Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Pulang


__ADS_3

Luson yang mendengar jawaban Rania, putrinya. Merasakan sesak di dadanya, baru kali ini ia merasakan sesak yang seperti ini. Di mana ia membayangkan kalo ia bisa di terima oleh anak dari Nasila, tetapi justru kenyataanya Rania membenci Luson.


"Katakan Papih harus bagai mana agar kamu mau maafin Papih?" tanya Luson dengan nada dan wajah memohon. Cukup lama Rania diam, mungkin ia bingung atau terlalu malas untuk sekedar menjawab semua pertanyaan papihnya.


"Bawa Rania pulang, kenalkan pada keluarga besarmu. Tuan Latif dan yang lainya harus tahu Rania." Naqi kali ini yang menjawab pertanyaa Luson, setelah tahu Rania tidak bisa menjawab pertanyaan Papihnya.


"Tapi itu tidak bisa Naqi, tidak mungkin" jawab Luson dengan tegas, seolah tidak mau mengenalkan Rania senbagai anaknya,


"Kenapa tidak bisa? Rania anak kamu bukan, kenalkan dong sama kakek. Bagai mana pun dia cucunya juga bukan? Kamu sebagai orang tua harus kasih contoh yang baik. Ajak Rania pulang jelaskan setatusnya, dan kamu tanggung jawab dengan biaya hidupnya. Dia butuh perawatan yang mempuni dan itu biyayanya tidak murah. kamu sebagai orang tuanya harus mau menanggung semua kebutuhanya. Tanggung jawab, jangan cuma mau bikin setelah jadi anak manusia kamu tinggalin begitu sajah. Bahkan untuk mengelkan dengan keluarganya kamu takut. CEMEN!!! sekali Anda jadi laki-laki Tuan Luson yang terhormat." Naqi langsung menceramahi papihnya.


Bagi Naqi bagaimana pun kelakukan Luson, kakek pasti akan memaafkanya, karena Naqi tahu betul sifat kakek yang tidak suka mengubar kejelekan orang lain. Naqi juga sama-sama akan berusaha mengambil maaf dari kakeknya, dan Luson kalo mau bisa bersama-sama dengan Naqi meminta maafnya.


"Papih akan coba membawa Rania untuk pulang kerumah kakek, dan Papih akan tunjukin pada kalian kalo papih memang layak di menjadi papih yang baik," ucap Luson dengan percaya diri.


"Syukur kalo mau membuktikan, tetapi ingat jangan hanya coba yang kemungkinan untuk gagal sangat besar. Bersiaplah untuk melewati perjuangan Pih," balas Naqi dengan senyum meledek.


Di saat itu juga Naqi meminta surat rujuk berpindah rumah sakit untuk Rania. Yah Naqi memutuskan Rania dibawa pulang saja kerumah kakeknya, setelah setatusnya di kenalkan ke keluarganya. Naqi akan membawa kembali kerumah sakit yang sejak dari dulu merawat Rania.

__ADS_1


Walaupun Naqi tahu bahwa Rania seolah engan dan tidak mau untuk dijak pulang bahkan untuk berkenalan pada keluarganya, seperti kakek, mamih, dan Qari.


Mungkin Rania merasa asing dan tidak dianggap sehingga ketika Naqi perkata akan pulang dan di perkenalkan dengan kelurganya Rania seolah malas dan murung. Setelah melewati proses yajng panjang dan cukup melelahkan, Naqi membawa kabar gembira bahwa sore ini Naqi dan yang lainya sudah bisa pulang ke Jakarta. Dengan alasan bahwa Rania agar secepatnya dibawa kembali untuk menjalani pengobatan.


Namun sepertinya kabar gembira itu hanya untuk Naqi, pasalnya ketika ia menyampaikan kabar itu, baik Rania maupun Luson terlihat murung berbeda dengan Naqi yang sangat bergembira dan semangat karena akan bertemua dengan Cyra.


Naqi melihat wajah Luson tidak bersemangat mungkin sebenarnya ia enggan untuk menemui keluarganya, hanya karena paksan dari Naqi, Luson akhirmnya mau mengikuti saran dan kemauan Naqi. Yah, Naqi meminta agar Luson memperkenalkan Rania sebagai anaknya, karen suka atau tidak suka Tuan Latif, Rania adalah cucunya. Terlebih Luson mengatakan bahwa dirinya menikah siri dengan Nasila yang berati Rania cucu dari pernikahan anaknya. Bukan cucu di luar nikah. Yah walaupun pernikahan mereka hanya siri, tetapi bukanya nikah siri di dalam agama diizinkan.


