
Naqi menggebrak meja, ia marah kenapa Kakeknya bisa-bisa mengambil keputusan sepihak. Dia saja belum memutuskan mau bercerai atau tidak, tetapi malah kakenya sudah membuat keputusan sendiri.
Wajahnya yang merah dan sorot mata yang tajam menandakan bahwa Naqi sangat marah dengan keputusan Tuan Latif yang Naqi nilai selalu saja mencampuri urusan anak-anaknya bahkan cucu-cucunya.
"Lalu mau kamu apa? Cyra tetap diam di rumah ini menanti kepulangan kamu? Yang sudah jelas itu adalah mustahil... (ucapan Kakek dipotong Naqi)
"Tapi ini nggak mustahil Kek, aku pulang dan bahkan aku pergi baru sebulan, kenapa kalian tega memisahkan aku dengan Cyra." Naqi masih saja terus membela dirinya.
"Iya... iya... kamu kembali, tapi kembali setelah tahu bahwa kekasihmu adalah kakak tirimu, di mana Rania masih memiliki hubungan darah yang kental dengan kamu. Makanya kamu pulang kerumah ini, dan mencari Cyra. Andai Rania bukan kaka tiri kamu, apa kamu juga akan pulang kesini secepat ini dan mencari Cyra untuk memulai rumah tangga yang baru? Tidak Naqi! Kamu tidak akan kembali kerumah ini. Jadi kamu jangan egois, kamu jangan menahan kebahagiaan orang lain untuk tetap bersama kamu." Kakek juga yang tidak setuju dengan Naqi memberikan ucapan, tetapi tidak memikirkan kebahagiaan Cyra.
"Bukanya dulu Kakek yang meminta aku nikah dengan Cyra, dan meminta aku tetap sama Cyra, tetapi kakek malah sekarang memisahkan aku dengan istriku. Kakek orang yang paling egois, tidak pernah mau tahu bagai mana perasaan anak dan cucunya," lirih Naqi ia kali ini sudah duduk di kursi dengan lemas.
"Itu dulu, sebelum kamu memilih Rania, dan meninggalkan istri kamu dengan keterpurukan. Bahkan kamu tidak tahu kan, apa sajah yang telah Cyra lewati tanpa kamu? Di mana kamu suaminya seharusnya kamu ada di saat istri kamu terjatuh bahkan berdarah dan hidup tanpa arah. Kamu tahu apa tentang Cyra. Kamu tidak tahu apa-apa Naqi. Jadi jangan merasa paling memiliki Cyra. Dia lebih baik berpisah dengan kamu, karena masa depan Cyra masih panjang. Silahkan kamu cari kebahagiaanmu sendiri. Begitu pun Cyra mencari kebahagiaanya." Kakek mencoba menasihati Naqi dengan sangat halus agar dia mengerti maksud kakek melakukan ini semua.
Kakek sudah lelah berantem dan bertengkar dengan masalah Naqi kalau bukan Naqi ya Luson. Kakek hanya ingin tenang menikmati masa tuanya tanpa masalah-masalah yang receh begini.
__ADS_1
"Tidak!!! Naqi tidak akan melepaskan Cyra. Naqi sudah cinta sama Cyra. Naqi harus cari Cyra. Kakek katakan Cyra ada di mana biar Naqi susul Kek," racau Naqi memberikan tatapan yang mengiba.
Kakek yang mendengar Naqi makin ngaco pun mengangkat tanganya, dan mencoba bangun dari duduknya dan meninggalkan meja makan. Kakek berjalan dengan berhati-hati ke kamarnya.
"Kek, Cyra ada di mana Kek? Tidak mungkin dia berani meninggalkan Naqi. Dia itu tidak punya siapa-siapa Kek... Cyra di mana kakek?" pekik Naqi sengaja berbicara dengan suara lebih keras agar kakek tahu bahwa Naqi hancur tanpa Cyra di sampingnya.
Naqi yang melihat Tuan Latif tidak merespon ucapanya pun semakin naik pitam. Dia melampiaskan kemarahanya pada benda yang ada di atas meja makan. Naqi menarik alas meja makan sehingga hampir semua benda yang ada di meja itu jatuh kelantai dan menimbulkan bunyi yang sangat gaduh. Bahkan asisten rumah tangga yang sejak tadi menguping di dapur, sampai terperanjat kaget dengan suara yang menggedor gendang telinganya.
