
Hari ini terasa lama sekali bagi Naqi, padahal dia sudah tidak sabar kepengin ketemu lagi dengan Cyra. "Kayaknya gue tidak lihat Qari dari tadi," batin Naqi, "Apa mungkin dia tidak masuk kerja karena mobilnya benar-benar mogok, tapi bukanya ada mobil mamih dan yang lainya." batin Naqi sembari pandanganya masih tertuju pada Map-map yang harus di ceknya.
****
"Tidak tahu Tuan, tadi sih nona Qari sempat datang ke kantor sebentar, tapi karena salah paham, seperti biasa antara aku dan Mirna. Nona Qari pergi lagi, dan sampai sekarang, ponselnya juga di matikan Tuan," jawab Al dengan sopan ketika Naqi menanyakan keberadaan Qari. Pasalnya Naqi juga sempat bertanya dengan mamih di rumah, mungkin saja mobil di rumah sedang mogok semua.
Namun kata mamih Qari sudah berangkat kerja, dan mobilnya masih aman, itu sebabnya Naqi kembali mencari Qari setidaknya buat mencari kejelasanya ada di mana adiknya, yang masih tidak bisa disiplin. Entah Naqi harus mendidiknya harus gimana lagi keras kepala Qari dan Naqi sama saja turunan dari Luson.
"Heran deh sama anak itu, kenapa sih tidak bisa akur banget sama rekan kerjanya. Terus kamu Al apa memang kamu tidak menyukai adikku? Sampe kamu abaikan dia terus, kasihan juga dia Al. Kalo kamu tidak suka setidaknya jaga perasaan Qari, jaga jarak dengan Mirna. Apa kamu memang suka sama Mirna?" tanya Naqi sarkas.
"Maaf Tuan, sesuai perinsif saya, belum kefikiran untuk menikah karena masih fokus dengan penyembuhan saya dan adik saya Tuan," jawab Al, memang dia tidak bisa memberikan harapan pada Qari terlebih kondisi fisiknya yang tidak sempurna, membuat bahan pertimbangan nomor satu buat Al. Apabila ditanya perasaan siapa yang tidak suka dengan Qari wajahnya yang cantik seperti mamihnya yang biarpun umurnya sudah memasuki kepala lima tetapi masih awet muda. Sifat bar-bar dan tomboy sebenarnya tipe cewek Al, tapi Al masih merasa tidak layak untu wanita seperti Qari, dan sakitnya yang dokter saja mengatakan kemungkinan jaringan kangker untuk tumbuh di tempat lain masih ada, karena dokter hanya membantu mencegah, tidak bisa menghilangkan sampai benar-benar bersih jaringan kangkernya. Yang Al ingin tetap fokus dengan penyembuhanya dan adik kecilnya.
Ditakutkan nantinya malah akan menjadi beban untuk Qari, itu fikiran Al, maka dari itu dia seolah tidak mencinyainya.
"Ya kalo gitu kamu jaga jarak sama Mirna! Agar Qari setidaknya tidak salah paham terus, pusing juga aku Al kalo dia kaya gini terus. Bukan masalah laporan terbengkalai saja, tetapi juga aku ditugaskan oleh Tuan Latif untuk mendisiplinkan dia. Apa kamu tidak bisa pura-pura memberi perhatian gitu. Biar Qari ada semangat untuk bekerja." Ide gila memang tetapi pada kenyataanya Qari yang dihukum kelakuan masa lalunya yang suka mengerjai Al dengan perasaan cinta pada orang yang sudah ia benci, memang k benar-benar penyemangatnya saat ini hanya perhatian dari Al.
__ADS_1
Sehingga ia akan sangat berputus asa ketika Al selalu mengabaikanya. Harapanya tidak banyak hanya ingin mendapatkan balasan perasaan dari orang yang ia cintai, mungkin seperti itu isi hati Qari.
Naqi saking semangatnya menjemput pujaan hatinya, baru pukul tiga ia sudah izin dengan Al dan Mirna, kerjaan yang belum sempat ia kerjakan di serahkan pada Al dan Mirna. Ini adalah ganjaran dari bonus dan telaktiran makan siang yang Naqi bagi-bagi di siang tadi.
Naqi menunggu Cyra dengan mendengarkan musik favorite Cyra dan juga sekarang menjadi favorite Naqi juga. 'Who Says by Selena Gomez' Karena dasarnya wanita itu cantik.
Tok... Tok... Suara ketukan kaca jendela dari Cyra, Naqi yang memang tidak tidur hanya saja memejamkan matanya dan menyederkan kekursi rasanya nyaman sekali. Laki-laki yang hampir terbuai dialam miminya pun langsung bangun dan menoleh ke sumber suara benar saja Cyra dengan senyumnya yang manis sudah ada di luar mobilnya .
