
Naqi merasa tercubit dengan ucapan Sam, benar apa yang di katakan Sam bahwa cinta bertepuk sebelah tangan sangat sakit dan sangat menyakitkan, karena Naqi baru merasakanya setelah semuanya pergi. "Cinta sebelah tangan memang sakit, dan itu pasti yang di rasakan Cyra pada saat aku memilih Rania. Ya Tuhan kenapa aku baru sadar sekarang. Setelah semuanya pergi," lirih Naqi, ia mengusap bulir bening yang keluar dari sudut matanya.
"Lalu apa yang loe tahu dari kakek atau Mamih dengan Cyra? Gue memang saat itu tengah salah jalan, gue berfikir dengan Rania hidup gue akan tenang, karena gue ada janji dengan almarhum ibu Nashila yang akan menjaga Rania, andai gue tahu kenyataan Rania adalah kakak tiri gue sebelum meninggalkan Cyra, pasti gue akan memilih merawat Rania bersama-sama dengan Cyra toh memang Rania kakak tiri gue, Cyra juga pasti memakluminya," tanya Naqi berharap Sam memberi sesuatu dengan informasi yang di dapat. Namun sekarang semuanya sudah terjadi. Kini saatnya ia membuktikan bahwa semuanya pasti akan terlewati. Naqi tetap dengan keyakinanya bahwa Cyra akan kembali berada di sisihnya walaupun semua orang terkesan menutupinya.
"Tidak ada, justru mamih loe sakit karena dia kangen dan ingin bertemu dengan menantunya. Andai Tuan Latif tahu keberadaan Cyra pasti dia akan meminta Cyra menemui mamih loe. Sepertinya terlalu tega andai Tuan Latif tahu keberadaan Cyra tetapi sengaja menutupi keberadaan Cyra dan membiatkan Tante Nita memendam kangen sampai sakit," ucap Sam semakin membuat dada Naqi sesak.
Yah Naqi sepertinya sudah tahu jawabanya bahwa Sam akan berkata tidak tahu keberadaan Cyra. "Kenapa mencari keberadaan Cyra sesulit ini. Aku pikir awalnya akan mudah mencari Cyra karena dia tidak mungkin pergi jauh dengan kondisi dia yang berlum begitu tahu dunia luar dan juga kondisi dia yang tidak memiliki siapa-siapa. Sepertinya aku salah menilai Cyra. Dia wanita yang tidak mudah menyerah, wanita yang kuat sehingga aku saja yang terlalu meremehkan dia," batin Naqi, ia bingung harus meminta bantuan dengan siapa lagi.
"Gue minta tolong yah Sam, kalo suatu saat loe tahu Cyra dia ada di mana. Tolong loe segera hubungi gue. Gue sangat butuh bantuan dari loe. Hanya loe temen yang bisa gue andalkan," ujar Naqi dengan wajah masam tidak bersemangat dirinya bahkan sangat tidak bersemangat untuk mengerjakan tugas-tugas yang lain. Ia ingin mengikuti cara Cyra pergi jauh dari semua rutinitasnya. Ingin menenangkan fikiranya, tetapi ia sadar kemana pun ia pergi tetap saja ia akan dihantui rasa bersalah, dan rasa penyesalan. Wajah sedih Cyra didetik-detik terakhir mereka bertemu selalu menghantuinya selalu muncul di ingatanya padahal ia sudah berusaha melupakanya, tetapi semakin ia mencoba melupakanya semakin kuat kenangan itu melekat diingatanya itu. Begitupun wajah senyum bahagia Cyra rasanya selalu hadir di kala Naqi kangen dan rindu dengan keusilan Cyra.
Baru kali ini Naqi di bikin seperti orang gila yang moodnya berganti-ganti hanya karena wajah seorang wanita. Orang yang dulu Naqi benci karena telah menipu di hari pertama mereka menikah dengan menutupi semua kekuranganya. Tetapi justru kekurangan Cyra menjadi keistimewaan di mata Naqi sekarang.
Ketika Naqi tengah melamun, dan Sam tengah membuat laporan dengan pekerjaanya hari ini, tiba-tiba pintu di buka.
__ADS_1
Deg!!! Ketiga pria yang ada di sana seolah tengah berpacu dengan detak jantungnya saling bekejaran, padahal tidak ada yang mengejarnya.
