
"loh kang mas sudah bangun, perkenali dia EO yang membantu merancang pesta kali ini kang mas, dan jangan menunjukkan wajah seram begitu dong," jawab Rinjani menghampiri suaminya itu.
tapi karena tak hati-hati, kaki Rinjani menginjak sebuah manik-manik yang cukup tajam.
"au..."
Ndaru langsung mengendong istrinya itu dan melihat kaki wanita itu dan meniupnya dengan pelan, "hati-hati, kamu itu tetap ceroboh ya,"
"maaf, pak Nandaka bisa menunjukkan bunga yang bisa di pilih kepada kedua orang tua kami, dan mbok Yem tolong ambilkan minum untuk tamu," kata Rinjani.
"baik Nyai muda," jawab mbok Yem yang langsung undur diri.
Rinjani ingin bangun, Ndaru mengulurkan tangannya sebagai pegangan tangan istrinya.
Rinjani pun merangkul lengan suaminya itu dengan mesra.
"masih sakit?"
"tidak kang mas, hanya sedikit nyeri tapi nanti akan sembuh, jadi tolong lihat desain dan gambaran tempat pesta nanti ya," bisik Rinjani.
"baiklah," jawab Ndaru yang tak ingin istrinya berdekatan dengan pria lain.
"kenapa kalian berdua masih santai, sekarang ganti kalian yang bantu," kata Ndaru pada dua adiknya.
"iya iya kami bantu, gak usah esmosi gitu dong mas, santuy saja ya," kesal Angga.
tak terduga, Ndaru malah memukul kepala adiknya itu karena kesal, "ini kelapa sudah di doakan, jangan seenaknya mukul dong!"
"ha-ha-ha, kenapa mulut mu belepotan mas, masak bilang kepala saja jadi kelapa?" ejek Dika.
Angga langsung memiting kepala Dika di ketiaknya, "ih nyebelin banget sih kamu,"
tanpa di duga, Ndaru membanting kedua adiknya yang tak bisa akur, "kalian begitu berisik,"
ketiga istri mereka kaget melihat itu, Angga dan Dika kesakitan tapi tak bisa melawan, terlebih tak mungkin mereka melawan Ndaru yang lebih kuat.
"ah maaf ya pak Nandaka, mereka memang sering bercanda seperti itu," kata Nyai Laila.
"apa? itu bercanda nyonya?" kaget Nandaka tak percaya.
__ADS_1
dia membayangkan bagaimana rasa sakitnya di banting begitu keras seperti itu.
pasalnya suara bantingan itu terdengar sangat keras, tapi dua pria itu baik-baik saja dan bangkit dengan santai.
kini ketiganya duduk di bawah bersama Nandaka yang menjelaskan tentang konsep dan tata letak.
Ndaru menyukai Semuanya, dan Nandaka mengatakan jika sekarang tenda mulai di pasang karena tempat pesta akan di buat seperti gedung.
bahkan dia memastikan tak akan ada yang bocor dan kesalahan meski hujan datang.
ketiga menantu rumah itu selesai dengan semua sovenir yang akan di bagikan.
isi kota sovenir itu adalah kipas tangan, sebuah perlengkapan mandi (lulur, sabun dan juga scrub), minyak wangi dan juga sebuah tas, itu untuk tamu undangan wanita.
sedang untuk para tamu undangan pria, isi sovenir itu adalah ikat pinggang, perlengkapan mandi, minyak wangi dan juga sebuah jam tangan.
semua sovenir di tata di mobil dan akan di antar ke tempat acara besok, dan akan di simpan di gudang khusus milik keluarga untuk sementara waktu.
"mbak ada masalah, brokat milik mbak Rinjani kependekan," kata Anjani yang baru saja membaca pesan dari penjahit itu.
"bagaimana bisa, mbak membeli sesuai ukuran," kata Rinjani.
"ah iya, tapi aku kemarin lupa tak meminta pemilik toko memotong brokat, jadi mungkin Bu Tutik salah potong apa gimana," kata Ariana merasa sedih.
