
Pagi hari ini, di rumah Meta terasa lebih ramai, pasalnya Cyra dan Qila sudah bangun lebih pagi. Mereka yang sudah terbiasa kerja pun sejak subuh sudah bangun, dan bersiap membantu Mamah Mia.
Sementara Fifah juga ikut terbangun karena kegaduhan yang mereka buat, tetapi Fifah tidak sibuk seperti yang lainya di mana mereka saling membantu Mamah Mia di dapur untuk memasak sarapan.
Fifah yang tengah hamil pun hanya duduk dan sesekali membantu yang ringan-ringan. Setelah semua selesai, mereka pun sarapan bersama terlihat kebahagiaan di rumah sederhana itu. Walaupun sederhana, tetapi mampu membrikan kesan yang nyaman untuk penghuninya.
Berbanding terbalik dengan rumah Tuan Latif. Rumah yang biasnya di pagi hari merupakan hari berkumpul buat seluruh anggota keluarganya. Sudah beberapa hari ini rumah itu sepi. Bakhan anggota di rumah itu kini jadi lebih pendiam. Seperti pagi ini, sudah dua hari semenjak Cyra memutuskan lebih memilih tinggal di rumah Meta. Qari pun tidak lagi ikut sarapan bersama, di karenakan dia harus buru-buru ke kantor. Semenjak kantor di tinggal Naqi. Qari dan Alzam di bantu Mirna, mereka harus bekerja super lebih keras lagi.
Qari yang biasanya bermalas malasan pun semenjak di tinggal Naqi dan ia menggantikan posisi Naqi, lambat laun Qari menjadi gadis yang bisa diandalkan. Qari selalu tanggung jawab dengan pekerjaanya. Qari juga sudah beberapa kali memimpin rapat dengan hasil yang cukup memuaskan, meskipun Alzam juga harus bekerja keras untuk semua ini.
Di meja makan sudah dua hari ini hanya ada kakek dan mamih. Keduanya pun saling diam, tidak ada obrolan diantara mereka. Mamih sibuk dengan fikiranya masing-masing. Kakek juga sama sibuk dengan fikiranya mengenai semua yang terjadi antara Naqi dan Cyra.
Terlebih Cyra memutuskan akan meninggalkan negara ini. Kakek yang sudah tua ini justru dipersulit dengan banyaknya masalah dengan yang cucunya bikin.
Selesai sarapan Cyra dan Meta berangkat kerja, untuk sementara Qila tidak kerja dulu. Karena memang Cyra belum membagi kerjaan apa yang kira-kira Qila bisa kuasai. Cyra akan menempatkan Qila di perusahaan yang kakek berikan untuknya, tetapi Cyra harus berunding dengan orang-orang kepercayaan Kakek. Untuk mengetahui kemampuan Qila seperti apa.
Untuk saat ini Cyra hanya harus sabar dan berhati-hati dalam mengambil sikap. Tetap fokus agar pikiranya tidak terpecah belah dengan pemikiran yang di luar rencananya.
__ADS_1
Cyra bener-benar berubah. Ketika dia dulu ada hal apapun bisa dibicarakan dengan Meta atau apapun yang lain, kini ia lebih nyaman semuanya di pendam seorang diri.
"Met, nanti antarkan aku menemui Tuan Kifayat yah. Aku ada sesuatu yang akan aku bicarakan dengan laki-laki itu," Cyra mecah keheningan di antara mereka.
"Mau ngapain sih cin, you ke rumah Kifayat. Lagian bukanya dia udah jahat sama you. Enggak usah lah you peduliin dia lagi. Biarin dia dengan kehidupanya. You juga dengan kehidupan you yang lebih bahagia dari dia tentunya." Meta tidak ingin Cyra terbebani pikiran dengan Tuan Kifayat itu.
Yah, Meta sudah tahu dengan apa yang terjadi diantara keluarga Cyra alami dengan Tuan Kifayat juga. Namun Meta tentu tidak tahu bahwa Cyra memiliki dendam pada Tuan Kifayat. Cyra ingin membalaskan semua penderitaan yang ibunya alami.
"Enggak apa-apa Met, aku hanya ingin menemui Tuan Kifayat, bagaimana pun mereka dulu masih mau merawat aku, setidaknya aku ingin mengucapkan sepatah atau dua patah kata sehingga beliau tidak merasa menyesal telah memilih aku untuk mengakui anaknya.
Meta pun pasrah saja mengikuti kemauan Cyra.
