
"Meta... Kamu kenapa sih, bikin malu aku ajah, apa sebegitu enggak punya uangnya kamu sampai harus memalak sama Naqi?" sungut Cyra begitu ia masuk ke dalam rumahnya. Tentu setelah mobil Naqi hilang ditelan sepertigaan jalan.
"Loh, siapa yang malak sih, aku kan cuma kasih tau. Jadi kalo dia mau kesini enggak harus bingung-bingung mau bawa sogokan apa lagi, anggap ajah aku lagi kasih bocoran buat dia," jawab Meta dengan enteng, bahkan bicaranya saja tidak jelas hal itu karena di dalam mulutnya penuh dengan makanan. Seolah dia takut enggak kebagian sehingga mulutnya di penuhi dengan makanan yang ada di hadapanya itu.
Terlebih masakan khas sunda yang dipilih Naqi sangat juara, menu unggulan cumi bakarnya, gurame bakar, ikan asin sambal terasi dan macam-macam lalapan dan nasi liwetnya, benar-benar membuat mulut tidak bisa berhenti bergoyang. Bahkan Meta lupa sudah habis nasi berapa centong.
"Itu enggak ada bedanya, Meta," dengus Cyra. Namun bokongnya di lempar juga ke kursi. Cyra mengambil satu piring dan kembali mengisi piring kosong itu dengan nasih liwet dan menu pendampingnya. Naqi memang memesan dalam jumlah banyak. Buktinya biarpun sudah di makan oleh mamah Mia, momy, Qila dan pasangan suami istri Meta dan Fifah. Makanan itu masih cukup untuk tiga orang lagi.
"Loh, kamu belum makan cin?" tanya Meta sembari sedawa, karena perutnya yang sudah kenyang setelah nambah sampai dua kali.
"Belum dua kali," jawab Cyra sekenanya.
"Haha, pasti kamu jaim kan makan di depan Naqi sok imut, makan sedikit padahal masih lapar," tebam Meta, tentu sajah tebakanya salah.
"Dih, ngapain jaim, kalo lapar mah hajar terus. Mas Naqi juga udah tahu kok, kalo Cyra itu makanya banyak dari dulu," jawab Cyra santai. Namun kalo sekarang sudah lapar lagi bukan berati dia makanya sedikit karena jaim sesuai dengan dugaan Meta. Itu memang karena setok makanan di perutnya udah habis, sehingga harus diisi ulang.
"Oh, iya sayang ngomong-ngomong sejauh apa hubungan kamu dan Naqi?" tanya Mommy, tadi mereka mengobrol memang tetapi hanya obrolan basa basi dan salam pertemua biasa. Rasanya tidak enak kalo langsung menodong keseriusan. Sementara mereka saja baru bertemu. Namun tidak bisa di pungkiri bahwa mommy tentu ingin tahu sejauh apa hubungan putrinya dengan mantan suaminya itu.
"Masih tahap pendekatan Mom," jawab cyra dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Apa masih ada yang membuat kamu ragu dengan kesetiaan Naqi?" tanya mamah Mia di mana, mamah Mia lebih tahu dengan kisah Cyra di masa lalu. Sementara mommy lebih tau berdasarkan cerita saja.
"Untuk saat ini sih tidak ada mom, hanya saja Cyra ingin tahu sejauh apa keseriusan Naqi dengan Cyra," jawab Cyra dengan wajah menunduk, rasanya masih belum percaya bahwa ia akan kembali menjalin hubungan dengan mantan suaminya itu. Sekeras apapun Cyra berusaha melupakan Naqi, tetapi justru hatinya seolah semakin tertarik ke dalam hubunganya dengan Naqi.
"Iya cin, kalo perlu kamu pendekatanya yang lama dan sering-sering Naqi bawa kesini," sela Meta, sembari terkekeh ringan. Disusul kekehan yang lain juga. Cyra tentu tahu maksud dari ucapan Meta tersebut.
Niatnya sih mengerjai Naqi, tetapi rasanya kurang pantas juga apabila harus memanfaatkan kesempatan demi sebuah keuntungan. Begitu kira-kira yang ada di pikiran Cyra. Sementara Meta tahu bahwa kalo memang niat Naqi seriuz, hanya sebuah makanan seperti itu tidak akan ada tandinganya dengan cinta Cyra.
