Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Akan Terbiasa Tanpa Kamu


__ADS_3

Di rumah Tuan Latif...


Cyra yang baru pulang kerja, langsung di sidang oleh Kakek dan Mamih.


"Kamu kemana saja Sayang, terus Naqi kemana?" Mamih lebih dulu bertanya pada Cyra. Namun Cyra tidak menjawab pasalnya ia pun tidak tau di mana keberadaan suaminya juga kan.


Cyra hanya menunduk, ia memainkan jari-jemarinya untuk menghilangkan kegugupanya. Entah ia akan berkata apa, ia takut salah jawab nanti malah menimbulkan perdebatan di dalam keluarga ini.


Bertepatan dengan itu datang Qari, dengan wajah lelahnya.


"Abang nggak masuk kerja Kek, hari ini Qari harus kerja sangat berat. Lagian kemana sih tuh anak, mana di telepon nomornya tidak aktif." Qari datang-datang udah ngoceh sembari meletakan bokongnya di atas sofa yang empuk. Qari yang tidak tau mereka tengah membahas apa, otomatis membuat kakak dan mamih menebak ada hal yang tidak beres dengan rumah tangga anak, cucunya.


"Eh ko ada kakak ipar, Abang mana Kak, pengin gue seleding dia. Ngerjain gue banget deh pasti dia." Qari pengin ngasih pelajaran pada Naqi yang mengira bahwa ia sengaja bolos kerja untuk mengerjai dirinya.


"Cyra, jelaskan pada Kakek apa yang terjadi dengan kalian," ucap Kakek dengan nada penuh penekanan.


Qari yang melihat ketegangan di sekitarnya jadi bingung. Ia mencoba diam untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan keluarganya.


"Maaf Kek, bukanya Cyra tidak mau menceritakan apa yang terjadi antara aku dan cucu Kakek. Cyra pun sampe sekarang masih bingung apa yang terjadi di antara kami. Kejadianya sangat singkat dan Cyra tidak tau selanjutnya, sebab tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Mas Naqi." Cyra mencoba menjawab seadanya dan wajah menunduk, ingin ia menangis, tapi ia tahan agar keluarganya Naqi tidak menebak-nebak lebih parah dengan apa yang terjadi diantara mereka.


Mamih mendekat pada Cyra dan mengusap punggungnya. Hal itu ia lakukan agar Cyra lebih tenang. Mamih menebak memang anaknya yang membuat situasi jadi seperti ini.

__ADS_1


Kakek pun mengepalkan telapak tanganya, nampak sekali kemarahan di raut wajah tuanya. Cyra sebenarnya tidak mau berada di situasi yang seperti ini, tetapi memang ia juga bingung ketika di cecar pertanyaan yang membuatnya untuk bercerita mmebuat ia lepas kontrol dan menceritakan semua kejadianya. Walaupun hanya intinya saja tetapi kakek sudah bisa menebak apa yang terjadi pada keluarga Cyra.


Setelah mendapat jawaban dari Cyra, kakak pun meminta cucu menantunya agar naik ke kamarnya dan beristirahat. Untuk urusan Naqi nanti kakek yang akan membantu mencari jalan solusinya


Cyra pun patuh saja dia masuk ke dalam kamarnya. Memang pada kenyataanya ia juga capek, lelah fisik belum fikiranya pun ikutan lelah.


Cyra mengira bahwa Naqi sudah pulang, tetapi ia salah. Naqi justru belum pulang dan ponselnya pun ternyata tidak aktif. Cyra terlalu eggan dengan Naqi sehingga tidak tau bahwa suaminya juga mematikan ponselnya.


Dalam fikiran Cyra yang berniat akan istirahat malah justru teringat kembali Naqi.


"Di mana sekarang kamu Mas? Kenapa kamu jadi begini sih? Kamu sangat-sangat mengecewakan aku," ucap Cyra sembari duduk di tepi ranjangnya. Ia melihat ke sekeliling kamarnya. Kamar yang sudah tujuh bulan ia tempati bersama Naqi. Di mana di kamar ini Naqi dan Cyra banyak melewati hari-hari bahagianya. Di mana di sini banyak berbagi suka duka. Di kamar ini biasa Cyra maupun Naqi yang sering berbagi kisah bahagia maupun haru yang terjadi di kehidupan mereka. Sampai saling menguatkan dan saling berjanji, bahwa mereka akan terus bersama walau badai menghadang. Namun janji itu Naqi sendiri yang melupakanya. Naqi sendiri yang menarik Cyra dari dasar jurang, tetapi setelah sampai di atas Naqi juga yang mendorongnya ketempat yang lebih dalam lagi.


