
Rinjani sudah mulai memasak untuk makan siang, Seto juga sudah berjaga di luar rumah tinggal dari Ndaru.
karena sekarang tugasnya adalah mengawal Nyai baru istri dari Ndoro-nya itu.
Rinjani membuat empat tempat makan, dan mbok Yem bingung melihatnya.
"anu Nyai, maaf ya sebelumnya apa gak kebanyakan?" tanya wanita itu.
"tidak kok mbok, tadi aku bertemu mas Angga dan dia juga mau bekal jadi aku buatkan sekalian dengan asistennya," jawab Rinjani.
mbok Yem tak mengira jika Rinjani bisa sebaik ini,dan wanita ini selalu begitu sopan dengan semua orang yang bekerja di istana Bangura.
terlebih banyak yang sudah sepuh, Rinjani membawa sendiri kotak bekal itu ke depan.
"cak Seto, tolong antar ini ke kantor suamiku ya, nanti tolong bilang jika yang satu tas lagi untuk mas Angga," kata Rinjani.
"aduh tas yang warna apa Nyai?"
"yang warna coklat milik suamiku dan asistennya, dan yang biru milik mas Angga, nanti jangan lama-lama di sana, karena kita harus pergi ke padepokan juga, oh ya nanti setelah mengantar ini langsung ke dapur untuk makan ya," kata Rinjani.
"siap Nyai," jawab pria itu.
Seto pun bergegas pergi dengan mengunakan mobil BMW, karena itu mobil yang akan di kenakan Rinjani.
Ndaru tak ingin istrinya itu di pandang sebelah mata oleh orang, jadi dia memilihkan mobil paling mahal.
Seto sampai di pabrik milik Ndaru, dan setelah memarkirkan mobil yang dia di samping mobil Ndaru.
dia pun bergegas masuk dan langsung menuju kantor pria itu.
dia mengetuk pintu dengan sopan. Hasto keluar dan membukakan pintu.
"selamat siang Ndoro Ndaru dan Ndoro Angga, saya datang di suruh Nyai Rinjani untuk mengantarkan makan siang," kata Seto membawa dia tas.
"kenapa banyak sekali,"
"anu Ndoro, katanya untuk mas Angga juga karena tadi sudah berpesan, cak Hasto ini untuk Ndoro Ndaru dan sampean, dan tas biru untuk Ndoro Angga dan cak Banyu, " kata Seto.
"dia bukan sedang melakukan kegiatan sosial, jadi bilang pada istriku jangan pernah mau membuatkan bekal untuk pemuda gila itu, karena dia akan punya istri sendiri," kata Ndaru terdengar dingin.
"baik Ndoro, kalau begitu saya pamit karena masih harus mengantar nyai untuk ke padepokan,"
__ADS_1
"silahkan," jawab Ndaru yang kini duduk di depan Angga.
"apa sih mas, orang wanita yang membuatkan saja tak keberatan, kenapa kamu seperti tak ikhlas begitu, jangan bilang jika kamu tak suka jika membuat istrimu jadi seperti pembantu," kata Angga.
"kamu mau mati berani mengatakan itu, sekarang dia istriku dan ingat kamu harus menjaga sopan santun mu," tegur Ndaru.
"wah... ha-ha-ha... sejak kapan mas jadi peduli seperti ini, ingat tujuan awal mu ingin membuatnya sengsara, tapi kenapa sekarang kamu seperti ingin melindunginya," kata Angga.
"itu bukan urusan mu, ini rumah tangga ku, kamu fokus pad calon istrimu saja," ketus Ndaru.
"sialan... sepertinya kamu sudah mulai peduli padanya, terlebih sekarang kamu begitu peduli, apa kamu lupa jika dia satu-satunya saksi yang masih hidup sampai sekarang, ingatlah dia pasti akan berkhianat dan melawan kita saat tau siapa suaminya ini," kata pria itu.
"tutup mulutmu Angga,jangan urusi rumah tanggaku, biarkan aku mengurusnya sendiri,"
"baiklah-baiklah atur sesukamu, aku mau makan makanan dari kakak ipar ku yang manis itu," kata Angga yang kembali memancing Ndaru.
saat mereka membuka tepak makan siang itu, Semuanya terdiam pasalnya semua menu terlihat mengiurkan.
bahkan di tas milik Ndaru juga ada beberapa toples berisi kue, "sepertinya dia menurut dengan mengikuti setiap menu duet ku,"
"dasar pria aneh, bagaimana bisa kamu hidup dengan cuma makan beginian," kata Angga.