"Aduh kenapa Adam datang di saat ada Naqi sih," batin Sam yang merasa seketika ruanganya berubah jadi dingin dan seolah tengah ada di dalam kulkas.
"Ngapain si laki-laki nggak punya pendirian ada di sini. Apa dia akan mencoba menemui Rania, dan merebutnya lagi dari kekasih tuanya itu," batin Adam sembari tanganya menutup pintu dengan pelan dan berjalan ke arah Naqi dan Sam dengan perlahan.
"Ngapain Adam natap gue kaya gitu. Sok banget dia mau nantangin gue." Naqi pun dalam batinya masih merasa tenang dan tidak bersalah karena memang ia merasa tidak pernah memiliki urusan dengan Adam. Tanpa Naqi sadari Adam juga ada urusan dengan dia. Karena tunanganya, eh... lebih tepatnya calon tunanganya memutuskan balik dengan Naqi dan kabur bersama suami orang. Yang membuat Adam yang sudah susah payah meyakinkan orang tuanya dan keluarga besarnya. Bahwa Rania adalah wanita yang bisa membahagiaakan dia dan bisa menjadi istri yang baik sesuai ajaran islam. Adam bahkan berjanji akan merubah Rania menjadi wanita yang orang tuanya inginkan, yaitu taat agama. Ketika Adam sudah mendapatkan kepercayaan dari orang tuanya. Justru ia dikagetkan dengan kabar bahwa Rania pergi dengan Naqi.
Sedih, kesal, marah ketika keluarganya kembali tidak percaya dengan omonganya yang dianggap terlalu mengagungkan Rania, tetapi wanita itu justru memiliki sifat kebalikanya.
"Cuma mau curhat tapi kayaknya waktunya nggak tepat, ada yang lagi pata hati sedang curhat juga kayaknya," ucap Adam dengan sinis. Tuntuanya menyindiri Naqi. Yang Adam kira Naqi tengah patah hati, karena Rania memiliki kekasih yang lain. Memilih laki-laki yang lebih berumur dan telihat lebih mapan dari Naqi.
Braaaakkkk... suara meja yang Naqi gebrak dengan keras. Ia yang otaknya lagi panas, malah dibuat panas dengan ucapan Adam sehingga gampang terpancing.
__ADS_1
"Qi udah lah, kalo kalian mau ribut di luar sanah, jangan di ruangan gue," usir Sam yang merasa Naqi menjadi semakin membuat menyebalkan dengan tingkahnya yang seperti anak-anak. Padahal dulu Naqi selalu pembawaanya tenang dan bijaksana. "Apa karena cinta bikin otak kehilangan kewarasanya," batin Sam sembari menatap Naqi dengan tajam.
"Dia yang mulai Sam, gue ajah nggak ngapa-ngapain dia main sindir-sindir ajah," tunjuk Naqi dengan menunjuk wajah Adam yang hendak duduk di sampingnya. Udah tau Naqi lagi kebakaran Adam malah sengaja duduk di dekatnya. Semakin menjadi gosong dong.
"Gue nggak nyindir. Gue ngomong kenyataan kok benar kan yang gue katakan kalo loe sedang nggak baik-baik saja hatinya. Lagi panas? Cemburu apa lagi?" ujar Adam dengan santai duduk.
"Kayaknya bukan urusan loe, kalau pun gue cemburu atau apa, karena gue nggak akan minta bantuan sama loh. Lebih baik loe urusin Rania, bukanya dia lebih butuh loe, ngapain loe kesini bikin rusak mood gue ajah," sungut Naqi, yang merasa Adam terlalu ikut campur urusanya ajah.
Hehehe Adam terkekeh... "Jadi udah bosen bermain-main dengan Rania terus loe kasih sisanya sama gue," ledek Adam, sontak membuat Naqi naik darah.
Buuughhh... Naqi meninjuk Adam dengan kuat.
Buuuughh...
__ADS_1
Buuughhh... Adam pun tidak kalah ia meninju Naqi dua kali
Setoooppp!!! Kalian bener-bener kaya bocah yah. Kalo mau berantem di luar biar ketahuan sama pihak rumah sakit biar di panggil kalian semua. Apa mau aku yang melaporkan kalian karena bikin kegaduhan di ruangan gue." Sam nampak marah dan kesal bahkan wajahnya sampai memerah.