
Naqi yang mendengar mamihnya malah tertawa ketika dengar kabar yang ia bawa, tentu Naqi heran. Pasalnya ia akan mengira bahwa mamihnya akan bersedih dan Naqi takut kalo mamih kefikran dan jatuh sakit.
"Apa kalo Mamih tahu bahwa anak papih adalah Rania, Mamih masih bisa tertawa?" batin Naqi.
[Mih, apa Mamih tidak kaget dengan kabar yang Naqi sampaikan, kenapa malah Mamih tertawa seolah tidak ada beban. Apa Mamih sudah segitu tidak perdulinya sama Papih sampai dengar begini Mamih malah tertawa?] tanya Naqi masih dari sebrang telepon, dan dirinya pun masih berada di depan ruangan UGD. Menunggu penanganan pada Rania.
[Lalu Mamih harus bagai mana Naqi. Mamih harus bersedih dan menangisi kelakuan Papih kamu. Yang melakukan saja santai-santai saja bahkan membiarkan anaknya di mana saja. Lalu Mamih kamu harap menangis dan perduli sama mereka. Minta saja Papih kamu mengurus anak-anaknya. Jangankan Mamih yang notabenya berawal dari orang lain dan dijadikan istri. Kakek kamu saja, yang orang tuanya, sudah tidak perduli dengan Papih kamu kok," jawab Mamih berkata sesuai fakta. Di mana, dulu ketika mamih baru mengetahu kelakuan buruk suaminya beliau pun sama syok, kecewa dan meminta cerai.
Namun kakek menahanya dan meminta agar tidak cerai. Justru kakek memilih Lusan yang pergi dari rumahnya dan mengacuhkan apa pun yang anak laki-laki satu-satunya lakukan. Kakek meminta mamih tetap menjadi istri anaknya, tidak ada lain agar mamih tetap mendapatkan fasilitas dari keluarganya dan juga warisan dari dirinya.
Mungkin terkesan matre, tetap mempertahankan pernikahan demi materi, padahal sudah tidak ada cinta lagi. Bagi mamih tidak masalah, toh Luson tidak pernah ada di rumah keluarga besar Tuan Latif jadi tetap saja seperti tidak memiliki suami. Yang terpenting mamih bisa tetap bersama-sama dengan anak-anaknya, dan hidup bahagia dengan mertua yang sudah menganggap dirinya seperti anak sendiri.
[Tapi Mamih mau kan membantu Naqi. Kali ini saja Min. Naqi benar-benar ingin memberi pelajaraan sama laki-laki itu. Agar jangan kebiasaan menaburkan benihnya. Sehingga banyak anak yang tidak bersalah menjadi korbanya. Termasuk keluarga yang Naqi temui. Mana Ibu kandungnya sudah meninggal. Dia sekarang tinggal dengan keluarga angkatnya.] Naqi mencoba mengarang cerita agar mamih iba dan mau membantunya.
__ADS_1
[Mamih bisa saja membantu kamu, tapi mamih ko curiga kenapa kamu tiba-tiba peduli dengan orang lain, terlebih orang ini anak dari Papih kamu. Siapa memang anak itu? Apa sebegitu berartinya buat kamu Naqi?" tanya Mamih dengan penuh selidik.
Naqi semakin bingung, Naqi akui mamih memang tidak gampang untuk di kelabuhi, pikiranya terlalu kritis dengan hal-hal yang sensitif. "Ini bukan peduli dengan anak Papih, tapi Naqi ingin memberi pelajaran dengan Luson agar dia bertobat. Umur sudah tua. Mau berapa anak-anak yang lahir tanpa tahu siapa ayahnya. Mau berapa anak-anak yang datang pada Naqi dan bisa saja datang sama mamih mengaku anak Luson. Naqi muak Mih. Naqi harus membuat laki-laki itu jera. Kalo Naqi biarkan terus makin smena-mena dia. Awas saja kalo dia pulang sama keluarga, disaat dia sakit," ucap Naqi dengan geram.
Padahal dulu Naqi termasuk akrab dengan papihnya, dan papihnya pun mendukung hubungan dengan Rania. Satu-satunya orang yang mendukung hubunganya dengan Rania adalah papihnya. Yah, meskipun papih tidak pernah bertemu langsung dengan Rania. Papih kenal Rania dari Naqi yang kerap bercerita. Namun semenjak hari ini Naqi menjadi sangat benci papihnya.
