Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Menunggu Mangsa


__ADS_3

Uhukkk... Qari tersedak karena mendengar ucapan Deon. Laki-laki yang duduk di hadapan Qari pun buru-buru mengambil air minumnya yang sudah di campur dengan serbuk obat yang biasa ia simpan di dalam dompet mahalnya. Serbuk obat itu bahkan ia datangkan khusus dari luar negri untuk mendukung semua rencanaya agar tidak gagal.


"Minum ini!" ucap Deon seolah wajahnya di likupi rasa cemas. Qari tanpa pikir panjang langasung menyambar dan meminum air yang Deon sodorkan, hingga hampir tandas. Ia menepuk-nepuk dadanya yang sedikit pengap dan panas.


"Lagian kenapa sih loe ceroboh sekali, kalo terjadi apa-apa dengan loe dan nanti gimana apalagi kalo loe mati di apartemen gue bikin repot lagi?" oceh Deon tanganya mengambil tisu dan mengelap sisa air yang ada di bibi Qari.


"Ini itu gara-gara loe. Eh, tapi emang benar yah loe itu bos perdagangan narkoba dan hecker yang handal?" tanya Qari dengan suara dikecilkan dan seolah matanya tengah memindai ke segara arah yang mungkin saja ada mata-mata polisi. Gadis itu masih penasaran dengan ucapan Deon itu, meskipun dalam otaknya tidak percaya dengan yang Deon katakan.


"Hahaha... jadi loe kesedak hanya karena ucapan gue tadi, gila apa gue, sampe-sampe gue ngelakuin kerjaan kotor kata gitu, Qari. Lagian kalo emang gue ngelakuin kerjaan semacam itu loe pikir gue mau cerita sama loe? Ya enggak lah, gue nggak bakal bercerita sama si mulut bawel dan bocor kayak loe itu, yang ada gue nanti tiba-tiba diciduk karena kejujuran loe," dengus Deon sembari masih ada wajah ke gelian dengan dugaan Qari itu.


"Ya abisan loe itu wajahnya susah di tebak. Gue enggak tahu loe ngomong lagi bercanda atau lagi serius," bela Qari, dia merasa ada landasan dirinya untuk menanyakan hal itu dan juga membela diri ketika teepojok.


"Udah ah, jangan bahas yang enggak penting itu, ayo kita lanjutkan makanya. Karena habis ini bakal butuh tenaga yang banyak," ucap Deon sembari tersenyum menyeringai. Laki-laki itu sudah tidak sabar ingin membuat hukuman pada Qari dan menaklukan gadis itu di atas pembaringan.

__ADS_1


Qari pun tidak banyak protes dia pun mengikuti apa kata Deon, melanjutkan makan siangnya yang tertunda. Bahkan sekarang sudah hampir malam mereka baru melakukan makan siang. Perut Qari yang memang sudah sangat lapar pun langsung melahap lagi makanan yang ada di atas piring. Terlebih makanan itu sangat lezat sehingga sayang apabila tidak di makan dan tidak di habisi. Tidak membutuhkan waktu lama Qari sudah menghabiskan makanan itu dan kini perutnya sudah kenyang dan aman sampai besok pagi.


Deon menatap Qari dengan lapar. Dia sudah tidak sabar ingin membuat perhitungan pada  Qari. Obat yang dia campurkan ke dalam minuman yang gadis itu minum memang tidak bekerja dengan cepat tetapi efeknya akan sangat lama dan kuat. Sehingga Deon akan aman memuaskan hasratnya dengan membuat permainan panas sampai berkali-kali. Bahkan mungkin sampai Qari tidak berdaya lagi di bawah kukunganya.


"Gadis bar-bar, loe mau mandi dulu atau nanti ajah. Gue mau mandi soalnya kalo loe mau mandi bareng sama gue ayo," ucap Deon sembari tersenyum jahil dan menaik turunkan alisnya.


Qari langsung melotot dan melebarkan pandanganya, dia sangat malas dengan Deon yang selalu menyebalkan itu. "Masa iya gue harus mandi bareng dengan laki-laki durjana itu. Mending kembali tidur," batin Qari dengan pandangan di buang ke luar jendela yang menggambarkan betapa tingginya apartemen yang Deon tepati.


