Jangan Hina Kekuranganku

Jangan Hina Kekuranganku
Kecoa Yang Lancang


__ADS_3

Brak... pintu besi tertutup dengan keras. Qari yang saat itu masih terisak sedih, begitu tahu ada yang masuk ke atap gedung yang sama, ia langsung meloncat buru-buru mengenap-endap bersembunyi di belakang kursi di mana di sana ada satu drum besar sehingga tubuh kecil Qari bisa di sembunyikan di balik drum itu.


"Apa? Gi-la yah itu orang kalo tidak mau dengan harga segitu tidak usah menyewa! Karena yang mau nyewa gedung itu masih banyak. Kamu sampaikan sama orang miskin itu! kalau satu bulan tidak sampai lima puluh miliar makan kerja sama batal!" Deon, yah nama laki-laki yang mengagetkan Qari karena pintu yang dibanting itu adalah Deon. Pemilik gedung yang atapnya ia jadikan persembunyianya. Mulut Qari terus komat-kamit untuk sebuah doa, agar ia terhindar dari masalah, saat ini


Laki-laki yang terlihat tengah marah-marah hanya karena ada seorang pengusaha ingin menyewa gedung perkantoran, tetapi minta harga di murahkan. Deon tidak setuju apabila harga yang sudah menjadi tarifnya segitu, dengan enting ada yang menawarnya.


Sementara Qari yang mendengar angka lima puluh miliar dalam kurun waktu satu bulan matanya langsung melotot. "Kalau satu bulan ajah lima puluh miliar gimana satu tahun? Terus gedungnya ada berapa yah kira-kira?" batin Qari ia sibuk mengitung uang sewa gedung milik laki-laki yang sekarang sedang terlibat duduk santai kaki di selonjorkan, sebelah tanganya di senderkan ke punggung kursi, yang beberapa waktu lalu di duduki oleh Qari, tetapi kali ini kursi itu dikuasai oleh laki-laki misterius nan tampan.


"Kira-kira cowok itu namanya siapa yah? Pasti kaya banget," ucap Qari tidak henti-hentinya memikirkan uang orang.


"Huaaa... Huaaa...Tolong...."


Pekikan Qari mengagetkan laki-laki yang sedang duduk santai itu. Namun sedetik kemudian laki-laki itu kembali bersantai.


"Kecoa... Tolong ada kecoa" Qari yang sedang bersembunyi di balik drum dan berniat akan mengendap-endap ke arah pintu lalu kabur untuk kembali ke kantor. Sebelum abang Naqinya mengetahui bahwa ia telat. Namun belum juga ia keluar dari balik persembunyianya. Di belakang tubuhnya berasa ada yang berjalan. Qari menggerakan tanganya untuk mengecek mungki saja hanya serangga kecil yang nakal. Namun baru saja tanganya sampai pundak seekor kecoba berpindah ketanganya.


Sontak Qari yang memang takut dengan kecoa pun langsung mengelepakan tanganya agar kecoa itu pergi, tetapi sepertinya kecoa itu terlalu suka dengan Qari sehingga justru nempel kedepan dadanya dan masuk ke dalam kemejanya melalu kerah baju yang memang sengaja Qari buka kancingnya lebih rendah. Itulah ciri khas pakeian Qari kemeja dengan kancing di buka lebih bawah dari yang normal orang lain kenakan.


Qari sembari menggerak-gerakan kemejanya keluar dari persembunyianya dan berjingkrak agar kecoa itu mau keluar dari dalam bajunya.


Deon yang memang tahu bahwa di belakangnya ada yang bersembunyi pun tidak kaget ketika Qari berteriak-teriak. Dio tahu bahwa Qari memang sungguhan ada kecoa yang masuk, tetapi memperhatika Qari yang sedang ketakutan membuat hatinya terasa puas. Qari tidak begitu fokus dengan laki-laki yang sedang menatapnya dengan senyum mengembang. Namun tubuhnya masih duduk santai.

__ADS_1


Karena semakin panik Qari pun membuka kemejanya dan melepasnya melemparnya yang ternyata kecoa itu memang menempel di kemeja bagian dalam pantas saja kecoa itu tidak mau turun. Begitu pikiran Qari.


Untung Qari memakai tank top sehingga dia tidak perlu begitu malu ketika membuka kemejanya. Qari memungut ulang kemejanya yang tadi ia injak-injak karena ada kecoanya.


Setelah mengibas-ibaskan kemejanya Qari lalu memakainya kembali. Tetapi Qari langsung tercengang bahwa sejak tadi dia di perhatikan dengan tatapan lapar oleh laki-laki yang bahkan Naqi tidak mengenalnya.


