
"Apa Tuan Latif tidak mengatakan sesuatu tentang keluarga kita? Tentang bisnis Papah mungkin? Atau tentang tempat tinggal kita?" tanya Fifah pada Cyra, ia sangat heran kenapa Tuan Latif merahasiakan ini semua. "Lalu apakah aku kalo bicara terus terang tentang semua ini tidak akan ada masalah nantinya," batin Fifah, ada bingungan. Takut nanti malah memperburuk suasana.
Cyra justru semakin heran dan semakin dilanda kebingungan. Pasalnya selama ini ia dan Kakek tidak pernah terlibat obrolan yang serius, ia akan mengobrol hanya hal ringan saja.
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi tolong katankan pada Cyra. Aku juga perlu tau apa yang sebenarnya masalah yang terjadi di keluarga kita. Cyra janji tidak akan marah dengan siapa pun. Cyra akan mencoba mencari kebenaran." Cyra yang sangat penasaran pun memohon pada Fifah agar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Fifah pun diam sejenak, mencoba mengambil keputusan yang tepat agar ia tidak salah dalam berucap. Meta yang tahu Cyra tidak baik-baik saja pun duduk di belakang Cyra dan mengelus-elus pundaknya. Menguatkan anak angkatnya. agar menjaga emosinya. Cyra pun mengerti maksud dari usapan Meta. Ia langsung menetralkan kembali perasaanya.
"Tapi kamu janji yah Cyra, tidak akan membenci kita. Kita sudah menerima balasan dari Tuhan jangan ditambah lagi dengan kebencian darimu." Fifah sebenarnya masih takut apabila nanti Cyra membencinya. Namun ia juga takut kalo nanti Cyra tahu fakta-faktanya dari orang lain, tentu lebih menakutkan, dan pasti Cyra juga semakin kecewa denganya.
Cyra pasti bisa marah besar dan membenci keluarganya.
"Kak, percayalah sama Cyra, Kakak cukup bercerita apa yang terjadi dan nanti Cyra yang mencari tahu kebenaranya." Cyra sangat tahu bahwa Fifah tengah ketakutan.
"Baiklah, Kakak akan bercerita." Fifah menjeda ucapanyq. Tidak hanya Fifah dan Cyra yang penasaran dan ikut tegang. Meta pun ikut merasakan ketegangan. Tanpa dijelaskan dengan detail oleh mereka, Meta sedikit-sedikit tahu apa yang terjadi diantara Fifah dan Cyra.
Syok, Meta juga syok apa yang terjadi diantara Fifah dan Cyra. Segitu Meta belum mengetahui detail dengan apa yang terjadi, hanya bagian luarnya saja yang baru Meta ketahui tetapi Meta sudah bisa menyimpulkan garis besarnya apa yang terjadi di antara adik dan kakak yang ia tolong, karena sama-sama di campakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Cyra sebenarnya kita bukan sodara kandung. Aku dan kamu tidak ada hubungan darah. Begitupun kamu dan Papah serta Mamah tidak ada hubungan darah." Fifah akhirnya mengatakan dengan terus terang apa yang ia tahu belakangan ini. Ketika papahnya jatuh sakit dan orang-orang suruhan Tuan Latif selalu meneror keluarganya. Mengakibatkan kondisi Tuan Kifayat semakin drop dan tidak bisa ngapa-ngapain. Fifah kembali menunduk, ia siap andai Cyra akan marah, ia sudah siap apabila Cyra akan memukulnya, Fifah pun sama ketika pertama kali tahu kebenaranya, sama ia syok, dan ingin marah karena ternyata papah yang ia kenal baik dan penyayang ternyata menyimpan banyak misteri. Menyimpan kejahatan yang sangat luar biasa.
Deg... detak jantung Cyra seketika itu berhenti berdetak. Ia bingung dengan apa yang di katakan Fifah. Andai ia bukan anak kandung dari Papah dan Mamahnya selama ini lalu siapa orang kandungnya, apakah mereka masih hidup. Begitu kira-kira pikiran Cyra saat ini.
Pertanyaan ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, ketika Papahnya sering memukulinya tanpa belas kasih, dan juga Mamahnya yang selalu tidak ada membelanya selama ia mendapatkan perlakuan kasar dari Papahnya. Namun kenapa ketika kebenaran terungkap Cyra merasa tidak percaya, dia ingin bahwa mereka adalah tetap sodara, tetap satu keluarga.
