
hari ini adalah malam Midodareni, keluarga dari Ndoro Shaka datang membawa seserahan yang tak terhitung jumlahnya.
bahkan Ndaru terlihat tampan mengenakan pakaian beskap Jawa dan tak lupa blangkon yang menambah ketampanannya.
sedang yang di izinkan melihat pengantin wanita hanya para wanita dari keluarga calon suami.
Rinjani terlihat cantik dengan sanggul dan baju kebaya berwarna merah maroon yang senada dengan pakaian Ndaru.
di rumah Rinjani hanya di adakan sambutan secara sederhana sesuai dengan kemampuan keluarga.
dan besok acara pernikahan akan di laksanakan secara wah di kediaman pengantin pria.
setelah acara Midodareni selesai, Rinjani melepaskan semua atribut yang dia kenakan, tak lupa dia membalurkan hand body ke rambutnya yang tadi di Sasak.
karena itu benar-benar menyakitkan untuknya, tapi mau bagaimana lagi dia harus mengikuti semua adat yang di laksanakan.
setelah rambutnya lemas, dia buru-buru membalurkan hair oil juga supaya mempercepat dia bersih-bersih.
setelah merasa dia siap, dia langsung pergi mandi mencuri waktu saat semua orang lengah.
dan akhirnya rambutnya pun bisa normal karena dia memiliki rambut panjang, jadi kemarin sempat di pyong sebagian agar tak menyulitkan penata rias.
setelah mandi dia mengeringkan rambutnya, Hasna dan Ariana baru masuk kedalam kamar dan kaget melihat Rinjani sudah bersih.
"mbak sudah bersih saja?" tanya Hasna.
"sudah diam, aku tadi curi-curi waktu untuk membilas rambut ku karena hair spray tadi bisa merusak rambut, sekarang bantu aku memakai vitamin rambut ini ya," mohon Rinjani.
"baiklah, oh ya aku bawa makanan, aku tau mbak Rinjani belum makan kan, jadi aku membawanya," kata Ariana
"itu buat kamu, tolong ambilkan aku nasi putih dan garam, dan jangan lupa air putih saja ya," kata Rinjani.
"tapi mbak," kaget keduanya
"tenang, aku sedang melakukan puasa mutih, jadi itu biasa, sudah cepat ambilkan," kata Rinjani yang di turuti oleh gadis itu.
__ADS_1
Ariana kembali datang dengan membawa apa yang di pesan oleh calon kakak iparnya itu.
sedang di rumah Ndoro Shaka sangat sibuk, semua saudara datang tapi hanya ada satu orang yang tak ada di sana yaitu Dika.
ya pria itu sedang melakukan tugasnya sebagai polisi, karena bekas tengkorak manusia di temukan di tengah perkebunan tebu warga.
dari tim forensik mengatakan jika dari bentuk dan kondisi mayat, sepertinya sudah meninggal sekitar tiga Minggu yang lalu.
dan mereka mengidentifikasi jika itu adalah seorang perempuan muda berusia sekitar tujuh belas sampai dua puluh lima tahun.
Dika pun mengerahkan semua timnya untuk mencari bukti dan mengumpulkan semuanya saksi dan juga informasi orang hilang yang masuk ke kantor polisi.
dia tak mengira, belum dua bulan tapi sudah ada enam wanita hilang dan tiga di temukan sudah tinggal tilang belulang.
tapi yang sadis semuanya dalam kondisi yang sama yaitu terpotong menjadi bagian yang kecil-kecil.
polisi bahkan belum bisa menemukan pelakunya. sedang kasus yang melibatkan Rinjani sudah di tutup karena pelaku yang di tangkap menilih mengakhiri hidupnya di penjara.
pukul dua belas malam akhirnya Dika memutuskan untuk pulang, "baiklah aku rasa kalian bisa membereskan semuanya, kalau begitu aku pamit ya,"
"tak masalah, kalau begitu besok malam aku kembali dan membatalkan cuti ku, jadi kalian bisa menelpon ku kapan saja," jawab Dika.
pria itu pergi dengan mobil Jeep miliknya, dan menuju ke rumah yang terlihat masih begitu ramai karena ada yang sedang memasang dekor pelaminan.
