
"Buka matamu." Suara bariton dari Niko berhasil membuat Fifah kaget, dan seketika itu juga Fifah membuka matanya yang berada tepat di depan wajah Niko.
"Kenapa tidak mengangkat telepon dariku? Tidak membalas pesanku? Apa kamu mencoba selingkuh dariku?" tanya Niko kali ini dengan suara yang lembut.
Fifah menggeleng dengan wajah yang masih di cengkram kuat oleh Niko. "A... aku takut kamu marah," lirih Fifah, entah lah hanya jawaban itu yang ada difikiranya.
"Tapi, kamu sudah berhasil bikin aku marah Fah, kamu bikin aku emosi dan kamu harus membuat mood ku kembali bagus." Niko kembali mengeluarkan suara tingginya, suara yang mewakilkan kekecewaan dibatinya.
Fifah mencoba menunduk, ia takut dengan tatapan Niko yang seolah akan membunuhnya malam ini juga.
"Liat aku Fah!" Niko tidak suka ketika Fifah menunduk. Sementara dirinya masih suka menikmati wajah Fifah yang cantik di tambah dengan raut wajah ketakutan dan lelehan air mata, membuat Niko kembali bergairah. Ia ingin melampiaskan kemarahanya dengan menghukum Fifah di bawah kukunganya.
Fifah kembali mengangkat wajahnya, masih terdengar samar isakan tangis dari bibir seksi Fifah.
"Pu'askan aku malam ini, sebagai hukuman buat mu. Karena kamu sudah berhasil membuatku marah. Kamu yang menarik aku ke sini. Jadi kamu harus tanggung jawab." Niko menekankan kata-katanya agar Fifah tau maksud dari ucapanya.
"Ta... tapi ini bukan jatah malamku, ini jatah kamu bermalam dengan istri pertamamu." Fifah yang enggan melayani Niko pun mencoba mencari alasan, agar ia bisa bebas dari tugas yang menjijihkan itu. Yah, sekarang rasanya Fifah sangat jijik menikmati permainanya dengan Niko.
Apabila bukan karena Papahnya yang butuh biaya untuk kesembuhanya, pasti Fifah sudah kabur. Lari dari laki-laki gila s*k itu. Gimana Fifah tidak menilainya seperti itu, setiap datang menemuinya langsung minta dilayani, tidak peduli Fifah tengah menginginkanya atau tidak. Selalu memaksakan kemauanya, dengan kasar Niko mencumbu Fifah. Yang membuat tubuh Fifah sakit setelah penyatuanya dengan suaminya itu.
"Tapi, kamu yang menginginkan ini bukan? Kamu ingin aku datang menemuimu, sehingga kamu sengaja membuat aku marah agar datang menemui kamu." Niko semakin mendekatkan wajahnya.
"Ti... tidak Mas, aku tidak bermaksud begitu. Aku tadi hanya jenuh belum mengantuk dan aku hanya liat postingan teman-temanku untuk menghilangkan kejenuhanku." Fifah kembali membela diri, karena memang ia sendiri pun tidak ada maksud seperti itu.
"Semua sudah terjadi. Kamu membuatku marah. Sekarang layani aku! Sama seperti dulu kamu melayani aku. Ketika kamu belum tahu bahwa aku memiliki dua istri. Puaskan aku dengan gaya bercinta kamu yang liar dan bisa membuat emosiku turun!" Niko berbicara sembari mendekatkan wajahnya semakin dekat dan... Cup satu ciuman panas sebagai pertandan permainan sudah boleh dimulai.
Fifah rasanya seperti ingin muntah ketika harus kembali melayani suaminya seperti dulu. Di mana Fifah selalu membuat Niko terbang melayang dengan gaya bercintanya yang seolah-olah dia adalah seorang wanita kupu-kupu yang bertugas memuaskan para palangganya.
__ADS_1
Niko melepaskan cengkramanya dan melentangkan tubuhnya di tengah ranjang. Ia gunakan kedua tanganya untuk batalan kepalanya. Niko sudah siap menikmati cum'buan dari istri mudanya. Niko berharap malam ini kembali merasakan gairah yang telah lama hilang. Hilang karena Fifah yang membuatnya enggan melayaninya, setelah tau kebenaran setatusnya hanya istri muda yang dijadikan alat pencetak bayi.
Fifah tidak langsung melaksanakan tugasnya ia masih enggan melakukan permintaan Niko. Terlebih melayani seperti dulu, pasti tidak akan bisa, yang mana ia akan terbayang dengan wanita lain. Rasanya pasti tidak akan sama, apalagi hatinya sudah membatasi diri dari Niko. Fifah bukan wanita bayaran yang bisa memuaskan laki-laki manapun tanpa rasa cinta.
"Fah, apa kamu memang sengaja ingin aku menghukummu fersi sungguhan?" tanya Niko, masih mersikap santai dengah tubuh terlenyangnya dan hanya kaki yang ia gerak-gerakan.
Fifah menggeleng lemah, menunduk dan memainka jari-jarinya.
Rio yang melihat pun semakin gemas. Dan..
Buuukkkk.... tubuh Fifah ditari dengan kasar oleh Niko, sehingga jatuh tepat di atas tubunnya. Niko langsung mengukung tubuh Fifah.