[Hemz... baik lah kalo kamu memang rencananya seperti itu. Memang seharusnya Papih kamu diberikan pelajaran. Biar dia tahu gimana jadi para korban. Mamih sangat tahu mereka yang menjadi korban papih kamu. Mereka pasti sedih, bingung, dan kecewa. Apa lagi anak-anak mereka tidak tau apa-apa tetapi harus merasakan dampaknya juga. Mamih akan bantu cari tahu pada kakekmu di mana Papih kamu berada.] Pada akhirnya mamih mengikuti kemauan Naqi.
Setelah berbicang-bincang cukup lama dengan mamih membahas apa saja yang tidak terlalu penting dan juga sembari menghilangkan kejenuhan Naqi yang tengan menunggu Rania mendapatkan penanganan di ruang UGD, Naqi gunakan waktu menunggu itu untuk berkabar dengan mamihnya.
Naqi bahkan belum tahu apa pun yang menimpa Cyra, tetapi Naqi masih sangat yakin dan berharap bahwa dirinya bisa memperbaiki hubunganya dengan istri bocilnya.
Setelah cukup lama mengobrol dengan mamih, Naqi pun pamitan dengan mamih dengan alasan Rania tengah sakit. Eh... itu bukan alasan tetapi kenyataan. Memang pada kenyataanya Rania juga lagi sakit kan.
__ADS_1
Mamih pun memang mau langsung menemui kakek dan menanyakan mengenai Luson.
Begitu sambungan telepon teroputus.
Naqi pun menghirup nafas dan membunya perlahan. "Hah... lega akhirnya Mamih mau membantu mencari di mana Luson berada." Naqi bergumam dalam batinya ia benar-benar lega. "Selangkah lagi yah stelah urusanya dengan Luson dan Rania selesai Naqi akan pulang dan meminta maaf pada kakek dan Cyra. Aku akan buktikan tidak ada lagi penghalang cinta kita. Tunggu Mas yah Cyra! Mas akan memperbaiki hubungan kita," batin Naqi sembari tersungging senyum yang merekah dibibirnya.
Baru membayangkan bahwa ia akan bersama dengan Cyra saja rasanya akan sangat luar biasa bahagia. "Apa ini perasaan cinta yang sesungguhnya. Kenapa hatiku sangat bahagia manakala membayangkan akan hidup bersama dengan Cyra. Kenapa aku bahkan bisa membayangkan wajah Cyra yang tengah tertawa dengan renyah setiap ia berhasil mengerjaiku." Naqi bahkan di depan ruangan UGD tersenyum seorang diri.
Orang yang melihatnya mungkin ada yang mengira Naqi setres atau bahkan gila. Namun Naqi masa bodo ia tengah asik membayangkan momen-momen bahagia bersama Cyra, istri bocillnya. Yah satu-satu cewek yang bisa dengan santai mengerjaai Naqi, seorang bos besar.
Cewek lain jangankan untuk mengerjai Naqi untuk berjabat tangan saja mereka sungkan, tetapi Cyra berbeda, kadang dia jahil, lembut, baik tapi tidak jarang juga mengomel bahkan merajuk.
"Berati aku selama dua tahun lebih memiliki rasa sayang pada Rania, bukan sayang sebagai pasangan, tetapi rasa sayang sebagai adik dan kakak." Naqi sedetik kemudian berubah wajahnya menjadi masam, karena kebodohanya yang tidak bisa membedakan sayang sama pssangan dan sayang terhadap sodara.
__ADS_1
"Ra, Mas kangen banget... kangen kejahilan kamu, kangen senyum kamu yang malu-malu dan wajah merahmu. Kamu tunggu Mas yah. Mas janji begitu urusan Mas selesai. Mas langsung temui kamu. Kita akan memulai sesuatu yang baru dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi. Mas janji." Naqi lagi-lagi bergumam seorang diri dan tersenyum. Seolah ia tidak melihat ada banyak orang berlalu lalang di depanya, dan memeperhatikan adeh ke arahnya.