"Loe mandi sendiri ajah, susah banget mau mandi juga," dengus Qari sembari beranjak bangun dari duduknya. Meninggalkan piring-piring bekas dia dan Deon makan.


"Enggak bakal, gue enggak bakal melakukan itu. Harga diri gue tinggi," ucap Qari sembari membuka pintu yang menghubungkan balkon dan kamar Deon. Qari berkata bahkan tanpa melihat Deon dan laki-laki itu pun masuk ke kamar mandi, ia ingin berendam dalam bathtub. Entah mengapa setelah ia mencampurkan obat perangsang itu, laki-laki itu seolah merasa bersalah dan merasa tidak tenang. Dalam batinya bergejolak. Antara syetan yang jahat dan baik mereka seolah tengah berperang. Yah, Deon bukan laki-laki bodoh dan di umurnya yang ke tiga puluh tahun dia juga bukan laki-laki polos yang tidak pernah mengenal cinta. Dia juga berkali-kali merasakan indahnya jatuh cinta, dan memang yang ia alami pada Qari adalah tanda-tanda dia tertarik pada anak dari musuhnya itu.


Namun karena dendamnya yang teramat dalam pada orang tua Qari sehingga ia mencoba menepis pikiran baiknya. Dia tahu bahwa Deon sudah mulai goyah niatnya, karena rasa tertarik pada Qari, terlebih sifat dan sikap Qari yang membuat Deon semakin tertarik dengan gadis itu, sehingga semua rencana di persingkat oleh Deon, karena apabila mengikuti rencana awal, bisa-bisa Qari lolos dari alat untuk membalas dendamnya karena hatinya yang sudah di kontaminasi dengan perasaan cinta.

__ADS_1


Tubuh telanjanya ia benamkan di dalam air yang sejuk matanya ia rapatkan, ia dengan perasaan tidak tenang tidak sabar menunggu reaksi obat itu, dan nanti Qari lah yang akan datang menghampirinya untuk meminta dirinya yang menjamahnya. Bahkan otak kotornya sudah membayangkan tubuh polos Qari meliuk-liuk di atas tubuhnya, dan dengan rengekan manja meminta untuk terus di puaskan.


Senjata keramatnya sudah mengeras dan bangun seolah dia tahu bahwa sebentar lagi rasa laparnya akan dituntaskan. Deon bukan laki-laki suci. Bahkan dia tidak segan-segan akan mencari wanita bayaran apabila ia menginginkan penyatuan. Sehingga membayangkan tubuh Qari yang memang indah meliuk dihadapanya, senjata keramatnya langsung memberikan sinyal bahwa benda itu ingin segera di pu-askan.


Di setiap Deon memikirkan Qari pada saat bersamaan juga ia memikirkan gimana nasib kakaknya dulu memiliki hubungan dengan laki-laki jahanam itu. Entah gubungan yang kakanya jalani adalah hubungan saling suka atau kakanya di paksa melayani kakek-kakek itu.


Namun yang Deon tahu kakak wanitanya cukup depresi ketika mengetahui bahwa dirinya berbadan dua. Apalagi ketika laki-laki yang membuatnya hamil tidak mau bertanggung jawab, semuanya menjadi semakin rumit. Di mana laki-laki itu justru pergi entah kemana. Dan membuat kakanya memilih mengambil jalan pintas.


Deon tahu semua kisah kakaknya ketika dia membaca deary yang kakanya tulis. Bahkan dari sana juga Deon tahu siapa laki-laki yang membuat kakanya meninggal. Yah foto-foto kebersamaan kakak dan laki-laki itu cukup untuk mengetahui seperti apa wajah pembunuh berdarah dingin itu.


...****************...


Readrs bantu pilih dong kira-kira bulan depan enakan publis kisah Qari dulu atau kisah duo dokter(Di novel Beauty Clouds) kasih saran di komen yah....

__ADS_1




__ADS_2