Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Mengadu Ke Mamih


__ADS_3

Sebelum Naqi benar-benar pulang, tidak lupa Cyra lebih dulu memberi kabar pada orang-orang di rumah Tuan Latif. [Mih, hari ini Mas Naqi akan pulang yah] Seperti itu kira-kira pesan yang Cyra kirimkan ke mantan mamah mertuanya.


Di rumah Tuan Latif di mana kebetulan mamih tengah memainian ponselnya pun langsung membaca pesan dari mantan menantu kesayanganya yang baru masuk. Mamih pun menyipitkan kedua bola matanya ketika membaca pesan dari Cyra. [Loh kok cepat sekali Naqi pulang sayang, apa dia sudah sembuh?] tanya Mamih, sebab dokter kemarin berkata, bahwa untuk beberapa hari kedepan Naqi di minta melakukan rawat inap agar lukanya sembuh dulu, dan apabila sudah lumayan kering dan kemungkinan besar bisa di rawat di rumah baru Naqi diizinkan pulang. Tetapi kenapa sekarang Cyra mengirimkan pesan bahwa Naqi sudah mau pulang. Sontak mamih sedikit kaget.


[Enggak tau lah Mih, Mas Naqi yang memaksan ingin pulang, dan istirahat di rumah saja katanya. Padahal dokter masih menyarankan untuk melakukan rawat inap, karena lukanya masih sangat basah dan beresiko semakin parah, kalo di rawat di rumah, tapi Mas Naqi kekeh sudah tidak betah di rumah sakit dan ingin buru-buru pulang,] balas Cyra mengadu sama mantan mamih mertuanya, siapa tahu kalo mamih tahu bisa menasihati Naqi.


[Aduh anak itu memang benar-benar deh. Biarin sayang nanti kalo sampe di rumah mamih jewer, dan mamih mau siap-siap bikin pidato buat memberi petuah-petuah buat anak nakal itu.] Mamih menenangkan Cyra, dan berjanji menasihati putranya. Sedangkan Cyra yang membaca balasan dari mamih pun tertawa seorang diri, sementara itu Naqi yang sejak tadi memperhatikan Cyra pun mengernyitkan dahinya. Heran kenapa Cyra bisa tertawa seorang diri.


"Kamu kenapa Ra, kok ketawa-ketawa sendiri?" tanya Naqi kepo. Sedangkan Cyra yang ditanya Naqi pun menoleh ke arah Naqi.


"Kepo," jawab Cyra dengan ketus. "Orang yang tidak mau ikuti saran dokter di larang kepo!" balas Cyra dengan menekankan kata-katanya. Saat itu juga, Naqi pun langsung manyun.


"Nanya doang, pelit banget," beo Naqi tidak kalah dengan Cyra. Namun di dalam hati Naqi ada rasa senang karena Cyra sudah kembali seperti dulu. Cyra yang galak seperti ini yang membuat Naqi selalu kangen kebersamaanya.


Cyra kembali melanjutkan berkirim pesan dengan mantan mamih mertuanya. Sementara Naqi memperhatikan dari ranjang pasienya. Kini mereka tengah menunggu suster untuk membuka peralatan medis yang menempel ditubuh Naqi, setelahnya mereka akan pulang ke rumah.


Aw... ringis Naqi ketika suster mulai melepaskan alat-alat yang ada ditubuhnya. "Pelan-pelan sus, ini sakit sekali," oceh Naqi, ketika suster akan mencabut jarum selang infus di tangan kirinya.


"Iya Pak, Lagian ini itu sakitnya hanya sedikit kok, seperti di gigit semut," balas suster, mungkin apabila Naqi tidak sedang sensi suster ingin tertawa dengan kencang Menertawakan Naqi yang takut jarum suntik itu.

__ADS_1


"Di gigit semut apaan, ini itu sakit banget suster. Semut kalo gigitnya sakit kayak gini sudah habis di bunuhin sama manusia," dengus Naqi, sembari membuang pandanganya tidak ingin melihat suster yang ada di sampingnya itu. Menerut Naqi suster ini bukanya menenangkan Naqi yang sedang menahan sakit, tetapi justru membuat Naqi jadi emosi perihal cabut selang infus.


Sementara Cyra yang tengah berdiri di belakang suster menunduk dan tersenyum samar. Cyra juga ingin tertawa renyah, tetapi takut menyinggung Naqi yang sedang emosi.


