Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Salah Paham 'Meta'


__ADS_3

"Aku bukan baby loe. Aku bukan gadis bar-bar. Ngapain juga loe telpon gue? Dan loe dapat nomer telepon gue dari siapa?" bentak Qari dari sebrang telepon Deon.


"Sabar Baby, bahkan gue saja baru banget bangun tidur, masa ia udah kena omel loe Baby." Deon sepertinya sangat menikmati kemarahan Qari, bahkan tidak ada sedikit pun merasa takut.


"Gue nggak bisa sabar sama loe, gara-gara loe. Abang sama mamih gue marah, semua itu gara-gara loe," bentak Qari, bahkan saking kesal dengan Deon ia hampir lupa ada dua pasang mata yang tengah menatap heran ke arah Qari.


"Kalo gitu izikan aku meminta maaf yah, Baby gimana kalo nanti kita ketemuan, makan siang, atau mau makan malam sekalian kencan pertama?" tanya Deon nadanya penuh godaan sehingga Qari merasa jengah.


Tut... tut... tut...


Sambungan Qari putus sepihak, Abangnya tatapanya sudah mengandung samurai, kalau dilanjutkan obrolan dengan Deon bisa-bisa Naqi malah merampas telponya.


"Hahaha... baru kali ini ada gadis yang berani memutuskan sambungan telepon gue seenak jidatnya. Mana gue belum selesai ngomong," rutuk Deon sembari menghadap ponselnya, seolah Qari akan tahu bahwa Deon tengah mengumpatnya.


"Siapa?" tanya Naqi dengan dingin.


"Satpam yang ngonci gue di atap gedung," ucap Qari asal, entahlah ia dapat ide seenak itu dari mana.


"Satpam telepon loe, panggil Baby, sebut gadis bar-bar. Satpam mana yang berani tidak sopan seperti itu sama loe. Sebutkan dari perusahaan mana biar gue kasih pelajaran," ujar Naqi, sebenarnya Naqi tahu bahwa yang telpon bukan satpam. Mana mungkin satpam berani berkata setidak sopan begitu. Terlebih Qari bukan tipe gadis yang mudah di dekatin.


"Apaan sih Abang, nggak usah dibahas lah, orang iseng itu paling. Salah saambung," eles Qari malas membahas Deon.


"Satpamnya ganteng?" tanya Naqi lagi, sembari melempatkan senyum isengnya.


"Ganteng sih, tapi ngeselin," jawab Qari, saking emosinya ia tidak sadar bahwa pertanyaan Naqi itu jebakan.

__ADS_1


"Tajir?" tanya Naqi lagi, kepalanya ia gerak-gerakan naik turun, seolah tengah melakukan riset dan telah menemukan jawabanya.


"Tajir, kayaknya kalo di lihat dari penampilan dan gayanya, bukan orang biasa," jawab Qari terlalu polos.


"Kalo gitu pepet," bisik Naqi sembari menepuk punggung adiknya. Agar Qari sadar bahwa pertanyaanya tadi adalah jebakan. Sudah jelas dan terjawab bahwa mungkin yang Qari sebut itu satpam hati.


"Abang... Pokoknya Bambang Al tetap nomer satu, biar jelek, miskin dan fisiknya berbeda. Alzam tetap ter lope-lope, di hati Qari hanya terukir nama Alzam seorang," pekik Qari ketika tahu bahwa abangnya itu tengah mengerjainya. Sementara Cyra yang dari tadi menyimak dan menahan tawanya pun langsung dia menyembur, tidak bisa lagi menahan tawanya. Entahlah Qari benar-benar polos. Cukup dengan satu pancingan dia akan larut dalam pertanyaan berikutnya.


Qari yang kesal sama abang dan kakak iparnya pun langsung merebahkan diri lagi dan menutup selimut tebalnya sampai menutupi wajahnya. Naqi dan Cyra pun sama karena mereka merasa masih mengantuk, sehingga mereka merebahkan badanya lagi dan kembali merajut ke alam mimpi.


*****


"Astagah ini anak Perawan sama bujang belum pada bangun, ini udah jam berapa apa kalian nggak malu bahkan ayam ajah dari subuh udah pada bangun. Naqi, Qari, Cyra bangu! Kalian bener-bener yah. Mamih dari tadi nungguin depan pintu nggak ada yang dengar kalo bel bunyi. Untung ada petugas yang bisa bantu mamih bukain pintu kamar kalian." Mamih yang baru masuk kamar hortel melihat ketiga anaknya yang masih berlomba bermimpi pun tidak kuasa lagi, jiwa emak-emaknya langsung menyeruak dan bibirnya langsung mengucapkan mantranya. (Bayangkan nada dan gaya bicaranya kaya emak-emak warga +62 kalo lagi ngomelin anaknya)


Qari, dan Naqi yang memang sudah biasa mendengar mamihnya dengan suara yang syahdu itu pun menutup telinganya dengan bantal, sementara Cyra duduk bersandar di dasbord dari pada kena omel lagi kan.


