
Dika masih berada di kantor polisi, pasalnya dia belum bisa pulang, karena kasus yang dia tangani begitu banyak terutama kasus pembunuhan.
meski beberapa kasus sudah di tutup karena tidak adanya barang bukti, tapi masih ada beberapa hal yang diperlukan.
dia memutuskan menelpon orang rumah karena dia tidak akan bisa pulang.
dia menghubungi sang ibu yang kebetulan sedang santai malam ini, "selamat malam Bu," sapanya dengan lembut.
"malam Dika, ada apa kok tumben menelpon ibu?"
"iya ibu, aku ingin bilang sepertinya malam ini aku tidak bisa pulang karena ada banyak pekerjaan, dan bisakah mengantar makan malam, karena aku ingin makan masakan ibu,"
"baiklah nanti biar mang Lidin yang mengantarkannya atau Dewo saja?"
"minta Dewo saja, karena aku menitipkan sesuatu," jawab Dika.
dia sedang melihat rekaman CCTV itu untuk melihat ciri khas pembunuh itu.
karena bagi setiap orang yang melakukan kejahatan akan ada petunjuk yang di tinggalkan tanpa dia sadari.
seorang pria yang memakai jaket bertudung, pria itu nampak begitu santai berjalan
Dika terus melihat pria itu di beberapa tempat di sekitar tempat kejadian.
dan saat pria itu tak sengaja melihat ke arah kamera, dika langsung tersenyum, "bingo!!! kamu tertangkap,"
Dika tertawa saja, karena dia kenal wajah itu, "Ndoro saya sudah diluar kantor," telpon Dewo.
"tunggu di luar,aku ingin mengatakan sesuatu," jawab Dika.
Dewo pun menunggu dan tak sengaja dia melihat sosok pria yang melintas dengan gerak-gerik yang mencurigakan.
"dewo kenapa di sana masuk dan ada sesuatu yang penting," kata Dika mengajak pria itu masuk kedalam ruangan khusus.
"kau mengenalnya?" tanya Dika menunjukkan laptop miliknya.
"ini bukankah sahabat Ndoro, Arya yang putra pemilik sebuah kos-kosan dengan dua ratus pintu di Surabaya,"
"kamu hebat dan dia kemungkinan adalah pelaku kejahatan pembunuhan yang sedang aku tangani sekarang," kata Dika yang selalu nyaman membicarakan ini bersama Dewo
__ADS_1
"tapi apa mungkin Ndoro, karena seingat saya, dia itu seorang pria yang selalu menjadi orang culik dan sedikit idiot," kata asisten pria itu yakin.
"kamu tak mengerti rupanya, seperti halnya mas Ndaru yang pura-pura lumpuh, apa kamu tak curiga, bagaimana pria idiot seperti itu bisa mengunakan ponsel dan laptop seperti orang normal,bahkan kecepatannya dalam mengetik kata itu melebihi orang normal,"kata Dika yang mengejutkan Dewo.
"berarti dia menyembunyikan kebenaran tentang kondisinya,"
"ya kamu benar, dia menyembunyikan jika dia itu seorang jenius, tapi sayangnya dia itu lupa jika aku menghadapi keluarga yang punya kebiasaan buruk," kata Dika.
Dewo pun mengerti dengan apa yang di maksud, pria itu kemudian memilih untuk pulang dan tak ingin mengganggu tuannya untuk bekerja.
Rinjani sudah lelap tertidur pulas setelah minum obat, dan Ndaru bersiap untuk keluar rumah.
dia ingin mencari angin dan kebetulan dia juga ingin membeli beberapa buah yang di katakan oleh mbok Yem kesukaan dari Rinjani.
pria itu berangkat dengan Hasto, mereka berdua sampai di pasar buah pukul sebelas malam dan ternyata buah-buahan segar baru datang.
dan juga ada sayur,meski di rumah mereka ada pohon buah tapi buah kesukaan dari Rinjani hanya ada di pasar.
mereka membeli buah duku, buah naga,buah pir dan juga jambu kristal.
