
Di dalam mobil menuju rumah Kifayat...
"Cin, you itu mau ngapain sih ke sana? Lagian bukanya tadi you bilang kosong tuh rumah," tanya Meta dengan berhati-hati, sebab sepertinya Cyra itu tengah sensitif setiap di tanya jawabnya singkat banget bahkan saking singkatnya dia tidak tahu kalo nadanya juga seolah ia tengah marah. Meta yang tahu, di posisi Cyra tidak mudah pun hanya diam dan mengalah, sampai nanti moodnya kembali lagi.
"Aku mau jemput Qila, aku pernah janji kalo aku bebas dan mendapatkan kebebasan aku akan jemput dia, nah kali ini tercapai aku akan menpati janjiku buat menemui dia." Cyra sangat senang karena satu persatu temanya bisa berkumpul. Padahal dia tidak menyangka dulu, dirinya bisa seperti sekarang ini.
Walaupun ada kesedihan yang disebabkan oleh Naqi, namun setidaknya ada kebahagian lain yang membuat Cyra bahagia, dan bisa meninggalkan sedikit kesedihanya. Walaupun disaat mengingat kembali perceraianya ia akan kembali sedih dan murung.
Cyra hanya manusia biasa yang ada rapuh dan kecewanya. Dulu Naqi selalu bilang akan memulai dari awal dan berjuang bersama-sama. Naqi yang meminta Cyra menggenggam tanganya dan jangan di lepaskan. Namun justru kali ini Naqi sendiri yang memaksa melepaskanya padahal Cyra sudah benar-benar jatuh cinta dengan Naqi. Cyra sudah sangat berharap pernikahanya akan sama dengan yang lainya, bahagia sampai menua bersama dan memiliki putra putri yang lucu-lucu.
Keinginanya saat ini hanya satu yaitu Cyra ingin merawat ibunya dan ingin memantaskan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Di umurnya yang baru menginjak sembilan belas tahun saatnya mengejar karir dan menjaga ibunya. Cyra tidak ingin buru-buru mencari pengganti Naqi.
Tidak memerlukan waktu yang lama kini Cyra dan Meta sampai di rumah Tuan kifayat. Awalnya Cyra tidak diizinkan masuk atau menemui Aqila. Namun setelah Cyra menelepon Tuan Latif para pekerja pun memanggilkan Qila. Karena Cyra tidak mau masuk kerumah itu.
Cyra bahkan masih mengingat jelas setiap kekerasan yang dilakukan orang lain yang mengaku Papahnya. Di luar rumah saja dia masih bisa mengingat semuanya, apa lagi sampai masuk mungkin ia akan menangis histeris mengingat rumah penuh luka itu. Terlebih di rumah itu juga Mommynya disiksa sama seperti dirinya bahkan lebih parah lagi momynya sampai buta dan sakit keras. Ketika mengingat hal itu lagi kedua telapak tanganya mengepal sampai kuku-kukunya menancap hebat di telapak tanganya.
Setelah urusan Qila selesai Cyra berjanji akan segera menemui Kifayat dia ingin membuat perhitingan dengan laki-laki tua itu.
Dari balik gerbang Cyra melihat Qila berjalan menemuinya. Rasanya Cyra amat kangen dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Non Cyra, apa kabar?" Qila bertanya, tetapi dengan suara bergetar. Terlihat jelas kerinduan di diri Qila.
"Aku baik La, oh iya aku datang buat nepatin janji. Sekarang kamu ambil pakaianmu dan kamu ikut aku." Cyra meminta Qila melakukanya segera. Bukan takut akan ada yang memergoki aksinya dan mengira Qila akan kabur. Namun Cyra rasanya sudah tidak kuat berlama-lama berada di rumah itu.
Satu sisi Cyra ingin melihat ruangan yang berada di kamar Tuan Kifayat. Ruangan bawah tanah yang kakek bilang untuk menyekap Momynya. Sehingga tidak ada yang tahu kalo ada seorang anak manusia yang menunggu pertolongan.
Untuk membayangkanya saja Cyra merinding dan ingin langsung menangis. Apalagi kalo melihatnya langsung, bisa-bisa Cyra pingsan. memiliki trauma yang tinggi.
Mungkin lain waktu apabila ia sudah kuat menghadapai kenyataan ini ia akan datang lagi kerumah ini untuk melihat lokasi penyekapan mommynya, yang sudah Cyra bayangkan pasti pengap dan kumuh.
