
Anjani dan Dika pun memutuskan untuk menikah malam itu juga.
Ndaru dan Rinjani yang tau rencana dari kedua orang itu di buat kaget dan syok.
"apa kamu yakin Dika untuk menikah malam ini, bukankah ini terlalu cepat untuk kalian, setidaknya kalian harus saling mengenal dulu bukan," tanya Ndaru pada adiknya itu.
"kenapa mas, bukankah istrimu sangat mengenal saudaranya itu, dan lagi kami dan mbak Rinjani saja juga tak terlalu dalam saling mengenal, tapi lihatlah kamu bisa jatuh cinta padanya seperti ini," kata Dika tersenyum.
"baiklah terserah padamu,lagi pula kamu tetap akan jadi adikku karena Rinjani lebih tua dari Anjani," kata Ndaru yang membuat Dika tak percaya.
persiapan pernikahan sudah selesai dalam hitungan jam, begitupun acara yang di lakukan tepat di jam dua belas malam.
setelah semua yang di lakukan, mereka pun bersiap untuk berangkat liburan.
tak lupa Nyai Laila dan Ndoro Shaka akan ikut mereka liburan juga, sudah sangat lama mereka tak liburan meninggalkan semua pekerjaan mereka yang sangat menyita waktu.
"jadi kita jadi berangkat ke tempat itu, dan meninggalkan rumah di pengawas tiga asisten kalian, di tangan Wira juga?" tanya Ndoro Shaka sebelum mereka berangkat.
"sudah ayah, aku yakin jika mereka bisa mengatur segalanya, terlebih mereka sudah terlatih, dan kita juga tak sampai menyebrang pulau kan liburannya," terang Ndaru yang membuat Ariana melihat suaminya.
"maaf... kami mengubah tujuan karena Romo dan ibu ikut, jadi kita pergi lain kali saja ya," mohon Angga.
"tidak masalah, asal aku tetap bersama mu,maaf karena aku kemarin begitu menyebalkan," kata Ariana memeluk tubuh suaminya.
Angga kaget, kenapa Ariana bisa secepat ini berubah, tapi itu baik setidaknya dia merasa jika istrinya itu tak terlalu memaksa.
mereka semua pun berangkatkan, tapi para wanita kaget saat melihat kendaraan yang akan mereka naiki.
"kalian yakin kita naik kendaraan ini, ya tuhan kita seperti mau perang!!" kata Nyai Laila tak percaya.
"tapi ini kendaraan yang sangat menyenangkan untuk kita nikmati setiap goncangannya, sudah ayo naik, takutnya saat sampai di sana sudah malam," terang Ndoro Shaka.
Ndaru mengemudikan mobil di temani Ndoro Shaka di sampingnya, sedang Nyai Laila dan Rinjani duduk di kursi penumpang, tapi mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya karena semua barang yang di bawa begitu banyak dan tak lupa semua senjata juga.
"tunggu dulu, ini kita mau bulan madu, apa mau perang, kenapa ada senjata api dan juga senjata panah segala, belum lagi pisau ini begitu banyak," kaget Rinjani.
"sudah sayang, kamu nanti akan tau kenapa kita butuh semua ini," jawab Ndaru.
__ADS_1
mobil mereka menuju ke arah luar kota, tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di kota yang di tuju.
tapi mereka berbelok di sebuah SPBU untuk membeli bensin cadangan,bahkan mereka membeli hingga tiga jirigen dua puluh liter per mobil.
sedang Nyai Laila dan ketiga menantunya sedang di supermarket untuk membeli beberapa camilan.
"sudah siap semuanya,kita berangkatkan?" tanya Dika yang kini mengantikan Angga untuk menyetir.
karena Angga tak akan bisa mengendalikan mobil itu di Medan yang akan mereka lalui.
perlahan mobil pun memasuki area perhutanan, dan yang tak terduga, Ndaru langsung berbelok kearah hutan.