Hasto ingat jika di tempat ini ada warung yang sangat enak, warung itu menjual sate daging koyor.
"Ndoro kita cari makan dulu ya, aku ingat di sini ada sate enak, kemarin lalu mas Wira mengajak ku makan di sini," kata Hasto
dan ternyata warung itu masih buka, Dika duduk bersebelahan dengan meja Arya dan seorang wanita.
tadinya Arya sedikit kaget melihat sosok Ndaru, tapi pria itu bernafas lega karena Ndaru adalah orang yang cuek.
Hasto sedikit merasa aneh dengan keadaan warung yang ramai dan juga ada pedagang dan pemulung di sekitar sana.
"berhenti memperhatikan sekitar, fokus Hasto, mereka sedang mengawasi seseorang," kata Ndaru santai.
"tapi aneh saja Ndoro, bagaimana bisa di ham segini ada pedagang tidur di pasar dan juga pemulung,"
"sudah ku katakan diam, dan tanyakan apa pesanan kit selesai?"
"baik Ndoro," jawab Hasto yang pergi untuk bertanya.
sedang Ndaru mengirimkan pesan pada adik terkecilnya itu, pasalnya agak buahnya menyamar dengan sembarangan.
__ADS_1
Dika hanya tertawa saja, "sepertinya anak buah ku ceroboh ya, bagaimana ada yang bisa membohongi mu, ayolah kamu itu pria paling menyebalkan kamu tau,"
"terima kasih atas pujiannya, oh ya aku mau nitip sesuatu jika besok kamu pulang,"
"apa mas?"
"tolong belikan wewangian Jasmine, Cendana, dan juga Lily, oh ya dan tolong beli safron juga,"
"apa kamu gila, aku tak mau jika mengunakan uang ku, itu pasti akan membuat kantong ku kempes,"
"tenang aku akan mentransfer uang ke tabungan pribadimu, jadi kamu tak perlu seperti orang miskin begitu," kesal Ndaru.
"baiklah aku tunggu,"Jawab Dika.
Hasto kembali membawa dua gelas teh panas, dan seorang pegawai warung yang membawa pesanan mereka.
Ndaru pun mulai makan bersama Hasto, karena merasa enak, dia pun membungkus tiga puluh tusuk untuk di bawa pulang
setelah makan mereka akan pergi, tapi anehnya Arya begitu lama di warung itu bersama gadis itu.
Ndaru menikmati perjalanan menuju rumah, sesampainya di rumah, Hasto membawa belanjaan ke dapur khusus rumah tinggal milik Ndaru.
dia juga membantu Ndoro-nya itu untuk menata buah-buahan yang di beli.
"sudah sekarang kamu bisa tidur, dan ingat besok kita harus ke Jawa tengah untuk melakukan pekerjaan,"
"baik Ndoro,"
saat Hasto pergi, Rinjani keluar dari kamar karena rumah itu sudah kosong, "kang mas Ndaru dari mana?"
"kamu bangun, aku baru pulang dari beli buah, dan besok selama empat hari tiga malam aku akan di Jawa tengah untuk pekerjaan, ingat kamu sudah bukan gadis lagi,jadi tolong jangan melakukan hal yang memalukan lagi setelah kemarin, mengerti terlebih ini adalah acara bakti sosial yang sangat penting,"
"iya kang mas,lagi pula luka di punggung ku juga sudah enakan," kata Rinjani.
"baiklah, sekarang duduk dulu, aku ingin kamu mencicipi sate yang baru aku temukan yang enak, berikan nilai kamu setuju atau tidak?"
Rinjani penasaran dan mengikuti perintah suaminya, dan ternyata saat mencicipinya.
tanpa sengaja Rinjani sedikit bergoyang kepalanya, dan Ndaru merasa jika istrinya itu aneh.
__ADS_1
"kamu kenapa kok kepalamu goyang-goyang,"
"tidak kang mas, tapi satenya sangat enak, terlebih campuran daging, dan gajih yang rasanya lumer," kata Rinjani dengan senang