
Di Apartemen Rania...
Naqi membawa tas dan kopernya dengan tampang lesu, sangat amat lesu. Bahkan entah berapa orang yang bertabrakan jalan denganya. Hal itu karena Naqi tidak melihat jalan. Bahkan seolah kedua matanya hanya sebagai pajangan di wajahnya.
Naqi membuka pintu kamar Rania, di mana di dalam sana masih ada Sam yang menemani Rania.
"Gimana semuanya Qi?" cecar Sam, ia sangat ingin tahu apa yang teejadi. Keputusan apa yang Naqi terima dari semuanya. Reaksi keluarganya bagaimana? Lalu Cyra, mungkin ini info yang sangat Sam tunggu-tunggu dari Naqi.
"Seperti yang loe pikirkan. Semuanya ancur, tidak ada lagi harapan untuk diperbaiki," lirih Naqi dengan menjambak rambutnya dengan kedua telapak tanganya.
Rania yang melihat pun kasihan, tapi dia juga benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Yang Rania pikirkan Dia hanya menagih janji Cyra, dan juga janji Naqi. Andai mereka tidak berjanji padanya, Rania juga tidak akan menagihnya.
Rania berpura-pura tutup telinga dengan hal ini, sebab ia merasa tidak bersalah. Dia hanya meminta janji yang Cyra dan Naqi buat, di tepati. Udah hanya itu.
"Jadi loe dan Cyra sudah benar-benar berpisah? Kakek loe marah dengan hal ini?" Sam masih bisa-bisanya bertanya dengan hal ini, yang sudah jelas-jelas jawabanya pasti Kakek marah malah tidak hanya marah, beliau juga mencoret Naqi dari daftar waris dan nasibnya sama dengan Luson, papahnya. Ada tetapi tidak dianggap.
"Masih bisa tanya reaksi Kakek bagai mana? Loe orang pinter Sam, tentu loe tau kemarahan Tuan Latif bagaimana, orang yang berkuasa ketika marah, orang lain yang membalasnya. Untuk Kakek masih ada belas kasih sama gue sehingga Kakek cuma ngehajar Kedua pipiku, dan juga dicoret daftar Waris, hidup seolah sudah mati. Loe tahukan rasanya? Nah rasanya saat ini aku seperti itu." Naqi tidak peduli Rania bagaimana perasaanya. Ia pun memiliki perasaan yang mana saat ini hatinya hancur, hilang arah tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Ok, dari jawaban Naqi tentu Sam tahu, bahwa ia tengah tidak baik-baik saja. Sam tidak mau menambah kerumitan pikiran Naqi. Ia pun memilih pulang saja toh berbicara juga Naqi sedang tidak bisa diganggu.
"Kalo gitu gue pulang saja Qi, Nia. Loe cepat sembuh yah Nia. Berjanjila ketika loe sudah di kampung halaman ibumu harus tetap menjalani pengobatan. Sakit kamu, masih sangat besar peluangnya untuk sembuh jadi jangan berputus asa. Ingatlah habis gelap pasti ada cahaya yang terang." Sam memberikan semangat pada Rania. Yah Sam tau tidak seharusnya saling menyalahkan satu sama lain.
__ADS_1
"Terima kasih Sam, aku janji akan terus berusaha untuk sembuh." Rania membalas agar Sam tidak terus-terusan mencemaskanya. Meskipun ia tidak yakin akan sembuh.
Sementara Naqi tidak merespon ia masih menunduk dengan kedua tangan masih menjambak rambutnya, kedua bola mata yang terpejam dan dia dalam posisi duduk di sofa.
Sam tanpa menunggu jawaban dari Naqi langsung keluar dari apartemen Rania.
Rania sebenarnya ingin sekali bertanya pada Naqi dengan apa yang terjadi, tetapi Rania takut Naqi justru akan marah.
Sehingga Rania mengurungkan niatnya. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan kedua bola matanya. Walaupun sudah beberapa kali Rania melakukanya tetapi tetap tidak bisa, ia masih terjaga.
Semetara Naqi pun sama, ia merebahkan badanya di sofa dan tangan ia lipatkan untuk menutupi matanya. Fikiranya terlalu kalut sehingga ia tidak ingin ada obrolan apa pun. Naqi ingin istirahat, walaupun sama ia sia-sia mencoba memejamkan matanya, karena ia masih memikirkan Cyra. Mungkin kalo dia tidak malu sama gender ia sudah menangis sejak tadi.
Rasanya Naqi ingin menghilang dari permukaan bumi. Entah bagaimana ia melewati hari-harinya nanti bersama Rania. Akankah sama dengan Cyra atau lebih baik? Atau malah lebih buruk lagi?
