Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kesadaran yang terkikis


__ADS_3

Pemandangan sore hari menjelang magrib memang pemandangan yang sangat indah untuk dinikmati disaat seperti Qari saat ini. Cahaya senja yang keorenan mampu merilekkan pikiran Qari yang akhir-akhir ini sangat bulet seolah benang kusut yang sulit untuk di urai. Qari duduk di kursi santai yang ada di balkon dengan di temani satu gelas jus jambu biji dan juga satu toples cemilan yang bibi bawaakan barusan. Namun suasana yang sangat nyaman itu tidak membuat suhu tubuhnya dingin. Padahal tidak ada cahaya matahari dan juga angin sepoy-sepoy seharusnya mampu membuat tubuh Qari sejuk dan terasa dingin, tetapi tidak seperti sore ini tubuh Qari lama makin lama semakin sulit untuk di kendalikan, Hawa panas di tubuhnya membuat ia ingin membuka bajunya.


Rasa aneh yang ada di tubuhnya semakin menguasai Qari, akal Qari bahkan di penuhi dengan keinginan bercinta. Daerah sinsitif dan bukit kembarnya mengeras dan itu menandakan bahwa Qari ingin di jamah oleh tangan lawan jenis.


"Sial, apa aku salah makan atau Deon sengaja melakukan ini terhadap aku," rutuk Qari yang terus menerus merutuki nasibnya yang sangat memprihatinkan. Gadis itu mencoba masuk ke dalam ruangan dan mengecilkaan suhu dari alat pendingi ruangan bahkan suhunya ia setel dengan paling kecil dengan tujuan bisa menyejukan tubuhnya yang semakin tidak bisa di kontrol.


Namun lagi-lagi alat itu seolah tidak ada gunanya dan tidak berguna sama sekali. Ah, mungkin alat itu langsung rusak karena Qari yang menyetelnya dengan suhu yang paling kecil sekaligus, sehingga bekerja semakin berat.


Brraakk... Brakkk... Brakkk... Qari menggedor pintu kamar mandi yang terkunci, entah berapa kali Qari menngedor pintu itu hingga suara bising terdengar dari dalam sana. Sementara Deon yang kedua matanya terpejam di dalam bathtub dengan menikmati essentil oil aromat terapi yang menenangkan fikiran, kaget tetapi sedetik kemudian dia menarik ujung bibirnya dan membiarkan bibir tebal nan seksinya terkembang sempurna. Tawa renyah mengisi ruangan kamar mandi itu, tetapi sedetik kemudian dia lagi-lagi menahan tawa itu agar Qari tidak mendengarnya.


"Akhirnya kamu sendiri yang datang kepadaku untuk aku nikmati tubuh itu, Qari. Kamu tidak akan bisa menolak peaona aku, karena kamu malam ini adalah tawananku," batin Deon, dia mengangkat tubuh polosnya bangun dari bathtub dan menyambar handuk berwarna putih. Lalu ia membuka pintu, yang semakin sering dan keras Qari menggedornya.


"Deon buka pintunya aku sudah enggak kuat," tolong buka pintunya sekarang, Deon. Kalau tidak gue bakal terus teriak-teriak dan gedor ini pintu," teriak Qari dari balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Bisa enggak sih loe itu jangan gangu gue, Orang lagi mandi saja masih loe gang...


Brrrakkk... pintu terdorong dengan keras karena Qari yang langsung merangsak masuk tanpa memperdulikan Deon yang hampir ia tabrak. Shower adalah tujuan utama Qari ia menyalakan shower dengan suhu air yang dingin dan tekanan yang tinggi, Qari berharap rasa panas dan rasa yang aneh menguasai tubuhnya hilang. Kedua paha terus Qari gesek-gesekan seolah ia tengah menahan rasa kebelet membuang hajat. Kurang lebih sepuluh menit Qari mengguyur tubuh dengan wajah yang semakin memerah karena rasa aneh itu dan kini  justru rasa aneh itu kembali dwtang dan lebih dasyat lagi. Baju yang menempel di tubuh Qari sudah basah kuyup. Jangan di tanya lekuk tubuhnya tercetak sempurna dengan baju yang basah seperti itu.