Tangan kanan Naqi segera membuka kunci mobilnya agar Cyra segera masuk. "Udah lama yah?" tanya Cyra begitu masuk seperti biasa tangan lentik nan mungilnya dengan lihat memasang sabuk pengaman sebelum mobilnya benar-benar melaju menyusuri jalanan yang sudah pasti di jam pulang kerja seperti ini menjadi jam yang padat-padatnya.
"Tidak ko," jawab Naqi sembari langsung melajukan mobilnya. "Kita makan dulu yah?" ucap Naqi tanpa menoleh ke Cyra karena memang jalanan sudah padat, kalo noleh suka kecantol selamanya soalnya.
"Bentar ajah lapar banget tapi siang sengaja makan dikit, karena ada niatan telaktir kamu," elak Naqi, bohong banget padahal tadi siang karena suasana hati sedang berbunga-bunga sehingga Naqi pun memesan makan dua porsi dan semuanya dia lahap sampai tidak tersisa. Namun karena efek habis sakit juga sehingga Naqi pun kembali sudah lapar padahal baru jam empat. "Nanti aku bantu bilang deh sama kamu, biar sekalian ketemu juga dengan siapa saja yang ada di rumah kamu, selain emak tiri Meta itu," kekeh Naqi yang menyebut Meta dengan panggilan horor yaitu emak tiri. Habisan galak banget sama Cyra apa-apa tidak boleh di kepoin.
"Tapi bentar ajah yah, beneran deh soalnya Meta itu lebih galak dari pada momy, jadi harus pandai-pandai mengambil hati emak tiri itu," lanjut Cyra dengan mengikuti nama panggilan dari Naqi.
__ADS_1
Setelah memesan makanan dengan makanan khas sunda, karena yang memang Naqi pilih untuk singgah itu warung nasi khas sunda yang terkenal olahanya tiada duanya, nasi liwet dengan sambal dan ikan asin menjadi menu unggulan selainya ada ikan bakar dan pepes ikan juga menjadi menu yang wajib untuk pelengkap.
Mereka menikmati makanan dengan damai, obrolan mereka pun hanya di selingi sebagai teman makan. Walaupun kata orang kalo sedang makan tidak baik berbicara tetapi beda Naqi dan Cyra mereka tetap terlibat obrolan-obrolan yang menambah hangat suasanya diantara mereka.
"Kenyang belum?" tanya Naqi, basa-basi, sudah tentu pasti saat ini Cyra tengah kekenyangan karena makanya yang lahap, apalagi tangan Cyra saat ini tengah mengusapa-usap perutnya yang mengeras karena sudah diisi bahan bakar.
"Banget, makananya enak, sayang kalo tidak dihabisin," ucap Cyra sembari menyengir kuda. Dia tidak mau berpura-pura makan sedikit tapi masih lapar. Lagian Naqi juga sudah tau betul kok, biarpun Cyra badanya kecil kurus, dia tetap makanya banyak.
Setelah Naqi dan Cyra mengobrol bersama sebentar sembari nasi yang ada ditenggorokanya turun ke perutnya. Mereka pun pulang pastinya sebelumnya sudah membayar makananya terlebih dahulu. Naqi membuka mobilnya agar petugas lestoran bisa memasukan makanan yang Naqi pesan untuk keluarga Cyra, rasanya kurang sopan dia makan enak mengajak Cyra tetapi tidak membawakanya untuk Cyra dan keluarga Meta. Naqi memang tidak tahu betul jumlah kepala dalam satu rumah itu tetapi ia menebak jumlahnya pasti lebih dari lima kepala mengingat Cyra kalo cerita dalam rumah itu ada banyak penghuninya.
"Apa ini Mas?" tanya Cyra heran kenapa ada beberapa petugas lestoran yang memasukan box-box makanan kemobilnya.
"Buat makan malam keluarga kamu, semoga berkenan menerimanya. Masa kita makan enak, tapi mereka tidak ikut, setidaknya mencicipi sedikit apa yang tadi kita makan," ucap Naqi sembari tersenyum bangga, setidaknya selangkah lagi tinggal mendekati keluarganya bukan. Sebelum mengambil hati anak, kata orang-orang ambil dulu hati keluarganya, sekarang Naqi pengin memperatekanya. "Cie sogokan nih yeh."
...****************...
__ADS_1
Teman-teman othor bawa rekomendasi novel yang keche nih karya bestie othor, kalian mampir yah. Jangan lupa juga tinggalkan jejak dan dukunganya yah...