
Setelah sampai di rumah, Meta selalu berusaha memapah Fifah.
"Enggak usah Met, aku udah mendingan kok, tadikan udah di kasih obat sama dokter Sam dan sekarang perutnya nggak sesakit tadi," tolak Fifah ketika Meta hendak membantu memapah.
Meta pun ikut saja dia mengangkat kedua telapak tanganya di atas bak seorang tahanan. Meta mengekor di belakang Fifah yang memang jalanya sudah tidak terlihat menahan sakit.
"Nyak... Nyak... Nyak..." Meta seperti biasa selalu merbuat heboh.
"Apaan sih Wan, kamu itu sekali ajah kalo jadi anak laki yang kalem gitu, nggak teriak-teriak sampe satu RT ngedenger semua teriakan loe." Mamah Mia, mendekati Meta, dengan mulut yang nyerocos bak petasan korek.
"Sini deh Mah, Meta ada kabar bahagia." Meta membisikan kata-kata di telinga Mamah Mia.
Seketika itu juga biji matanya langsung membesar seolah akan loncat.
Sementara Fifah, ia harap-harap cemas pasalnya ia takut kalau Mamah Mia akan marah padanya.
"Kamu bener kan Met?" tanya Mamah Mia, tetapi dengan tangan yang memukul pundak Meta.
"Bener Dong Mah, kapan sih anak kamu yang gateng rupawan ini bohong?" Meta dengan bangga menoel hidung dengan jari jempolnya, di mana ia mengatakan bahwa Fifah hamil, seolah Meta bangga karena Fifah hamil atas perbuatanya.
"Alhamdulillah ya Allah kamu mengabulkan doaku." Mamah Mia memeluk Fifah. "Selamat yah sayang kamu hamil," ucap Mamah Mia dengan antusias. Sedangkan Fifah tidak bisa berkata apa-apa ia benar-benar bingung dengan keluarga Meta.
"Kenapa mereka seneng banget sih dengan aku hamil? Sedangkan anak ini bukan darah daging mereka." Fifah bertanya-tanya dalam batinya.
Sedangkan Meta mengacungkan jari jempol pada Fifah, hal itu membuat Fifah tambah bingung.
"Terus kamu sekarang mau apa? Ada yang di rasa? Mual, mau muntah? Pusing atau yang lainnya?" tanya Mamah Mia dengan antusias.
Sunggu Fifah bingung antara bahagia karena mendapatkan keluarga baru yang tidak mempermasalahkan kehamilanya dan mau mengasih tumpangngan dirinya dengan cuma-cuma, ia bahagia tapi harus bagaimana cara meluapkan kebahagiaanya.
"Tidak Mah, Fifah tidak merasa apa-apa, tapi kata dokter Sam tetap harus di infus. Entah tujuanya apa? Mungkin karen kondisi Fifah yang lemes ajah kali." Fifah buka tidak mau merepotkan siapa pun hanya saja ia memang tidak merasakan hal itu. Ia merasakan biasa saja. Tidak ada kelainan apapun dalam kehamilanya. Entah nanti-nanti yang jelas saat ini ia baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya udah, kalo gitu kamu ke kamar Wawan ajah istirahat biar nanti Mamah masakan kamu makanan istimewa. Di jamin kamu dan cucu Mamah suka." Mamah Mia langsung berlalu menuju dapur, sedangkan Fifah di bantu Meta masuk ke kekamar Meta, Yah Fifah memang tidurnya di kamar Meta sedangkan Meta berkelana kadang di kamar tamu, depan tipi, dapur terelas atau ruang makan. Dia mah yang penting ada tempat buat rebahan udah aman.
"Met, kok Mamah Mia baik banget, masa bilang anak aku dan Niko cucu Mamah Mia," ujar Fifah.
"Hust... kamu jangan sebut nama ba'jing'an itu lagi, aku sebel banget denger namanya. Anak kamu itu anak kamu ajah, dan kalo ayahnya aku juga enggak apa-apa walaupun dia bukan anak biologis aku tapi aku akan anggap dia anak aku juga. Bukan laki-laki pembunuh itu. Heran gue loe cinta banget apa sama tuh laki, sampe bentar-bentar di bawa-bawa. Kalo gue jadi loe dia udah aku ajak ngopi campur sianida," ucap Meta yang selalu bersungut apabila mendengar nama Niko.
Fifah terkekeh meskipun apabila ia terkekeh perutnya masih saja terasa sedikit nyeri. "Kamu itu lucu, nggak ikut nyumbang bikin anak, tapi pengin disebut Papih, terus kalo aku nggak boleh sebuh nama Niko aku sebutnya siapa dong?" tanya Fifah ingin tahu bagaimana reaksi Meta.
"Sebut ajah ben'cong, ban'ci atau apa lah. Aku nggak suka kamu sebut laki-laki itu," omel Meta.