Sepanjang perjalanan pun baik Rania maupun Luson tidak terlibat obrolan apapun dan Naqi pun mengikutinya. Ia tidak mengobrol juga sehingga di dalam mobil seperti di dalam kuburan. Dan juga perjalaanan pun seolah menjadi lebih panjang dari sebelumnya.


Setelah melewati perjalanan yang panjang Naqi pun sampai di ruamah Tuan Latif. Naqi sengaja datang di jam sarapan agar mereka tengah berkumpul sehingga Naqi bisa memberika semua pengumuman itu dengan langsung di depan anggota keluarga inti.


"Akhirnya kamu pulang juga Naqi. Tapi buat apa kamu pulang setelah semuanya hancur. Mau meminta restu. Dari awal sampai kapan pun kami tidak akan memberikan restu untuk kalian," ucap Tuan Latif yang langsung meletakan sendok dan garpunya di atas piring.


Kakek sudah tidak bernafsu makan. Berbeda dengan mamih dan Qari yang tetap mengunya. Perinsif mereka kalo memang masih lapar ya kunyah terus biarpun gempa bumi melanda. Seperti sekaraang, yang suasana sarapan tegang tetapi dua manusia itu tidak tergoyahkan, tetap makan sampai perut kenyang.


"Maafkan Naqi kek, Naqi benar-benar khilaf, Naqi tidak akan menikah dengan Rania, karena Rania adalah anak Luson dengan wanita lain,"bucap Naqi langsung tanpa berbasa basi.

__ADS_1


Uhhhukkk... uhhhukkk.... Baik Qari maupun Mamih tampak syok. Mereka secara bersamaan meletakan sisa makanan yang bahkan tinggal beberapa suap lagi.


"Apa yang loe bilang Bang, kenapa bisa dia anak papih?" tanya Qari yang syok, Kakek pun tak kalah syok. Ternyata anaknya benar-benar membawa anak-anaknya ke rumah ini. Sementara Luson diam mematung. Kali ini dia berada di situasi yang mengerikan. Ia mungkin tidak membayangkan bahwa perbuatanya akan membawanya kesituasi yang yang menjijihkan.


"Kamu tanyakan saja sama Luson," jawab Naqi sembari melirik papihnya, yang masih berdiri seolah murid yang tengah si setrap oleh gurunya.


"Tujuanya kalian membawa dia kemari apa?" tanya Qari lagi yang memang dari dulu Qari tidak suka dengan Rania, bahkan Qari menyebut Rania nenek lampir. Dari semua yang ada di sana cuma mamih yang diam mematung hanya menerima masukan dan jawaban serta kesimpulan kakek. Mamih sejak tadi memperhatikan Rania yang sangat terlihat sekali wajahnya pucat dan sepertinya Rania tengah menahan sakit sehingga keringat sebiji sagung mulai keluar dari tubuhnya.


Mamih yang notabenya orangnya dingin keras, tetapi ia baik tidak tegan pun mendekat kearah Rania yaang duduk diatas kursi roda.


"Kamu istirahat saja di kamar, biarkan semua orang menyelesaikan masalah ini," ucap mamih dengan mengambil alih kursi roda Rania dan mendorongnya.


Mamih membawa ke kamar tamu yang berada di lantai bawah, Mamih mencoba membaringkan Rania diatas kasur. Biarpun sebenarnya Rania bisa melakukanya sendiri.


"Terima kasih tante buat bantuanya,' ucap Rania dengan lirih.


Mamih hanya mengangguk,, " nanti kalo butuh sesuatu panggil sajah, sekarang mamih mau kedepan lagi menyimak apa yang mereka putuskan. Kamu cepat sembuh," ucap Mamih sebelum pergi meninggalkan Rania.

__ADS_1


Kini giliran Rania yang membalas dengan anggukan Rania tidak menyangka bahwa ia akan diperlakukan dengan baik oleh mamih dari Naqi. Yang berati ibu tirinya.


__ADS_2