Qari yang saat itu tengah mengancingkan kemejanya pun langsung menutup pakaianya agar dadanya yang memang tidak terlalu besar tidak terlihat oleh laki-laki itu.


Senyum laki-laki itu seolah mengejek karena bentuk ukuran milik Qari yang bahkan tidak bisa membuat ia ber'nafsu melihatnya.


"Loe ngapain liat gue lapar gitu?" tanya Qari jutek. Kejutekanya bertambah ketika melihat senyuman yang mengandung arti melecehkan dari laki-laki yang bahkan tidak ia kenal namanya.


Cihhh... Qari mendesis jijik melihat kelakuan laki-laki menjengkelkan di hadapanya.


"Kenapa enggak bantuin sih tadi. Malah liatin ajah, emang aku sirkus apa. Orang mah bantuin ada yang ke susahan. Biar nanti di balas kalo kesusahan oleh orang lain," sindir Qari sembari pandanganya di buang ke lian arah. Tidak ingin melihat laki-laki sombong dihadapanya. Selain sombong juga enggak peka, dan jutek.


Qari pikir abangnya saja yang masih bisa diajak bercanda, udah jadi mahkluk pria paling menjengkelkan fersi dia. Tapi malah di hadapanya ada sepesies yang lebih menjengkelkan lagi.


"Gue. Bantuin loe rabah-rabah dada loe yang enggak ada isinya. Ogah amat lagian enggak gue bantu juga kecoa itu udah mati kan, terus gue bantu apa? Giliran gue bantu ke pegang bukitnya nuduh pelecehan s*ksual. Udah biasa oknum berkelompok semacam itu. Ujung-ujungnya nakut-nakuti dengan lapor polisi, dan kalo mau memang tidak dilaporkan ada uang damai sekian miliar. Maaf Mba gue udah kebal cara-cara licik seperti itu." Deon sengaja.memancing Qari agar terus terusut emosinya.


"Amit-amit semiskin-miakinya gue, enggak akan gue melakukan penipuan semacam itu. Gue masih punya harga diri," bela Qari dengan emosi yang benar-benar sudah tinggal meledaknya saja.

__ADS_1


"Iya gue akan pura-pura percaya. Harga diri yang seperti apa yang dengan sengaja membuka bajunya di hadapan laki-laki normal? Untung burung beo gue tidak bangun karena melihat bukit loe yang nggak ada isinya itu." Deon sengaja menunjuk kema-luanya yang masih dalam tidurnya tidak terpancing dengan Qari yang membuka baju di hadapanya. Padahal pada kenyataanya di bawah sana juga di tengah berusaha menahan burung beonya yang nakal mencari sarangnya.


"Terserah loe ajah, malas gue ngomong sama loe." Qari pun beranjak dan betsiap akan kembali ke kantornya.


"Mbak lain kali kalo mau datang kegedung orang izin sama yang punya, jangan menyelinap kayak maling." Deon berbicara dengan lantang agar Qari tahu bahwa perbuatanya sudah membuat Deon tidak nyaman. Karena atap gedung ini adalah tempat fovoritnya. Namun ia jadi terganggu karena Qari yang memasuki ruanganya dengan santai.


Brak... Brak... Brak...


Pintu dari besi berat itu tidak bisa di buka. "Heh, pintu sengaja loe kunci yah?" pekik Qari dengan jati diri aslinya tanpa jaim atau apapun itu, padahal laki-laki yang bersama denganya saat ini bisa dibilang laki-laki dengan tampang ter tampan dari laki-laki yang pernah ia temuinya.


Bahkan Qari sempat terpesona sesaat ketika pertama kali melihat wajah tampan itu. Tetpai sejak tahu kejutekan dan sifat dingin laki-laki itu pun membuat Cyra enggak untuk bertemu dengan laki-laki sepeti itu.


Deon melirik kearah Qari yang masih bersusah payah mencoba membuka pintu besi itu.


"Dasar cewek bodoh, sampai kiamat juga kamu enggak akan bisa buka. Kan aku sudah minta security mengunci dari dalam," gumam Deon tetapi pandangan matanya masih terus mengawasi usaha Qari. Senyum mengejek terlihat jelas di wajah tampan Deon.


...****************...


Hay Readrs othor mau kenali karya baru othor yuk ikuti kisah penuh perjuangan Zifa untuk mendapatkan keadilan yang terenggut dari keluarganya.


__ADS_1


__ADS_2