Dika menyalami Ndoro Shaka ayahnya dan juga Ndoro Prapto kakeknya.
"ya ampun pak polisi jam segini baru pulang, memang kasus apa yang kamu tangani?" tanya pria sepuh yang masih terlihat gagah itu.
"anu eyang, biasa kasus pembunuhan, kali ini tidak hanya di potong jadi dua, tapi di potong jadi tiga puluh, dan itu sangat merepotkan," kata Dika.
"sudah Dika, lebih baik sekarang kamu masuk kedalam rumah, dan istirahat, mulai sekarang semua aktifitas kalian Romo akan batasi," perintah Ndoro Shaka.
"baik Romo, Dika mengerti dan biarkan saya menemui mas Ndaru dan mas Angga sebentar," pamit pria itu.
dia pun langsung berlari mencari kedua pemuda itu yang ternyata sedang melakukan lulur.
__ADS_1
"semuanya keluar!" perintah Dika.
"hei kenapa, kamu sepertinya marah Dika," kata Angga yang melihat adiknya itu.
"aku mohon kalian berdua, berhentilah sekarang, kura akan memiliki hidup baru, jadi hentikan kebiasaan buruk ini, terlebih aku lelah terus membereskan semua masalah yang kalian timbulkan," kesal pria itu.
"woy sabar dong,kamu itu kenapa kok datang-datang mengamuk, tenang Dika, kita bisa bicara baik-baik," kata Angga yang menertawakan pria itu.
tanpa di duga Dika malah menyerang kakaknya itu, "aku bilang berhenti melakukannya sialan!!"
Angga yang menerima pukulan dari adiknya pun tak terima langsung mengejar duka dan akhirnya keduanya adu jotos.
melihat kedua adiknya uang berulah, Ndaru mengambil air dan menyiramkan Kepa mereka.
tapi keduanya yang tersulut emosi pun ingin menyerang pria itu, dengan santai Ndaru berdiri dan menampar keduanya.
"aku tak akan mengulanginya lagi, tapi bisa kalian diam, maafkan kami Dika, tapi sebelum kamu menyalahkan kami kamu juga tentu harus berubah, karena nyatanya kamu sendiri juga begitu, jadi jangan menyalahkan orang lain,sebelum kamu bisa melihat diri mu sendiri," kata Ndaru yang membuat adiknya itu diam.
"tapi aku janji padamu, ini terakhir kali aku menyusahkan mu, karena sebentar lagi aku punya mainan yang bisa aku permainkan sesuka hati," jawab pria itu.
"ya aku juga, karena aku akan fokus dengan semua usahaku, terlebih kami juga lelah jika harus senantiasa menebar teror seperti itu," kata Angga.
akhirnya mereka bertiga sepakat untuk berhenti dan fokus pada kehidupan masing-masing.
setelah membersihkan diri, mereka bertiga duduk dan menikmati makan malam, karena malam ini tak ada yang diperbolehkan tidur oleh nyai Laila guna menghindari kesialan.
bahkan Ndaru memilih berlatih untuk membentuk tubuhnya agar tak merasa mengantuk.
begitupun dengan kedua adiknya, tapi mereka malah salah karena tubuh yang lelah ketiganya pun akhirnya ketiduran di tempat latihan.
nyai Laila awalnya ingin membangunkan ketiganya, tapi karena kasihan jadi dia membiarkan saja karena yakin tak akan ada masalah saat pernikahan.
keesokan subuh, penata rias datang dengan membawa semua keperluan, terlihat mereka sedang membakar sesuatu sebelum mulai merias pengantin.
dan di kamar itu tak di izinkan siapapun masuk, karena saat merias, patah manten butuh ketenangan.
__ADS_1
Rinjani pun memilih untuk pasrah saja dengan semua yang di lakukan oleh patah manten itu.l