Akhirnya Fifah pun setuju ajah, toh apa yang Meta katakan ada benarnya dia sangat pantas mendapatkan kata-kata itu.
Fifah tidak menyangka bahwa Meta yang notabenya berpenampilang laki-laki gemulai tapi dari dalam hatinya sangat gentl, penyayang, bertanggung jawab, dan sayang sama Mamahnya. Sangat beruntung Mpok Mia memiliki Putra seperti Meta.
****
Di tempat lain setelah pulang kerja Cyra yang tengah suntuk sebenarnya malas akan pulang ke rumah, entah lah rumah yang dulu sangat nyaman itu kini berubah menjadi rumah yang sangat horor untuk Cyra. Ia merasa di rumah itu sudah tidak ada lagi kebahagiaanya.
Cyra memutuskan untuk mengunjungi danau. Untuk apa ia kesa? Entahlah yang jelas ia sangat butuh suasana tenang. Di pojok kota disebuah danau yang tidak terlalu ramai Cyra duduk seorang diri. Aneka jajanan yang dulu ia sangat suka dan selalu mengajak Naqi untuk membelinya.
Kali ini bahkan tidak bisa menarik perhatian Cyra. Tidak menangis dan juga tidak tertawa. Cyra bak patung yang menatap lurus kedepan, tetapi di dalam fikiranya ia bertebangan entah kemana.
Entah berapa banyak masalah yang ada di dalam fikiranya. Dia mau mengurainya saja bingung akan di mulai dari mana. Cukup lama Cyra berada di sana bahkan suasana semakin sepi karena cahaya matahari telah ditelan dengan gelapnya malam.
*****
Di lain tempat.
"Nia, kamu udah baikan kan? Aku mau pulang dulu yah? Setidaknya biarkan aku pulang untuk mengambil baju dan barang-barang penting lainya. Bukanya kamu minta lusa kita akan pulang ke kampung halaman kamu." Naqi mencoba berbicara dengan Rania yang sejak siang tadi mereka dilanda kebisuan. Bisu karena ego masing-masing yang terlalu besar.
Rania tidak langsung menjawab. Naqi juga hanya pasrah, andai tidak diizinkan pulang ya sudah. Ia terlalu cape untuk berdebat, yang ujung-ujungnya, Rania akan nangis dan bersedih memancing sakitnya kambuh lagi. Naqi mengambil posisi akan merebahkan badanya di sofa.
__ADS_1
"Kamu pulang lah, selesaikan urusan kamu. Tapi setelah itu aku tidak mau mendengar kamu terus-terusan memikirkan hal yang tidak penting." Rania akhirnya mengizinkan Naqi untuk pulang. Walaupun dengan nada yang jutek.
Naqi pun setelah mendapatkan izin pulang langsung menghubungi Sam agar datang ke apartemen Rania untuk bantu menjaga Rania yang belum sembuh total.
"Aku pulang dulu, sebentar lagi Sam akan datang. Kamu jaga diri, jangan melakukan hal yang aneh-aneh!" Naqi menasihati Rania seolah ia adalah anak kecil yang tidak paham mana yang baik dan mana yang buruk.
Rania hanya mengangguk tanpa ekpresi.
Naqi pun langsung meninggalkan apartemen Rania. Ia kini melajukan mobilnya menju rumah Tuan Ralf. Naqi sudah siap dengan konsekuensi apapun itu yang bisa mengakibatkan ia kehilangan semuanya. Naqi sudah cukup yakin menentukan pilihanya.
Naqi buka tidak cinta pada Cyra, ia bahkan sudah mulai cinta sama istri bocilnya sehingga tidak mau membuat istrinya menderita dengan tetap betahan dengan dia.
Sementara Rania, dia sayang, tetapi entah lah ia tidak tega apabila membiarkan Rania kesakitan dan menjalani kehidupan yang tidak mudah tanpa ada orang-orang yang peduli dengan Rania. Sehingga Naqi memilih tetap bersama dengan Rania.
Naqi kini sudah sampai di halaman keluarga tuan Ralf, ia menatap rumah mewah itu. Rumah mewah yang sudah hampir dua puluh delapan tahun ia tempati.memberikan kehangatan dari penghuni rumahnya. Ia berharap akan kembali lagi datang ke rumah ini dengan kebahagiaan yang baru.
# Ini nggak ada yang mau jadi saksi bagaimana penyesalan Clovis lagi? Novel sebelah lagi butuh penonton yang mau dengan suka rela menertawakan penyesalan Clovis. Yang kemarin tanya-tanya mana Ipek? Ko Ipek nggak nongol-nongol, Nih selesai Ody sama Bambang Rio langsung Genjot Kisah Ipek..
ramaikan atuh, Sedih othor pendukung Ipek dikit....😥
Cuz buka pp Othor Baca Kisah Ipek sama Casanova yang otw Tobat bambang Clovis,..
Clovis Otw nyari sandaran buat menangis tuh...
...****************...
#Beauty Clouds#
B
__ADS_1