
Naqi turun dari kamarnya menuju meja makan di mana keluarganya tengah menikmati sarapan. Dendangan lagu samar terdengar dari bibir s*ksinya yang merah, karena ia tidak merokok sehingga tidak membuat bibirnya meninggalkan bekas nikotin dari rokok yang dihisap.
Hatinya sedang di taburi dengan bunga-bunga indah yang wangi. Semalam ia sudah bertukar kabar dengan wanita incaranya. Kalau pagi ini Naqi akan mengantarkanya kerja.
Ehemz... Deheman dari kakek sebagi sambutan karena di pagi ini Naqi kembali sarapan bersama di meja makan setelah sebelumnya ia selalu makan dan aktifitas lain sebagainya di dalam kamarnya.
"Pagi Kek, Mih dan semuanya," sapa Naqi dengan ramah. Namun seperti biasa antar Naqi dan Rania memang jarang terlibat obrolan, bukan benci mungkin hanya canggung karena kisa cinta mereka di masa lalu.
"Loe udah sembuh Bang?" tanya Qari, udah tentu hanya sekedar basa basi. Karena tanpa di tanya juga udah kelihatan bahwa Naqi di hari ini super sehat dan ceria.
"Udah," jawabnya singkat tanpa melihat ke adiknya. Satu lembar roti dan selai kacang ia ambil sebagai menu sarapan hari ini. Mamih nampak heran dengan Naqi yang nampaknya sangat bahagia sekali.
"Qi, kamu kayaknya bahagia banget mau kemana?" tanya Mamih, tatapannya meminta kejujuran dari anaknya.
"Kerja dong Mih, emang mau kemana kalo udah pake setelan kemeja kaya gini?" tanya balik Naqi, tentu kerja setelah jemput dan antar si Eneng Cyra maksud Naqi.
Mamih pura-pura percaya meskipun pada kenyataanya beliau masih mengganjal dan tidak begitu percaya dengan jawaban anaknya itu.
"Mih, Kek, Naqi berangkat kerja dulu yah," pamit Naqi.
"Sepagi ini Naqi?" tanya Mamih heran, bahkan ini belum jam setengah tujuh jam kantor di mulai dari jam delapan, biasanya Naqi akan berangkat jam tujuh lewat itu pun sudah jadwal terpaginya.
"Iya Mih, ada urusan sedikit," elaknya merahasiakan apa yang akan dia lakukan sebelum benar-benar berangkat kerja.
__ADS_1
Laki-laki yang baru sembuh dari sakitnya pun berlalu dengan langkah kaki yang riang. Qari yang merasa curiga pun tidak tinggal diam. Adiknya itu curiga kakaknya akan memepet mantan kakak Iparnya, wanita setengah tomboy itu tentu merasa hambar kalo tidak mengerjai Abangnya.
"Abang tunggu!! Kita berangkat kekantor bareng!" pekik Qari, tubuhnya buru-buru diangkat dari duduknya, ia segera berpamitan dengan kakek dan mamihnya. Hanya dengan kakek dan mamih karena Rania sudah jelas dianggap tidak ada oleh Qari. Wanita berumur dua puluh lima tahun itu masih belum sudi berdamai dengan Rania. Sehingga kehadiran Rania tidak pernah dianggapnya. Dan Rania sangat sadar itu.
Naqi menoleh ke belakang. Melihat adik yang usil tengah tergopoh menghampirinya, ia pun panik rencana pagi ini pasti gagal kalo adiknya ikut satu mobil denganya. Langkah kaki seribu Naqi keluarkan.
Hap... Hap... Hap... Abangnya itu pun lari lebih cepat dari Qari menuju mobilnya, ditekan remot mobil sehingga pintu mobil sudah terbuka. Begitu laki-laki berumur tiga puluh tahun sampai di depan pintu mobil, tanganya dengan gesit membukanya dan tidak lupa menguncinya secepat kilat sebelum Qari sampai.
Qari yang larinya kurang cepat sedikit pun tertinggal. Brakkk... Barakk... Ceklek...krekk...suara pintu mobil yang di pukul dengan kencang oleh Qari dan adiknya mencoba membuka pintu mobil Abangya. "Sial dia udah baca rencana gue," umpat Qari kesal dengan Naqi.
"Abang buka! Mobil gue mogok gue numpang sampai kantor," pekik Qari dari luar sembari tanganya tetap memukul kaca pintu mobilnya.
"Cih... Emang gue bodoh apa, mobil bukan hanya satu. Alasannya pasaran," balas Naqi dari dalam mobil dan tentu suaranya tidak di dengar oleh Qari. Mobil pun perlahan meninggalkan Qari yang kesal karena ia tidak bisa mengganggu Abang dan calon kakak iparnya.
"Kok balik lagi?" tanya mamih heran.
"Abang enggak mau kasih tumpangan," jawabnya dengan bibir manyun dan kembali menyuapkan nasi dan lauk ke mulutnya.