Sementara Deon dengan tatapan lapar terus memperhatikan Qari yang sedang berjuang untuk menghilangkan efek obat itu, dan Deon semakin puas. Karena dia tahu bahwa Qari tidak akan berhasil dengan usahanya,  Qari akan semakin di kuasai dengan nafsu yang akan semakin membuat tubuhnya tersiksa. Karena obat yang Qari minum adalah dosis tinggi dan tebaik di dunia. Dia mendatangkan obat itu saja harus dari luar negri.


Tanpa sadar tangan-tangan lentik Qari sudah melucuti pakaianya yang sudah basah itu, Fikiranya masih setengah sadar ia melakukan itu. Qari kembali terisak. Dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya yang meremang bahkaan daerah sensitifnya menginginkan kepuasan yang tidak pernah dia rasakan. Tetesan air mata yang hangat menuruni pipinya dengan deras.


Gleekkk... air liur berusaha Deon telan ketika di hadapanya tubuh mulus Qari terpapang dengan jelas dengan guyuran air shower yang masih terus mengalir dari atas kepalanya. Senyum kemenaangan terliat di wajah tampan Deon. Malam ini dia bukalah manusia yang memiliki hati tetapi dia adalah monster yang tengah menyamar menjadi manusia.


Senjata keramatnya sudah menegang sempurna bahkan menujukan tonjolan yang sempurna di balik handuk putihnya. Qari dengan pikiran kesadara yang tersisa mencoba menatap Deon dari ujung kepala dan ujung kakinya. Yah laki-laki itu tengah menikmati tubuh telajang Qari.


"Obat apa yang loe masukan ke dalam makanan gue?" tanya Qari dengan sisa kesadaran yang hampir terkikis dengan nafsu dunia dan menginginkan kepuasan dari senjata Deon.

__ADS_1


Deon berjalan dengan mengoda dan melepaskan handuk penutup tubuhnya. Kali ini mereka sudah sama-sama telanjang, tanpa satu helai benang pun yang menutupi tubuhnya.


"Itu hanya vitamin, yang mungkin saja papihmu menaburkanya di minuman almarhum kakaku," jawab Deon dengan menarik pinggang Qari agar bersentuhan kulit denganya.


"Gila loe." Qari yang masih sedikt bisa berfikir normal, akan mencoba menampar Deon tetapi laki-laki itu langsung mengkap pergelangan tangan Qari dan mendorongnya sampai mentok ke dinding. Bibir Deon menyentuh paksa bibir Qari hingga Qari benar-benar hilang kesadaranya . Qari yang sekarang adalah Qari yang menginginkan tubuhnya di jamah. Bahkan Qari lebih banyak mengimbangi permaian dengan Deon. Dan ciuman panas itu menandakan bahwa Qari sudah benar-benar tidak sadar dengan rasa apa yang terjadi dan menguasai tubuhnya.


Mereka saling melepaskan tautan bi-bir ketika nafas si rongga dadanya sudah semakin sesak. Qari menangis tetapi tubuhnya semakin mengeliat semakin tidak bisa ia kendalin. Terlebih ketika tangan Deon mulai menyusuri setiap inti tubuhnya.


Era-ngan dan rintihan samar lolos dari bibir Qari.


"Apa kamu sudah siap kita menjelajah nirwana kenikmatan, surga dunia?" lilih Deon sembari memainkan telinga Qari.


Dan Qari mengangguk dengan semangat seolah dia sudah tidak kuat lagi ingin Deon melakukan tugasnya. Namun laki-laki itu tidak akan langsung menuju pada titik tujuanya. Dia akan menyiksa Qari dengan rasa keinginan yang tidak tersalurkan. Lalu Deon akan duduk menunggu Qari menghampirinya dan memu-askan dengan caranya sendiri seolah dia adalah wanita paling rendah di muka bumi ini.

__ADS_1


__ADS_2