Ndaru tak peduli, tapi saat Angga mulai makan, kenapa masakan Rinjani bisa begitu enak.
Ndaru juga tak menyangka gadis pilihan ibunya begitu pintar dalam memasak seperti ini
perlahan Ndaru pun mulai tergerak dari masakan Rinjani, tanpa sadar gadis itu mulai mendapatkan hati suaminya dari perut.
di rumah, Seto, mbok Yem dan Rinjani sedang makan bersama dan Seto tak mengira jika Rinjani mau makan bersama dengan para pembantu seperti ini.
setelah makan siang, Rinjani mulai bersiap untuk pergi ke padepokan begitu pun mbok Yem yang harus terus di samping Rinjani bersama seto, sesuai perintah Ndaru.
saat selesai bersiap, Rinjani berfoto di depan kaca dan mengirimkan kepada suaminya itu.
Ndaru yang melihat ponselnya menyala pun memeriksanya, ternyata pesan dari Rinjani.
dia kaget melihat Rinjani yang telihat angin dengan setelah kain batik dan atasan dengan model modern.
"apa aku begini sudah pantas, apa terlalu berlebihan?" tanya wanita itu.
"sudah pantas, tapi lebih baik sanggul rambutmu agar terlihat lebih baik," balas Ndaru.
__ADS_1
mendapatkan jawaban itu, Rinjani mengambil tusuk konde yang pernah di berikan oleh Ndaru
dia pun menyanggul rambutnya simpel dan memakai tusuk konde itu, dan kembali mengirimkan fotonya.
"seperti ini?"
"sudah baik," jawab Ndaru.
Rinjani pun siap, tapi dia lupa tak mengenakan perhiasan, jadi dia memilih perhiasan yang pantas.
karena kebanyakan perhiasan, sekarang dia bingung, jadi dia mengambil perhiasan pemberian Ndaru yang terlihat sederhana.
itu sudah sangat melengkapi penampilannya sebagai menantu pertama keluarga Kusomo.
mbok Yem pun tak menyangka Rinjani makin cantik saat wajahnya di pakaikan make up tipis.
"kita berangkat mbok,".
"tentu Nyai," jawab mbok Yem.
saat dia akan masuk mobil, ternyata ibu mertuanya juga baru akan berangkat bersama mbok tum dan Lidin.
kedua mobil-mobil mewah itu pun beriringan, mobil yang di gunakan Laila tak kalah mahal dari mobil yang di gunakan Rinjani.
sesampainya di padepokan kedua mobil di parkir berdampingan, dan mereka turun.
Nyai Laila mengenakan setelan batik dan membuatnya sangat anggun berwibawa, sedang Rinjani mengunakan atasan polos dan bawah mengunakan kain ikat batik yang membuatnya terlihat cantik dan anggun.
keduanya berjalan bersama dengan di ikuti oleh para orang kepercayaannya.
semua orang yang melihat kedatangan keduanya langsung bangkit dan memberi salam.
Rinjani sebagai seorang putri juga langsung menghampiri sang ibu dan mencium tangan wanita yang telah melahirkannya itu.
bahkan mereka sempat berpelukan, dan Nyai Laila juga menyapa besannya itu.
"Bu besan, terima kasih loh ya, sudah mengizinkan kami meminang putri anda, dia sangat baik dan menjadi cahaya dan kebahagiaan di keluarga kami, terlebih untuk Ndaru," kata Nyai Laila
"tidak Nyai besan, kami yang beruntung punya menantu dan besan orang besar seperti keluarga Kusumo," kata ibu Sekar.
mereka pun langsung kembali duduk bersama untuk mulai rapat, dan benar jika Rinjani langsung mendapatkan jabatan tinggi di perkumpulan itu.
__ADS_1
dia akan menjadi ketua devisi yang akan fokus pada anak-anak saat bakti sosial, sesuai dengan permintaan Ndaru pada nyai Laila.