"kang mas!" kaget Rinjani yang merasa mobil begitu terguncang.
mereka pun tak mengira dengan yang mereka hadapi, dan juga bingung, terlebih Ndaru terlihat begitu ahli mengemudikan mobil secara off-road.
perlahan mobil sampai di tengah hutan, dan jalan menuju ke area lapang itu begitu sulit.
bahkan bekas hujan membuat beberapa kali mobil kedua terperosok, tapi beruntung mereka bisa melalui dengan baik.
mobil pun mencari daratan yang lapang dan tak ada pohon yang melintang, dan beruntung akhirnya mereka pun sampai di tujuan.
bahkan tak hanya itu, mereka juga membangun dapur tak hanya itu karena mereka membawa perlengkapan kemah otomatis yang tersambung dengan mobil.
akhirnya dapur jadi dan perlahan hujan mulai turun, Ndaru dan Dika langsung memasang pelindung yang terbuat dari plastik.
ternyata hujan turun dengan derasnya, tapi beruntung tenda mereka tak terganggu sedikitpun.
"kalian mau makan apa, sekarang biar ibu yang memasak?" tanya Nyai Laila.
"ah masak mie sosis dan juga memasak daging yang di bawa saja Bu," kata Angga.
"baiklah, sekarang kalian istirahat," kata Nyai Laila.
tapi ketiga menantunya tak mungkin membiarkan mertuanya itu bekerja sendiri.
setelah makanan siap, mereka mulai makan bersama untuk mengisi perut sebelum melakukan rencana yang akan membuat mereka mungkin sedikit kelelahan.
__ADS_1
setelah makan, kebetulan hujan berhenti, dan Nyai Laila dan Ndoro Shaka memutuskan mencari sumber air sambil mencuci perabotan.
sedang Ndaru akan melatih istrinya bertarung, sedang Angga bersiap berburu dengan Ariana.
begitupun dengan Dika dan Anjani yang juga memilih mencari beberapa tanaman langka atau buah yang ada di sana.
"kang mas, kenapa aku harus belajar hal seperti ini? memang aku harus melakukan apa?" tanya Rinjani heran.
"kamu tentu tau kejadian yang memisahkan kita, itu terjadi karena aku tak menjaga mu, aku berharap saat aku tak ada di sampingmu kamu tetap bisa melindungi dirimu sendiri," kata Ndaru yang memberikan sebuah pedang.
"tapi kang mas mau kemana hingga tak ingin melindungi ku?"
"sayang kamu tau jika musuh keluargaku sangat banyak, jadi kamu harus bersiap dengan apapun yang akan terjadi,"
"baiklah kang mas,aku mengerti," terang Rinjani.
keduanya pun bersiap untuk melakukan latihan, Rinjani merasa jika pedang itu berat, tapi Ndaru benar-benar membuat istrinya itu bisa menguasainya.
dan beruntung Rinjani adalah wanita yang mudah belajar, perlahan wanita itu sudah bisa menguasai pedang itu.
"sekarang kamu harus latihan membidik sasaran, dengan panah," kata Ndaru.
"ingat sayang, meski itu seorang anak lima tahun, kamu tak boleh memiliki rasa iba, karena jika kita mengampuninya, kita akan berakhir seperti kemarin.
karena Romo mengampuni satu orang bayi dari musuhnya, kita sekeluarga hampir hancur karena bayi itu besar dan menuntut balas," kata Ndaru menerangkan.
"baik kang mas," jawab Rinjani.
dia pun belajar mengikat busur panah tradisional Jawa, dan kemudian memasang anak panah dan siap untuk membidik sasaran.
"ingat sayang, fokus pada titik putih di pohon itu, dan pusatkan tenaga mu," kata Ndaru yang melepaskan Rinjani sendiri
"lepaskan!!" teriaknya.
Rinjani pun melepaskan anak panah itu hingga mengenai titik putih itu, meski belum terlalu kuat, tapi itu sudah sangat bagus.
sedang di sumber air, Ndoro Shaka dan Nyai Laila sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
__ADS_1
tak hanya itu, mereka juga menemukan tempat yang mereka cari, yaitu sebuah arca yang telah hilang.
itu adalah tempat yang di akui keramat oleh padepokan yang di pimpinnya.