Setelah pulang kerja, benar saja Meta dan Cyra langsung menuju alamat yang Fifah kasih. Setelah mencari dan mutar-mutar dengan apa yang ia cari kini Cyra dan Meta sampai di alamat yang Fifah berikan.
Untuk kesan pertama Cyra sedikit iba ketika melihat rumah Tuan Kifayat apa adanya dan cukup sederhana. Cyra meminta Meta tetap di dalam mobil. Cyra tidak ingin Meta mengetahui pembicaraan mereka.
Cyra meninggalkan Meta yang menunggu di mobilnya. Ia berjalan dengan tegas memasuki rumah itu. Setelah beberapa kali mengetuk rumah yang di tempati oleh Tuan Kifayat dan mamah Daima.
__ADS_1
Pintu pun dibuka setelah cukup lama Cyra mengetuk dan mengucapkan salam. Entah memang penghuninya tidak mendengar atau memang mereka enggan menerima tamu. Namun karena Cyra yang terus mengetuk pintu itu terus-terusan, akhirnya Mamah Daima membukakan pintu untuknya.
"Eh... kamu Ra? Kamu tahu alamat rumah ini dari siapa?" tanya Daima dengan suara terbata, dan kaget mengetahui Cyra yang datang.
"Fifah. Fifah yang memberi tahu bahwa Papahnya ada di rumah ini. Ngomong-ngomong di mana Tuan Kidayat, nyoyah?" Cyra benar-benar tidak menganggap mereka orang tua lagi.
"Cyra apa kamu sudah tahu semua dengan apa yang suami saya lakukan? Kenapa Mamah melihat Cyra yang sekarang berbeda dengan Cyra yang dulu." Daima memberanikan diri bertanya pada Cyra apakan dirinya sudah mengetahui semua perbuatan suaminya. Sebab Daima melihat Cyra yang sangat berbeda.
"Memang mau Anda, saya harus bagai mana nyoyah? Seperti dulu yang diam saja ketika kalian siksa, gitu? Maaf nyonyah Daima, Cyra yang lemah sudah mati, yang ada sekarang adalah Cyra yang datang kemari mau meminta keadilan. Meminta semua kejelasan dengan semua yang sudah suami Anda lakukan pada Mommy saya. Di mana Tuan Kifayat berada sekarang. Karena saya tidak bisa berlama-lama disini." Cyra tidak mau terpancing dengan sikap Daima yang sok manis di depanya.
Setelah berdebat, dengan Daima. Yang dia ngotot tidak ingin suaminya di temui oleh Cyra, dengan alasan kesehatan. Cyra pun setelah mengeluarkan jurus ancaman akan melaporkan kasus ini kepada polisi akhirnya Daima pun mau mempertemukan Cyra dengan Tuan Kifayah.
Kesan pertama yang Cyra lihat tentu kaget melihat orang yang mengaku papahnya dulu terbaring lemah di atas kasur sederhana. Namun di sisi lain hatinya tidak bisa bohong ada rasa bahagia ketika melihat orang yang paling ia benci terbaring di atas tempat tidur tak berdaya tinggal menunggu ajalnya.
"Nyonyak bukanya suami Anda hidup hanya sebagai beban kekuarga. Apa Anda tidak kasihan dengan anak Anda, yang ikut sedih dengan kondisi ini. Lebih baik suami Anda mempertanggung jawabkan perbuatanya dan serahkan kedua mata suami Anda ke pada Mommy saya. Bukankah setidaknya itu sedikit lebih adil buat Mommy saya," ucap Cyra yang membuat Tuan Kifayat maupun Nyonya Daima melotot. Tuan Kifayat memang seperti mayat hidup tetapi kedua matanya masih bisa melihat dengan jelas, sehingga Cyra ingin meminta kedua mata Tuan Kifayat sebagai ganti atas mata Mommynya yang buta karena kelakuan laki-laki itu.
"Ma... maksud kamu apa Cyra? Kamu mau membunuh suami saya?" tanya Daima dengan tatapan memelas, dan terbata karena syok. Dia tidak menyangka bahwa Cyra tega melakukan itu semua.
__ADS_1
"Sepertinya suntik mati lebih bagus buat suami Anda. Dari pada hudupnya hanya menambah beban hidup Anda, dan Fifah tentunya." Cyra tidak mau berbasa basi lagi. Dia ingin meminta pertanggung jawaban dari Kifayat, atas perbuatanya.