Ahhh... Naqi mengerang dan kembali menjambak rambutnya dengan kedua tanganya. Rania sebenarnya mendengar semuanya, tetapi ia tidak berani mendekat ke arah Naqi. Sehingga dua anak manusia itu, kini seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain.
*****
Meta sangat bingung dengan reaksi Cyra ketika melihat Fifah.
"Cin you kenal Fifah?" tanya ulang Meta, ketika pertanyaan pertama tidak mendapatkan jawaban dari Cyra, tetapi justru Cyra menangis. Sebenarnya Meta sudah tau sih jawabanya. Yaitu Cyra mengenal Fifah, tapi ketika bukan dari mulut Cyra sendiri yang mengucapkannya ia rasa kurang yakin. Meta juga bingung andai saling kenal lalu hubungan mereka apa?
__ADS_1
Cyra mengangguk dengan lemah, tetapi air matanya masih mengalir, Cyra mengingat semua memory mengenai keluarganya.
"Apa yang terjadi dengan keluargaku, kenapa sampai Kak Fifah mengalami hal seperti ini, apa Papah tidak tahu bahwa Kak Fifah mengalami ini semua, Mamah Daima bagaimana? Bukankah Kak Fifah anak kesayangan mereka?" Cyra masih mematung, dalam hatinya dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
Cyra lupa janjinya barusan dengan Cyra ia berjalan perlahan menghampiri Fifah. Cyra duduk di samping Fifah, ia mengusap wajah Fifah yang masih nampak sekali luka lebam di wajah itu.
"Kakak... Ka kenapa Kakak seperti ini? Apa yang Cyra tidak tahu dari kalian? Kenapa Cyra merasa asing dengan kalian?" lirih Cyra ia terisak kembali.
Fifah yang merasa ada yang membelainya dan menangis pun membuka kedua bola matanya. Fifah mengerjapkan bola matanya berkali-kali.
"Cyra?... Apa ini kamu Cyra?" tanya Fifah ia mengira ini hanya mimpi.
"Kak, apa yang terjadi kenapa Kakak seperti ini? Papah bagaimana? Mamah?" Cyra tentu khawatir dengan semua anggota keluarganya. Walaupun Cyra pernah disiksa dan dijual oleh Papahnya. Tidak menampik Cyra marah dengan Papahnya, dan dengan keluarganya, tetapi ia juga khawatir dengan kabar mereka. Bagai mana keadaan mereka saat ini.
Sementara Meta ia mematung, bingung. Meta bingung antar bahagia atau sedih. Kenapa dua wanita yang ia lindungi adalah adik kaka.
"Ra keluarga kita hancur, banyak yang ingin Kakak ceritakan dengan kamu. Kakak juga bingung mau mulai dari mana? Apa kamu mau maafin kita yang sudah jahat sama keluarga kamu, Papah sekarang tengah menerima hukuman. Aku pun sama tengah menerima hukuman dan Mamah pun tidak luput dari hukuman itu. Walaupun aku dan Mamah tidak tau apa yang terjadi dengan semuanya tapi aku ikhlas menjalani ini semua, asal kamu mau memaafkan aku." Fifah terisak. Ia menggenggam kedua tangan Cyra yang mana Cyra justru nampak bengong tidak tahu dengan ucapan Fifah.
"Memang kamu belum tahu apa pun yang terjadi pada keluarga kita?" tanya Fifah, juga bingung. Ia pikir Tuan Latif sudah memberitahukan semua fakta-fakta tentang keluarga Cyra dan keluarganya.
Maka dari itu Fifah mengira Cyra akan marah padanya dan pada mamah dan papahnya. Namun nampaknya Tuan Latif masih merahasiakan semuanyan.
__ADS_1
Fifah nampak bingung, haruskan ia jujur pada Cyra dengan kondisi keluarganya. Atau justru membiarkan Cyra tetap tidak tahu dengan semuanya dan keluarganya tetap aman. Dengan menganggap bahwa mereka memang keluarga seperti yang selama ini Cyra tahu.
#Pertengkaran antara adik dan kakak itu sangat wajar. Sedetik yang lalu saling cakar dan jambak, sedetik kemudian mereka baikan, itulah enaknya sama sodara. Namanya sodara tanpa bertengkar rasanya kurang gereget. Mungkin sama kaya Cyra dan Fifah, semoga Fifah dan Cyra bisa saling menguatkan. Jangan lagi saling menusuk demi sebuah hal yang tidak penting.