya juga masih terpejam dengan setengah sempurna.


Jawaban Luson tentu langsung memancing kemarahan Naqi. Tangan kekarnya ia gunakan untuk menarik laki-laki setengah baya yang masih puber itu. Tubuh lemahnya tersentak dan langsung terangkat ketika tubuh kekar Naqi menariknya paksa. Ini adalah kemarahan Naqi yang paling mengerikan. Seolah ia lupa bahwa laki-laki yang ia perlakukan demikian adalah papihnya, tetapi ia perlakukan laki-laki itu bak sekarung beras.


Luson yang berdiri belum tegak karena di tarik paksa oleh Naqi, berusaha mengimbangi tubuhnya itu dan berdiri dengan kedua kakinya. "Papih hanya menasihati anak itu agar mencontoh Rania, yang bisa mendengar omongan orang tuanya. Dasarnya saja anak itu manja dan keras kepala, malah kabur lagi dari rumah," jawab enteng Luson kata-katanya ia bikin agar Naqi bisa ia profokasi dan menyalahkan Qari.


Naqi menarik rambutnya dengan kasar menggunakan kedua tanganya, bahkan tubuhnya sampai menunduk menahan emosinya yang sudah di ujung kepala. Menghadapi kebodohan Luson otaknya seolah menjadi ikut-ikutan bodoh. Adiknya keras kepala juga karena turunan watak dari dia, tetapi laki-laki bodoh itu tidak sadar dengan sifatnya.

__ADS_1


"Aku enggak tau cara berfikir kamu gimana Luson, aku juga heran kenapa Tuan Latif bisa punya anak bodoh sepertimu." Naqi sangat kesal dengan laki-laki paruh baya yang ada di hadapanya. Ia putus asa bagai mana lagi ia harus menjelaskan dan menasihati Luson, setidaknya agar jangan ikut campur dengan keluarganya. Biarkan mamih yang mendidik anak-anaknya dengan caranya. Luson jangan ikut campur toh selama ini juga mamih merawat dan menjaga dia dan adiknya itu dengan baik. Setelah datang Luson malah keluarganya jadi tambah dirundung banyak masalah, terlebih sejak Rania datang di rumah ini Qari selalu sensi dan jarang bergabung dengan mereka.


"Kenapa kamu salahkan papih seperti itu. Dasar adik kamu saja yang keras kepala, pembangkang jadi dinasihati orang tua marah. Apa itu a....(suaranya terpotong)


Brukkkk... Brukkkk... Naqi meninju pipi Luson dengan sekuat tenaga bahkan bibir sampai langsung pecah. Luson pun terhuyung dan akan jatuh ke lantai untung ada pegangan sova sehingga ia bisa gunakan untuk menyangga tubuh lemahnya, sehingga laki-laki setengah tua itu masih bisa mengimbangi tubuhnya dan tidak terjatuh.


Naqi melangkahkan kakinya mendekat kearah Luson, emosinya masih menguasainya setengah dari jiwanya. Ia menarik kerah bajunya sehingga mau tidak mau Luson membiarkan tubuhnya ditarik paksa oleh putranya. Dosa? Naqi sudah lupa akan dosa, bahkan apabila harus membunuh demi melindungi adik dan mamihnya pasti akan ia lakukan.


"Dengar baik-baik yah Luson!!! Kalau kamu tidak bisa merawat Qari dan mendidik Qari. Setidaknya kamu jaga omonganmu jangan sampai melukai perasaanya. Karena ketika kamu melakukanya yang sakit bukan hanya adiku. Mamih juga akan merasakan sakit, karena dengan tangan beliau membesarkan kami, mendidik dan menjaga kami. Dari dia kami belajar segalanya, tetapi dengan enteng kamu membandingkan adikku dengan anakmu yang lain. Bukan hanya Qari yang sedih aku pun sedih. Karena mamihku saja tidak pernah membedakan kasih sayang pada anak kandung dan anak tirinya. Tapi kamu justru menghanjurkan mental adikku. B*j*ngan kamu Luson." Naqi berbicara sangat dekat dengan wajah Luson. Bahkan seolah mereka akan berciuman. Nada bicara Naqi yang sangat mengerikan terdengar dari setiap kata yang sengaja ia tekankan agar Luson dengar dan tahu bahwa dia sudah membangunkan singa yang sedang tidur. Selanjutnya Naqi mendorong tubuh lemah Luson hingga benar-benar menyusruk di lantai.


Naqi hendak pergi untuk mencari adiknya. Ia cemas adik perempuanya kenapa-kenapa, tetapi Naqi kembali lagi. Masih ada kata-kata yang ingin ia ucapkan untuk Luson. "Satu lagi Luson, kalau kamu berani melukai wanita yang aku sayangi, tangan ini (Naqi mengangkat tangan sebelah kanan dan mengempalkan jari-jarinya dengan kuat hingga buku-buku jari mengeras dan terliat dengan jelas ototnya) tangan ini yang akan menghantarkan kamu sampai ke peristrahatan terakhir. Aku tidak takut masuk penjara atau pun masuk neraka, kalau kamu berani gangu mamih dan adikku. Nyawamu akan jadi tumbal bagiku." Tatapan membunuh dari Naqi. Tidak akan ada ampun bagi Naqi apabila wanita yang dia sayang di ganggu maka Nyawa pun taruhanya. Naqi meninggalkan laki-laki itu dengan darah yang mengucur dari bibir dab hidung, akibat dua tinjuan Naqi yang tidak main-main itu.

__ADS_1


__ADS_2