"Apa yang Kakak katakan benar? Lalu andai kalian bukan keluarga Cyra, di mana keluarga Cyra sesungguhnya. Apa ada yang Cyra tidak tau dengan semua ini?" Cyra dengan suara bergetar menginginkan jawaban yang memuaskan dari kakaknya Afifah.
"Untuk pertanyaan itu Kakak tidak bisa menjawab, karena Kakak memang tidak tau. Itu lah alasan Kakak bertanya pada kamu Ra, karena yang tahu semuanya adalah Tuan Latif. Kamu coba tanyakan saja sama Kakek suamimu karena yang kakek tahu perjodohanmu dan semua uang yang Tuan Latif berikan itu karena ada maksud tertentu dan yang tahu hanya Tuan Latif." Fifah tidak melanjutkan ceritanya karena ia pun takut salah kata, sebab ia tahunya juga karena tidak sengaja menguping obrolan antara orang suruhan Tuan Latif dan Mamahnya.
Cyra melirik jam dinding di mana di sana jam menunjukan pukul dua dini hari. Ia ingin menemui Tuan Latif dan menanyakan kebenaran ini semua.
Meta yang melihat Cyra depenuhi dengan kemarahan pun memeluk anak angkatnya itu.
Ketika Meta memeluk Cyra tangis Cyra pun pecah.
Sementara Fifah pun menunduk ia benar-benar bingung, apakah ucapanya salah. apakah dengan ia berjujur Cyra akan membenci keluarganya yang Fifah baru tahu bahwa Papahnya selama ini telah mengurung Mamah Kandung dari Cyra dan sampai mengakibatkan kebutaan dari perbutana papahnya. Marah, dan kecewa juga Fifah rasakan. Ketika tahu bahwa Papahnya adalah orang jahat dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta.
__ADS_1
Namuan Fifah memilih tidak menceritakan ini semua. Biarkan nanti Tuan Latif yang lebih berhak untuk bercerita dengan kondisi Mamah kandungnya Cyra.
"Kenapa Met, kenapa aku dipermainkan begini sama semuanya. Apa aku tidak boleh hidup bahagia dengan keluargaku. Aku merasa sangat di permainkan oleh keluarga dari Tuan Kifayat dan Tuan Latif. Cyra merasa dua keluarga kaya raya itu sengaja menjual belikan Cyra hanya untuk menambah pundi-pundi rupiahnya. Tanpa mereka tahu bagaimana menjadi Cyra, menjalani kehidupan tanpa keluarga sesungguhnya sangatlah berat. Belum lingkungan yang selalu menghina dan memperlakukan dia dengan tidak adil bahkan tidak manusiawi.
"Sabar cin. I'm tahu you pasti kuat menghadapi ini semua. I'm kenal you, wanita hebat yang pernah I'm temui. You pasti bisa melewati ini semua. Ingat you punya I'm yang akan selalu membantu you apa pun masalah you. I'm janji tidak akan melepaskan you. I'm akan selalu berada di samping you bagaimanapun keadaan you." Meta menepuk-nepuk punggung Cyra, agar Cyra kuat dan tidak bersedih.
"Terima kasih Met, terima kasih. Aku tidak tau bagaimana jadinya aku tanpa kamu di samping aku. Aku sangat bersyukur Tuhan kirimkan sayap pelindung untuk aku berwujud manusia seperti kamu." Cyra masih sedih, tetapi ia mencoba menguatkan dan mencoba menunggu esok pagi. Ia akan meminta penjelasan sejelas jelasnya pada Tuan Latif mengenaik keluarganya.
"Sama-sama cin. You itu udah I'm anggap keluarga, jadi you nggak boleh merasa tidak enak begitu." Meta melepas pelukanya dan menghapus lelehan air mata yang masih tersisa di pipi mulus Cyra.
"Jangan nangis lagi, kalo nangis terus kaya gini cantiknya hilang." Meta dengan telaten menghapus air mata Cyra, Meta pun yang melihat Fifah nampak murung, bergantian Meta mengambil alih duduk di tengah-tengah antara Fifah dan Cyra.
Seketika itu Meta memeluk Fifah dan Cyra masing-masing di kedua tanganya Fifah ditangan kiri dan Cyra ditangan kanan.
#Oh Meta beruntung sekali kamu memiliki dua wanita yang cantik-cantik....
(Jangan tanya Qari sama Alzam dulu yah, dua orang itu lagi di suruh kerja dulu yang bener, biar perusahaan Tuan Latif nggak bangkrut.)
__ADS_1