Mamih terkeh dalam diam, Qari benar-bener menuruni sifat dari dirinya, dulu ketika mamih muda pun otaknya selalu diisi oleh kejahilan-kejahilan. Rasanya sehari tanpa menjaili teman atau sodaranya berasa hambar hidupnya. Dan kini Qari merasakanya juga.
****
[Ra, aku udah di depan rumah kamu] itu pesan yang Naqi kirim sama Cyra. Memang sebelumnya Naqi yang memaksa untuk menjemput Cyra dan mengantarkanya kerja. Alasanya pasti sebagai ungkapan rasa terima kasih karena Cyra tetap peduli denganya.
__ADS_1
Cyra yang di chat terus menerus pun akhirnya memberikan alamat rumahnya. Dan kini Naqi sudah berada di depan rumah Cyra. Rumah bercat putih dua lantai yang nampak asri dengan banyaknya tanaman kesayangan mamah Mia dan mommy Ezah tertata dengan rapih. Rumah itu tidak terlalu mewah, sangat jauh dengan rumah kediaman tuan Latif. Namun walaupan tidak mewah tetapi di dalamnya diisi oleh keluarga cemara.
Cyra yang tengah sarapan ketika ponsel di atas meja bergetar pun dengan gesit menyambar ponselnya dan membuka benda berbentuk pipih tersebut. Senyum mengembang dari wajah cantik nan imutnya.
Orang-orang yang ada di meja makan pun nampak heran dengan kelakuan Cyra, sangat berbeda dengan biasanya yang akan cuek ketika ponselnya berbunyi, bahkan tidak jarang Cyra mematikan ponselnya karena tidak ingin di ganggu. Tapi pagi ini pemandangan aneh terjadi di depan mereka, sang Cyra yang biasanya cuek dengan benda pintar itu tiba-tiba sejak beberapa hari kebelakang menjadi benda yang tidak pernah tertinggal. Bahkan setiap ada notif pesan masuk ia akan dengan segera membukanya. Apa yang terjadi dengan Cyra? Itu yang menjadi pertanyaan orang-orang yang kini memperhatikan Cyra dengan tatapan bertanya.
Cyra segera beranjak dari duduknya, sarapan yang masih setengah ia tinggalkan. "Mom, Mah semuanya Cyra berangkat kerja dulu yah," pamitnya dengan memberi salam satu-satu. Tanpa menunggu lama Cyra meninggalkan keluarganya yang masih mematung di meja makan.
"Ra, kan I'm masih disini. You mau berangkat dengan siapa?" Pekik Meta yang baru tersadar dengan apa yang terjadi barusan. Biasanya ia akan menjadi sopir pribadi Cyra dan Qila. Berangkat dan pulang kerja Meta akan menjadi sopir bagi dua wanita itu. Meta tidak percaya dengan orang lain karena bagi dia Cyra dan Qila juga tanggung jawabnya. Dia adalah bodygard buat wanita-wanitanya. Ada lima wanita yang selalu ia jaga, tanpa membedakan. Fifah sangat tahu itu dan ia tidak cemburu dan melarangnya. Dia tahu suaminya itu memang penyayang terutama wanita malang, Fifah sangat paham yang dilakukan pada Qila dan Cyra hanya sebatas tanggung jawab sebagai Abangnya. Meta sangat bisa menjaga perasaan wanitanya. Sehingga Fifah tidak pernah ada acara ngambek atau cemburu dengan dua wanita yang tidak ada hubungan darah itu. Karena tahu hati Mas Wawan sudah terpenjara olehnya.
Cyra menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Ada teman Cyra yang jemput diluar Met," jawab Cyra dengan malu dan ragu, seolah tidak ingin keluarganya tahu siapa yang ada diluar rumah, Cyra pun kembali membalikan badanya dan buru-buru melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Kalo terlalu lama takut di tanyai macam-macam.
Meta dan yang lain saling lirik, kepo. Brukkkk... orang-orang yang sebelumnya duduk di meja makan lari secara bersamaan menuju jendela yang ada di samping pintu. Di mana jendela itu menghubungkan pemandangan langsung ke depan pagar. Bahkan kekompakan mereka jangan diragukan lagi, seolah diberi aba-aba sehingga kompak maksimal.
"N 4 QI" ucap mereka serentak, menghafal nomor kendaraan yang sempat mereka lihat sebelum kendaraan mewah yang Cyra naiki melesat menembus jalanan ibu kota.
Tanpa di tanya pada Cyra, Meta dan Fifah tentu tahu siapa pemilik kendaraan dengan harga miliaran itu.
...****************...
Sembari nunggu othor up bab baru, mampir yuk kenovel bestie othor! Wajib banget mampir yah, jangan lupa tekan fav sebelum baca biar tidak ketinggal notif, beri juga dukungan buat othornya yah biar semangat up bab baru...
Selamat membaca....
__ADS_1