"Terus dua anak bandel ini?" tanya mamih dengan menunjuk anaknya.


"Kalo mereka memang malas bangun," ucap Cyra sengaja agar mamih marah lagi, kan jadi ramai, dan adik kakak ini pun akhirnya pada bangun.


Namun nampaknya Qari sama Naqi benar-benar cape sehingga mereka tetap dengan tidurnya yang menyenyak. Sedangkan Cyra dan mamih memilih ngobrol santei.


Brak... Suara pintu yang di dorong dengan kencang. Benturan pintu dengan dinding, berhasil menarik paksa Naqi dan Qari dari alam mimpinya.


"Siapa sih, enggak bisa banget apa liat orang lagi santai tidur di ganggu terus," bentak Naqi.

__ADS_1


"Kalo ngajak ribut, ayo gue jabanin, resek banget orang lagi tidur juga." Qari tidak mau kalah mengumpat orang yang berhasil membuatnya terbangun.


Mamih dan Cyra yang sedang duduk di atas ranjang pun kepo siapa gerangan pagi-pagi yang bikin rusuh.


"Mana Naqi, gue sunatin lagi loe, macem-macem ajah ngajak Cyra ngenep-ngenep di hotel. Modus itu," omel Meta, mungkin mamih dan Qari tidak kelihatan sehingga si Dadynya Mesy mengira kalo Cyra hanya tidur berduaan dengan Naqi.


Orang-orang yang sebelumnya ada di kamar itu pun heran dengan ucapan Meta, terlebih Naqi. Matanya melirik jengah lagi-lagi si Meta yang jadi biang keroknya.


"Ini ada apa Met?" tanya mamih dengan suara yang mendamaikan.


Meta tetsentak kaget ketika melihat ada mamihnya Naqi. "Loh kok ada Mamih, terus Qari juga. Kalian tidur satu kamar?" tanya Meta wajahnya merah padam, mungkin dia malu, tapi kalo di pikir-pikir kayaknya Meta udah nggak punya rasa malu deh. Jadi wajah merah padam mungkin tetiba Meta mulas.


"Loe pikir gue nginep hanya berdua sama Mas Naqi? Pikiran kamu sudah keseringan malam jumat, jadi bawaanya ngeres mulu, bersihin tuh pikiran biar enggak kotor," cicit Cyra, rasanya gemas sekali memang kadang-kadang sama Meta. Terlalu cemasan, padahal kan Cyra itu juga baik, dan Naqi juga nggak mau di cap jadi cowok jahat.


"Hehehe... Abisan kamu nggak ngomong," bela Meta sembari menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Dengan gaya tanpa dosanya.


"Kayaknya bukan aku yang enggak jelasin, tapi kamu yang nggak mau dengerin ucapan aku, ponsel langsung kamu matiin tadi kan," sela Cyra agar Meta jangan kebiasaan parno.


"Hehe... Iya maaf, abis I'm terlalu takut you di apa-apain sama nih laki," ujar Meta sembari menyengir kuda.


"Sama gue enggak minta maaf Met, tadi mau nyunat katanya, nih." Naqi menggerakan tanganya hendak membuka resleting celananya agar benda pusaka yang kokoh bisa menampakan wujudnya.


"Eh... Enggak gitu konsepnya Bambang, kalo kaya gitu sih tandanya pengin," ujar Meta sembari menggerakaan telapak tanganya sebagai tanda agar Naqi jangan melanjutkan aksinya. Lah Meta mah enggak doyang yang bentuk pedang, dia doyanya yang berbentuk bukit berlembah.


Naqi tertawa renyah lagian mana mungkin ia menunjukan benda keramatnya, selama ini hanya Cyra yang pernah melihatnya. Dan tidak akan ada lagi yang melihat beda bermanfaat itu, apalagi Meta tentu tidak akan diizinkan. Naqi pun langsung pergi kekamar mandi dia tadi membuka kancing celananya karena kebelet pengin BAK (Buang air kecil).

__ADS_1


"Sue gue di kerjai Naqi. Awas ajah Naqi, balasan gue lebih tidak mengenal perasaan lagi," umpat Meta dalam hatinya.


Laki-laki setengah gemulai itu pun akhirnya pamitan sama Cyra, mamih dan Qari.


__ADS_2