Derama cabut selang sudah selesai. Meskipun Naqi harus mengomel sepanjang suster melakukan tugasnya. Sekaran lagi-lagi Cyra harus terkekeh ketika Naqi berusaha berjalan dengan punggung luka dan itu menyakitkan Naqi. Cara jalan Naqi itu seperti ibu-ibu yang tengah hamil besar dan satu tangan menyangga punggunya yang Naqi rasa sakit sekali.


"Aduh... aduh... kenapa ini sakit sekali," ucap Naqi ketika ia bangun dengan di bantu Cyra.


"Nah kan sakit, Mas Naqi ngeyel sih segala pengin pulang sekarang ya begini akibatnya Mas Naqi harus menahan sakit. Makanya kalo dibilangin dokter itu nurut, jangan sok kuat, padahal cengeng juga," omel Cyra kembali ke model gemesin fersi Naqi.


"Enak ajah siapa yang cengeng Ra, aku bukan cengeng Ra cuma rasanya kalo bibir tidak ngomong nggak enak," elak Naqi tidak mau dong di katakan cengeng. Dia memang takut jarum suntik dan tidak bisa minum obat, pobia darah dan takut sakit, tetapi bukan Berati dia cengeng. Malahan Naqi tidak pernah menangis hanya karena harus minum obat, disuntik atau yang lainya, sehingga Naqi tidak terima ketika Cyra sebut cengeng.


Bibir Naqi memang tidak berhenti untuk ngedumel, tatapi ia tidak menangis. Marah-marah yang Naqi lakukan hanya sebagai cara dia meluapkan rasa sakitnya.


"Hati-hati Mas, kalo nanti lukanya pecah dan berdarah rasanya akan sangat perih dan pegal loh," ucap Cyra memperingatkan agar Naqi tidak sembrono dalam melakukan apapun itu. Karena luka di punggungnya masih sangat basah dan masih ada kemungkinan untuk pecah, dan menimbulkan luka yang lebih parah lagi.


"Kamu jangan nakut-nakutin aku dong Ra," ucap Naqi dengan wajah yang memucat. Cyra ingin sekali tertawa dengan puas ketika melihat wajah ketakutan Naqi.


"Saya tidak menakut-nakuti Mas Naqi, itu yang Cyra rasakan dulu, ketika luka melepuhnya pecah sangat menyakitkan bahkan berkali-kali lipat rasa sakitnya dari pada sakit di awal."

__ADS_1


Naqi pun langsung bergidig ngeri. Membayangkanya pun ia sudah ketakutan duluan apalagi kalo benar-benar lukanya pecah seperti yang Cyra katakan bisa-bisa ia menangis tiada henti seperti anak kecil.


"Lalu caranya biar tidak pecah gimana Ra? Aku jadi takut membayangkan sakitnya," tanya Naqi berharap Cyra memberika solusi agar luka yang ada di punggungnya tidak makin parah.


"Mas Naqi tetap di rawat di rumah sakit ini," jawab Cyra dengan menekankan setiap katanya.


"Selain itu Ra, aku tidak bohong aku tidak nyaman banget tinggal di rumah sakit," papar Naqi dengan wajah memohon pengertian dari Cyra.


"Kalo begitu caranya cuma ada satu, yaitu berdoa sama Allah agar lukanya tetap aman." Cyra menjawab dengan menahan senyum, karena melihat wajah Naqi yang ketakutan itu sangat lucu.


Cyra dan Naqi pun kini sudah ada di dalam mobil. "Pak, bawa mobilnya pelan-pelan saja yah, karena Mas Naqi masih sakit, tapi dia bandel, tetap pengin pulang," sindir Cyra sembari melirik ke arah mantan suaminya.


Namun Naqi pura-pura tidak mendengar omongan Cyra, ia sedang sibuk berdoa agar lukanya tidak pecah. Mengikuti apa kata mantan istrinya yang galak itu.


"Baik Nona!"


Cyra pun kembali fokus memainkan ponselnya di mana dia sedang berkirim pesan dengan Fifah, untuk menanyakan anak angkatnya. Mungkin Cyra takut kalo Fifah tidak menjaga anak angkatnya dengan baik. Sehingga Cyra lebih posesif dari pada emak kandungnya sendiri.


...****************...

__ADS_1


Teman-teman sembari nunggu gimana galaknya Cyra. Mampir ke karya bertie othor yuk. Kenalan dulu sama penulisnya yah namanya kaka SyaSyi, langsung ajah yuk mampir ke karya kece satu ini, cari di laman pencarian, tekan fav dulu sebelum baca dan jangan lupa tinggalkan like, comen dan hadiahnya bagi-bagi juga yah biar sang othor bahagia....



__ADS_2