Praaaannnngggg... baik piring gelas sendok bahan makanan pun berjatuhan kelantai. Luson yang melihat kemarahan Naqi pun mulai panik.
Rania yang memang ada di kamar tamu, dan kebetulan kamar tamu berada dekat dari ruangan makan, tentu merekam setiap ucapan yang sejak tadi anggota keluarga barunya ucapkan.
Rania bukanya istrirahat justru terfikirkan dengan setiap kejadian yang terjadi di rumah keluarga papahnya. Ia terisak ketika mendengar apa yang terjadi kekacauan di luar kamarnya, dan Rania juga kaget ketika Naqi berani membuang barang-barang yang ada di atas meja. Yah, itu pasti gelas dan barang-barang lain yang ada di meja makan, karena dari suaranya sangat jelas.
"Tuhan inikah hukuman buat aku karena telah merusak rumah tangga adikku sendiri," batin Rania dengan memegang dadanya yang sangat sesak mendengar setiap pertengkaran di keluarga papahnya, yang sebagian besar permasalahanya datang dari dirinya.
__ADS_1
Tidak hanya Rania yang tengah menangis di kamarnya, karena mendengar pertengkaran Naqi dan kakeknya. Mamih pun di kamarnya tengah terisak menangis dengan perlakuan putranya. Mamih jadi kefikiran juga ingin pergi menyusul menantu kesayanganya. Mamih di rumah ini juga sudah tidak menemukan kebahagiaan. Seolah setiap nafas yang ia hirup adalah sebuah kesesakan yang sangat menyakitkan di dalam hatinya. Mamih takut dengan dia berlama-lama di rumah ini yang ada sakit-sakitan dia nanti.
"Naqi, kenapa kamu tidak pernah membuat Mamih bisa hidup tenang. Kenapa sifat kamu sekarang selalu membuat Mamih merasa gagal mendidik kamu, dan telah salah membimbing kamu. Padahal dari dulu Mamih selalu menasihati kamu yang terbaik tetapi seolah sekarang kamu menjadi orang yang jauh dari kebaikan," batin Mamih dengan isakan dan tangan yang memegangi dadanya, menahan sesak.
Sementara Naqi ia berjalan dengan langkah lunglai menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya. Kamar dia dan kamar Cyra.
Naqi masih berharap bahwa apa yang tadi dikatakan kakeknya adalah kebohongan. Naqi masih sangat berharap bahwa Cyra masih ada di rumah ini.
Naqi membuka kamarnya, di mana di atas ranjangnya masih sangat rapih dan juga memang sepertinya kamar ini sudah dibiarkan lama kosong. Ia menutup pintu dan duduk diranjangnya, di mana di tempat itu biadanya Cyra tidur dan diingatan Naqi masih sangat tergambar jelas senyum Cyra yang selalu lepas. Dan kejahilan Cyra yang bisa membuat Naqi tertawa denganya.
Cyra memang bukan wanita yang romantis dan pandai merayu, tetapi dia bisa menunjukan rasa cinta, dan pedulinya dengan ciri kahas yang seolah bercanda tetapi ia tengah memberikan perhatian yang orang lain tidak bisa dapatkan.
"Cyra kamu di mana sekarang? Pulah yah!" lirih Naqi sembari mengusap tempat di mana biasa Cyra beristirahat. Tangan mungilny masih bisa Naqi rasakan ketika ia genggam.
Naqi berdiri dan mencoba membuka lemari pakaian Cyra. Di mana di sana hampir semu pakaian Cyra masih untuh. "Cyra tidak membawa pakaianya, berati ia pergi tidak akan lama," Yah, Naqi mencoba menghibur dirinya sendir. Naqi melihat ada card berwara gelap yang dulu awal nikah pernah Naqi berikan untuk Cyra, untuk belanja sehari-hari. Namun card sakti itu Cyra tinggal dan tidak membawanya. Barang-barang dari Naqi dan Mas kawin serta cincin pernikahan Cyra tidak membawanya.
__ADS_1
Naqi sangat-sangat merasa kehilangan, tetapu dia yakin bahwa Cyra akan kembali, karena pakaian dan semua barang berharga tidak Cyra bawa.