Qila tampak bingung karena dikira Cyra akan membawa kaburnya, mungkin.
Setelah Qila yakin. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah itu, untuk mengambil pakaian dan barang-barang yang di butuhkan nanti. Yang terpenting yang pokok sudah di bawa.
Cyra kali ini menunggu lumayan lama, yah Cyra sangat maklum mungkin saja Qila tengah berpamitan dengan yang lainya sembari menunggu Cyra pun mengobrol dengan Meta.
"Met nanti kamu tolong carikan rumah yah. Enggak usah terlalu luas yang terpenting nyaman. Enggak enak aku kalo numpang di rumah kamu terus. Mana ada Fifah dan ini tambah satu lagi anggota baru butuh tumpangan." Cyra sebenarnya yakin Meta dan Mamah Mia tidak keberatan, tapi apa salahnya ia membeli rumah sendiri biar bisa mandiri juga.
"Ngapain beli rumah cin. Rumah I'm masih cukup buat kalian bertiga. Lagian emang Mamah Mia mengizinkan? Paling susah minta izin dari Mamh Mia loh. Dia malah suka rumahnya rame." Benar saja Meta tidak mendukung Cyra untuk membeli rumah baru. Terlebih Mamah Mia juga pasti senang ketika di rumahnya banyak yang tinggal, pasti akan membuat beliau senang karena impian banyak anak terkabulkan.
__ADS_1
"Engga enak Met, kalo di rumah sendiri kan lebih nyaman lagian sekarang juga ada Qila kasian Mamah istirahatnya jadi terganggu karena banyaknya penghuni rumah."Cyra tetap ingin Meta membelikan rumah untuknya. Lagian kalo udah punya rumah sendiri kan gampang tidak harus memikirkan mau tidur di mana. Bukanya nanti juga setelah surat cerai antar Naqi dan dirinya keluar, dia juga harus pindah dari rumah itu.
"Ya udah, kalo you tetap memaksa I'm untuk beli rumah nanti I'm beli you tinggal tunjuk mau beli di mana? Dan model yang kaya apa? Biar I'm langsung esekusi cari rumah yang you mau." Meta pun tidak bisa menolak apa yang menjadi kemauan Cyra. Mungkin memang Cyra juga sudah memikirkan semuanya.
"Kalo aku mah bebas Met, tapi kalo bisa carinya yang dekat rumah kamu yah. Biar aku bisa nebeng kalo kerja. Kamu tau kan aku nggak bisa bawa mobil. Jangankan mobil sepedah ajah aku nggak bisa," kekeh Cyra yang geli sendiri dengan ketidak mampuanya membawa kendaraan apapun.
"Ya ampu cin. Kamu kasian banget. Masa nggak bisa bawa sepedah. Malu sama anak-anak komplek lima tahun udah bisa goes sepeda sendiri," ejek Meta yang tertawa renyah.
"Nah kan, kamu tahu alasanya aku pengin punya rumah yang deket dengan kamu. Biar aku mau kemana-mana bisa nebeng sama kamu. Kan kamu mah bisa bawa motor, mobil juga jadi aku bisa koling-koling kamu kalo lagi butuh tumpangan," ucap Cyra dengan tertawa jahil.
"Ya Alloh berasa jadi ojek pangilan ini mah," cicit Meta, tapi ia tetap akan mencoba cari rumah sesuai kemauan Cyra.
Mereka pun kembali menunggu Qila yang belum keluar juga. Mungkin Qila sedang berpamitan dengan yang lain sehingga ia lama di dalam sana.
Dasar umur panjang ketika tuh Qila, baru saja diomongin si Qila datang dengan membawa tas jinjing.
Cyra langsung memeluk Qila. Air mata keduanya tidak bisa dibendung, terutama Qila senang melihat Cyra yang sekarang. Tanpa sepatah kata pun Cyra dan Qila saling melepas rindu. Tidak ada kebahagiaan yang bisa mereka ucapkan semuanya sudah terwakilkan dengan saling berpelukan.
"Alhamdulillah terima kasih, satu permasalahan sudah selesai, tinggal permasalahan donor mata. Setelah itu mencari orang-orang yang bisa aku percaya untuk mengolah perusahaan yang orang tuaku tinggalkan. Setelah itu aku bisa pergi dari negri ini." Cyra pun tersenyum disaat dirinya membayangkan hal itu terjadi. Dia akan memulai lembaran baru dan meninggalkan semua kenanganya yang menuntunya ke tangga kedewasaan.
__ADS_1