"Hasto, Epen, Seto, kawal istriku, dan pastikan jika dia aman dan tak terjadi apa-apa di sana," kata Ndaru.
"sendiko Ndoro muda!!" jawab ketiganya.
Rinjani pun masuk kedalam mobil di mewah itu, dan Hasto yang menjadi supir, sedang Epen dan Seto naik motor karena tak ada yang boleh duduk berdekatan dengan Rinjani.
Nandaka tak mengira jika pria di depannya itu bisa seketat itu menjaga istrinya.
"apa dia gila, cuma mau ke tempat penjahit, bahkan memberi tiga pengawal," batin Nandaka heran.
"kenapa melihatku seperti itu, apa kamu keberatan dengan apa yang aku lakukan?" suara Ndaru dingin membuat Nandaka terkejut.
"tidak tuan, jadi apa masih ada kekurangan, dan untuk bunga saya membawakan semua yang di request oleh nyonya tadi," kata Nandaka berhati-hati karena tak ingin mati konyol di rumah mewah ini.
meski rumah ini begitu mewah, tapi ada perasaan yang mengerikan dan tak nyaman, karena suasana yang terasa begitu kaku dia rasakan.
__ADS_1
mobil yang mengantar Rinjani sampai, tapi yang pertama masuk adalah Epen dan Seto.
saat kedua pria itu masuk,benar saja, seorang wanita menyerangnya, ternyata itu Ayusta.
"wanita gila ini!!" bentak Seto menendang wanita itu hingga terpental.
Ayusta pun pingsan, dia tak mengira jika yang datang malah para centeng kepercayaan dari Ndaru.
Epen membuka ikatan dari Bu Tutik, dan sekarang Seto mengikat Ayusta di tiang.
"jadi ini yang membuat ku berpikir aneh, bagaimana bisa brokat yang di beli lebih, bisa kurang, ternyata kamu yang merencanakan ini sepupu?"
"Nyai tolong jangan mendekat, karena wanita ini berbahaya, Seto dan Epen bereskan, kalian mengerti bukan," kata Hasto melempar kunci mobil.
"baik cak Hasto," jawab keduanya.
keduanya pergi membawa Ayusta pergi ke sebuah tempat yang jauh, sedang Hasto menunggu Rinjani yang melihat hasil desain dan sedikit memberikan saran.
beruntung Bu Tutik tak mengalami luka yang parah, jadi wanita itu tetap bisa bekerja, dan nanti dia akan mendapatkan bonus dari Rinjani.
Ayusta yang masih pingsan di bawa kesebuah tempat yang hanya di datangi oleh orang-orang kepercayaan dari Ndaru.
"ambil di bagasi, barang baru, tapi buat di hilang ingatan dan jangan sampai mengecewakan, ingat itu," kata Seto dengan dingin.
"baiklah cak Seto," jawab dia orang pria itu
mereka membawa masuk Ayusta yang masih belum sadarkan diri, wanita itu akan menghadapinya hal yang akan merubah dirinya.
karena wanita itu terlalu sering membuat Rinjani menghadapi masalah.
hanya karena dendam, sekarang Ayusta akan berakhir dengan sangat buruk di tempat itu.
"Seto, ini tempat apa?" tanya Epen yang baru pertama kali melihat tempat itu
"ini adalah rumah bordil terbesar di kota, kamu tak sadar ya, ini adalah jalan belakang, dan ingat saat kamu tau ini, berarti nyawa muntah aman saat berani membocorkannya," kata Seto.
"ah sekarang aku mengerti, tentu aku akan tutup mulut," jawab Epen.
Nandaka sudah pamit pergi, tapi dia tak bisa disana lebih lama karena dua tak ingin berurusan dengan Ndaru yang memberikan ancaman dari tatapan tajam.
__ADS_1
bukan apa, bahkan saat Nandaka menitipkan salam untuk Rinjani, pria itu sudah menggertakkan giginya marah.
"ah keluarga gila ini begitu mengerikan, tapi kenapa mereka memiliki para menantu wamura yang cantik dan begitu ceria, apa para gadis itu buta," kata Nandaka tak percaya.