"Biar tiap hari dapat sogokan ia kan?" sindir Cyra dengan tatapan yang seolah akan mencabik-cabik Meta.
"Itu juga karena Naqi yang menawrkanya cin," bela Meta. Yah tentu Naqi yang menawarkanya, karena Naqi yang memulai memberikan sogokan makanan yang sekarang sedang mereka nikmati. Andai bukan Naqi yang menawarinya tentu Meta tidak akan memanfaatkanya.
****
"Sekarang gue kasih dua kesempatan. Satu loe diam dan duduk di kursi (Deon menunjuk kursi yang tadi didudukinya) sampai ada satpam atau bantuan datang dari luar. Atau nomor dua, gue cium loe sekarang juga. Dan kita akan menjadi pasangan kekasih. Dan loe bisa keluar," ucap Deon matanya menatap tajam Qari dan kedua tanganya masih ada di sisi kanan dan kiri kepala Qari.
"Nomor satu, gue pilih nomor satu," jawab Qari, tanpa berpikir apa-apa lagi. Masa bodo kena omel abangnya. Dari pada dia di cium dan jadi kekasih laki-laki gila dihadapanya itu. Yah, Qari menyebutnya laki-laki gila pasalnya hanya dia yang berbuat semena-mena. Udah menghina dan meperolok dengan bukit tidak ada dagingnya dan lain-lain, tapi malah dia sendiri yang menarik kata-katanya dan secara tidak langsung meminta Qari menjadi kekasihnya. Gila bukan?
Deon tertawa terkekeh, seolah ia mendapatkan mainan baru ketika melihat kelakuan Qari yang seolah sangat jijik dengan dirinya. "Kita liat saja kucing kampung kecil, siapa yang akan datang melemparkan diri untuk menjemput deritanya. Aku atau kau?" batina Deon, yang terus menatap punggung Qari yang basah karen kringatnya, itu menandakan bahwa sejak tadi Qari ketakutan. Hanya saja dia bisa menyembunyikan ketakutanya, dibalik sifat juteknya.
__ADS_1
Deon menyusul Qari yang sudah lebih dulu duduk dan wanita itu memilih duduk di kursi yang lebih kecil dari Deon. Lagi-lagi penolakan ditunjukan dari Qari yang memilih mencuekanya dengan cara dirinya memainkan ponselnya tanpa mau mengobrol dengan Deon.
"Loe enggak kerja?" tanya Deon hanya basa bas sih, tujuanya agar ia bisa menarik Qari lebih dekat denganya.
"Pasti jawabanya juga sudah tau kan? Udah jelas kok kalo gue kerja jelas-jelas tidak di sini," jawab Qari masih dengan nada kesal. Sementara Deon saja sudah bisa menghaluskan nada bicaranya. Meskipun ia menghaluskan nada bicaranya karena ada niat buruk yang terselubung, agar Qari masuk dalam perangkapnya.
"Iya tapi maksud gue bukan itu. Kenapa loe kesini dan loe kerja di mana?" tanya Deon semakin membuka obrolan agar semakin akrab dan Qari tidak canggung lagi.
"Udah si itu urusan gue. Loe duduk ajah! Ganggu orang lagi main game ajah," murka Qari terlebih ia sedang asik dengan gawainya.
"Lo suka ngegaime juga, kita mabar yuk," ajak Deon. Mungkin dengan cara itu hubungan mereka mendekat. Seperti itu kira-kira upaya agar Qari mendekat denganya
Qari menatap Deon tajam, seolah meremehkan apa ia seorang laki-laki tampan, sepertinya kalo dilihat dari pakaianya dia seorang CEO, rasanya tidak mungkin kalo seorang CEO hobby ngegame kayak Qari.
"Boleh kok dicoba," ucap Deon, seolah tahu bahwa Qari menatapnya dengan tatapan meremehkan.
Setelah Deon yang terus berusaha mendekatkan diri ke Qari dan untuk sesaat berusaha menekan kemarahan dan dendamnya demi menyakinkan gadis keras kepala dihadapanya itu.
Mereka pun menghabiskan seharian terkurung di atap gedung, dengan bermain game. Rasa lapar mereka tahan setidaknya sampai jam lima sore di mana Deon mengatakan pada security di jam lima sore, pintu yang mereka kunci karena perintah Deon harus dibuka kembali.
__ADS_1