"Kamu makin kesini makin susah dikendalikan yah. Suka membangkang. Ingat Fah, Papah kamu masih butuh uluran tangan dariku. Kalo kamu tidak mau melayaniku karena setatusmu. Setidaknya kamu melayaniku karena baktimu pada Papahmu. Apa kamu mau aku memutuskan kucuran dana untuk pengobatan Papamu?" tanya Niko berbisik ditelinga Fifah, sengaja agar Fifah merasa terancam dengan ucapan Niko.
Fifah yang tidak bisa gerak karena kukungan dari Niko pun pasrah.
"Jangan Mas, jangan setop biaya berobat Papah. Fifah mohon. Baiklah Fifah akan mengikuti apa kemauan Mas." Fifah pun akhirnya mengikuti kemauan Niko. Ia akan mencoba melayani suaminya dengan sebaik mungkin, meskipun dalam hatinya sakit. Namun semuanya ia harus lakukan demi orang tuanya.
Fifah membuka pakaian tidurnya satu persatu, sehingga hanya menyiksakan sepasang pakaian dalam sajah.
"Buka semuanya!" Niko menatap lapar pada Fifah.
Fifah pun tidak protes, ia mengikuti kemauan suami me'sumnya. membuka dalamanya dengan gerakan menggoda. Bahkan Fifah sendiri pengin muntah melakukan gerakan itu.
Berbeda dengan Niko yang justru sangat menikmati gerakan Fifah, bahkan Niko menelan salivanya berkali-kali, karena tidak sabar melihat istrinya memainkan Senam Iramanya.
Setelah tubuhnya polos, Fifah pun bergantian membuka pakaian suaminya dengan sangat hati-hati mak sebuah porselin yang akan pecah bila disentuh dengan kasar.
__ADS_1
Helai demi helai pakaian Niko sudah Fifah lucuti dan buang ke sembarang arah.
Kondisi keduanya sudah saling polos bak bayi yang baru lahir ke dunia, tanpa pakaian. Fifah memulai aksinya dan Niko memejamkan mata dan menggigit bibir bawanya menikmati rasa yang satu minggu ini ia impikan.
Walaupun hati Fifah tengah sakit, namun Fifah bisa memberikan pelayanan yang sangat memuaskan bagi Niko. Terbukti Niko mencapai pelampiasanya sampai dua kali bak pengantin baru mereka bermain tanpa henti. Sebenarnya Fifah sudah sangat lelah dan ingin mengakhiri permainanan yang terus belanjut sampai pagi menyapa. Namun Niko masih ingin di layani bak seorang musafir yang tengah kehausan dipadang pasir dan mendapatkan air mineral. Mungkin itu gambaran Niko saat ini yang tidak ingin melepaskan Fifah begitu saja. Niko benar-benar menghukum Fifah dalam fersi kenikmatan.
Setelah mencapai pelepasan untuk yang kedua kali dan Fifah sudah tak terhitung entah sampai puncak kenikmatan berapa kali. Itu karena Niko yang pandai membuat Fifah hanyut dalam sentuhanya.
Tubuh kekar Niko ambruk di sisi tubuh Fifah yang dadanya naik turun dengan cepat karena sisa kenikmatan yang masih terasa.
Niko menarik tubuh lemah Fifah dalam dekapanya seolah Fifah adalah sebuah bantal guling yang empuk.
"Aku mau kamu melayani aku seperti ini. Bukan seperti mayat hidup yang diam sajah mendapatkan serangan dari suamimu, hambar." Niko berbisik ditelinga Fifah sembari mengu'lum kembali daun telingan istrinya. Sehinga rasa aneh kembali menjalar disekujur tubuh Fifah. Sedangkan Fifah sudah tidak bisa berkutik tenaganya rasanya sudah habis. Ditengah-tengah sisa kenikmatan bercintanya, ponsel Niko bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Dengan enggan dan tubugmh masih polos, Niko merain ponsel yang diletakan di atas nakas.
"Zoya." gumam Niko, yang masih bisa didengar oleh Fifah. Fifah pun menarik bibirnya menatap suaminya dengan sengit. Namun, tentu Rio tidak tau bahwa Fifah tengah menatapnya. Niko kira Fifah telah terlelap karena kelelahan akibat melayaninya.
[Hallo sayang, kamu udah bangun?] Niko dengan mesra menyapa Zoya. Sementara Fifah yang mendengarnya ingin muntah. "Cuuiih... najis sekali laki-laki mesum ini, padai berekting," batin Fifah.
[Hallo Mas, gimana kondisi Fifah? Apa dia masih sakit?"] tanya Zoya dari balik telepon dengan cemas.
[Sekarang sudah baikan sayang. Barusan sudah minum obat, dan sekarang tengah tidur,] jawab Niko berbohong. Sembari tanganya kembali mencari-cari mendan kenyal, seperti squishy milik Fifah yang sangat pas di telapak tanganya.
"Astagah, jadi dia membohongi istri pertamanya. Mana bilang aku sakit. Dasar laki-laki pembohong..." Fifah kembali bergumam, sementara matanya pura-pura tertutup. Agar Niko menganggap bahwa dirinya sudah tidur.
Niko kembali meletakan ponselnya, hari ini ia akan masuk kantor lebih siang. Pagi ini ingin ia habiskan dengan bermanja-manja dengan Fifah, sang boneka s*knya.
...****************...
__ADS_1
Hay Othor mau rekomendasiin novel besti Othor namanya ka Dhevy, yang keche badai. Cuz langsung ajah cari judulnya di laman pencarian. Jangan lupa sebelum baca, tekan Fav, Lalu setelah baca tekan like, dan komen. Hadiah jangan lupa ditinggalkan, biar othornya Happy...