Cyra mencoba merebahkan tubuhnya rasa capek dan banyaknya fikiran ia coba tenangkan dengan memejamkan matanya. Sedetik kemudian Cyra pun terbuai dengan mimpinya.


****


"Pah, menurut Papah itu gimana? Apa yang terjadi dengan keluarga Naqi dan Cyra. Mamih cemas dengan kondisi Cyra. Apa Naqi memutuskan kembali ke kekasihnyan Pah." Mamih dengan cemas membuka pertama obrolan diantar mereka.


Qari yang memang tidak fokus pun kembali memfokuskan dirinya. Ia meliha antara Kakek dan mamihnya secara bergantian. Qari juga sebenarnya memiliki kecurigaan kearah sana, tetapi ia lebih menyerahkan segala pertimbangan pada keluarganya. Karena dia berfikir kalo yang dewasa yang lebih pantas memberikan keputusan. Dia hanya menyimak dan akan berpendapat apabila dibutuhkan. Wih udah dewasa nih Qari....


"Papah mengiranya sih begitu, sebab Cyra tidak biasanya ia akan begini. Kakek nggak ngerti jalan fikiran anak kamu. Kenapa dia selalu menomor satukan kekasihnya itu dari pada istrinya. Biar nanti kakek yang akan cari tahu dulu kebenaranya. Setelah itu baru Kalek akan ambil keputusan buat anak kamu." Kalek pun jadi pusing dengan kelakuan Naqi.

__ADS_1


****


Tengah malam Cyra terbangun karena hawa dingin dari pendingin ruangan dan jendela yang ternyata masih terbuka membuat ia terbangun, terutama tubuhnya yang ternyata hanya meringkuk di atas kasur tanpa menggunakan selimut.


Cyra menatap tempat di mana Naqi biasa tidur. "Kosong." Cyra hanya tersenyum getir ia menatap jam yang ternyata sudah lewat pukul dua dini hari. Namun Naqi belum pulang juga.


Seketika dada Cyra kembali sesak ia menyembunyikan wajanya di atas lipatan kedua kakinya.


"Kenapa Mas? Kenapa kamu nggak pulang dan kasih kejelasan padaku, pada keluargamu. Aku bingung mau jawab apa, aku takut salah jawab. Tolong pulang beri kami jawaban dari keputusanmu," isak Cyra sembari tetap menyebunyikan wajahnya. Rasa ngantuk telah menguai entah ke mana. Cyra beranjak dari ranjangnya ia berjalan ke arah jendela yang membuat angin malam yang dingin masuk kedalam kamarnya dan membangunkan dirinya dari tidur nyamanya.


Cyra berdiri dibalik jendela dan menatap ke luar, ia berharap bisa menenangkan fikira, tetapi kembali gagal. Hidupnya sudah kacau ia bingung mau memulai semuanya dari mana.


****


Di tempat lain Naqi masih setia menunggu Rania yang baru tertidur karena perutnya lagi dan lagi merasakan nyeri.


"Iya bukan tidak mau pulang menemui keluarganya, tetapi ia cemas meninggalkan Rania seorang diri. Bahkan ia sangat kurang tidur, karena ketika ia baru tidur sebentar selalu terbangun oleh ringisan Rania.


Naqi sudah menyarankan dan meminta agar memanggil dokter, tetapi Rania selalu menolak.


Naqi pun akhirnya tanpa sepengetahuan Rania menelepon Sam, tetapi Naqi meminta agar Sam tidak membocorkan kondisi dan keberadaan Rania. Karena Naqi tau bahwa Rania juga mendapatkan perlakuan buruk dari Adam. Hal itu lah yang memicu sakitnya Rania kembali kambuh. Itu semua Naqi tahu karena Rania memang yang menceritakan kejadian sebelum dirinya ditelpon oleh Rania.

__ADS_1


Naqi yang awalnya tidak keberatan ketika Adam mendekati Rania. Namun setelah mendengar penuturan Rania, ia jadi kesal dan marah juga pada Adam.


__ADS_2