
sekarang Rinjani sedang duduk di teras sambil membaca buku, di rumah tinggalnya memang di sediakan ayunan di teras rumah.
"Nyai bisa temui Ndoro muda sebentar," panggil Hasto.
"di ruang kerja?"
"inggeh Nyai," jawab pria itu.
Rinjani pun bergegas menghampiri suaminya itu, ruang kerja milik Ndaru begitu modern, dengan rak buku yang berisi begitu banyak buku, dan juga meja besar di sana.
"apa ada yang mas butuhkan?" tanya wanita itu.
"kemarilah duduk disini, aku ingin tau apa yang biasa kamu kerjakan dulu," tanya Ndaru yang masih sibuk dengan semua berkas miliknya.
"kebetulan dulu aku mengajar menari dan juga mengajar les untuk anak SD,"
"ini tugas harian mu, dan kamu tak boleh melewatkannya karena aku tak suka saat pulang ke rumah istriku tak ada, dan ini ada beberapa kartu ATM untuk mu," kata Ndaru menaruh dua kartu ATM disana.
"tapi kang mas, untuk apa, karena aku sudah punya ATM yang anda berikan, terlebih aku juga garang berbelanja karena itu boros," jawab Rinjani.
"apa? kamu ini bener wanita bukan, kenapa kamu bisa bilang jika boros, padahal biasanya wanita suka belanja loh,"
"tapi saya tidak, lebih baik uangnya buat membeli buku dan membagikannya pada anak-anak, atau aku bisa membelikan beberapa bingkisan untuk di bagikan kepada yang membutuhkan," kata Rinjani.
"kalau begitu, ini terserah kamu mau apakan, mau kamu buang atau bakar," kata Ndaru menyentuh dua ATM itu.
"jangan mas, biar aku tetap bawa dan nanti aku akan belanja dengan mbok Yem," jawab Rinjani.
"minta Seto mengantar mu, karena dia anak buah ku selain Hasto yang bisa di percayakan," kata Ndaru yang sudah siap pergi.
"baiklah kang mas, apa nanti perlu di kirimkan makan siang ke kantor kang mas?"
"boleh, nanti minta Seto yang mengantarnya,"
"baik kang mas," jawab Rinjani
dia pun mencium tangan Ndaru, pria itu kemudian pergi dengan Hasto yang juga merangkap sebagai asistennya.
setelah mobil suaminya pergi, dia mulai membuka semua tugas yang tadi di berikan suaminya.
__ADS_1
tapi dia kaget saat melihatnya, pasalnya tugasnya begitu banyak, mbok Yem yang sedang membersihkan meja makan pun tersenyum.
"jangan kaget Nyai, karena itu bukan tugas harian, tapi tugas selama seminggu sesuai dengan hari," kata mbok Yem.
"iya mbok, tapi aku baru tau jika menjadi istri dari kang mas memiliki semua kesibukan ini, dan sepertinya aku juga harus ikut di padepokan tapi versi ibu-ibu ya," kata Rinjani membaca setiap tugasnya.
"iya Nyai, kalau tidak salah, nanti jam tiga ada pertemuan untuk membahas bakti sosial yang biasa di lakukan di Minggu ketiga setiap bulan," jelas mbok Yem.
"ah iya aku ingat, setiap Minggu ketiga ibu akan pergi selama tiga hari," kata Rinjani.
"lah itu Nyai sudah tahu, jadi nanti tak usah takut, pasti Nyai tak akan sendiri kok, meski kemungkinan Nyai akan jadi salah satu orang penting juga sih," kata mbok Yem.
"aduh kok gitu, sudah ah aku mau masak untuk bekal kang mas, karena sudah jam sembilan siang." Jawab Rinjani.
dia benar-benar tak ingin mengecewakan suaminya itu, dia juga melihat peraturan di padepokan.
karena untuk datang ke tempat itu tak boleh asal, karena dia merasa bimbang, nanti dia ingin bertanya pada ibu mertuanya sebagai ketua paguyuban istri para anggota padepokan.
Rinjani membuat cookies untuk suaminya itu,dia membuat rasa coklat pandan.
mbok Yem membantu, dan hati ini di jadwal makan milik suaminya menunya adalah ayam bakar, sayur campur dan nasi merah.
semuanya sudah siap dan nanti tinggal mematangkan saja, bahkan kue kering yang di buat Rinjani juga sudah selesai.
dia memutuskan untuk membawa dia toples ke tempat mertuanya, "permisi, apa ibu bisa di temui,"
mbok tum yang melihat Rinjani tersenyum, "Monggo Nyai muda, Nyai sedang ada di ruang baca, ada apa kok datang?" tanya wanita itu ramah.
"hanya mau memberikan kue kering, kebetulan tadi buat banyak untuk di kantor kang mas Ndaru, dan aku ingin memberikan ini pada ibu," jawab Rinjani yang juga sopan.
"sebentar ya, mbok panggilkan, Nyai muda duduk dulu," kata mbok tum yang langsung bergegas masuk kedalam satu ruangan.
dari dalam rumah, terlihat Angga keluar dengan menenteng tas, "wah kakak ipar, ada apa ini?"
"hanya mau ketemu ibu," jawab Rinjani.
"owalah, pasti ibu sedang baca buku, kalau boleh tanya nanti kirim makan siang ke kantor mas Ndaru gak?" tanya Angga yang duduk di depan kakak iparnya itu.
"iya, memang ada apa?"
__ADS_1
"bagus deh, nanti aku juga ya, kebetulan aku akan ke sana dan perkiraan dari rumah ke tempat mas Ndaru pas saat makan siang," kata Angga.
"baiklah nanti aku akan mengirimkan untuk mas Angga juga," jawab Rinjani.
"terima kasih kakak ipar, oh dan jangan lupa saat mas Ndaru pulang, kamu nyalakan aroma Cendana dia sangat menyukai aroma itu, buah yang dia sukai adalah jenis beri-berian juga, dan dia itu tak suka dengan kamar mandi yang kotor," kata Angga yang pergi.
Rinjani tak mengira akan mendengar ucapan seperti itu dari Angga, tapi itu membuatnya bisa bersiap di rumah nantinya.
Nyai Laila keluar dan langsung menyapa Rinjani,"aduh katanya datang mau ngantar kue, kamu ini masih belum sembuh benar kok sudah repot seperti ini,"
"tidak repot kok Bu, ini cuma kue kesukaan ibu dan mas Ndaru," jawab Rinjani.
Nyai Laila pun mencicipinya dan rasanya sangat enak, dan itu cocok untuknya.
"wah kalau kue ini pasti Ndaru akan suka, oh ya sudah tau nanti siang ikut ke padepokan sama ibu ya,"
"inggeh ibu, tadi pagi mas Ndaru juga sudah memberi tahu,cuma aku masih bingung untuk mengunakan baju resmi atau sekedar sopan saja," tanya Rinjani.
"pakai batik saja nduk,selama bukan resmi dan ada undangan tertulis, kita hanya mengunakan baju sopan saja," jawab Nyai Laila.
"baik Bu," jawab Rinjani.
mereka pun berbincang, dan Rinjani tau kebiasaan suaminya dan juga keburukannya dari sang mertua.
sedang di kantor, Ndaru terus bersin-bersin, "siapa ini yang mengumpat padaku,"
Hasto masuk kedalam ruangan sambil membawa laporan dan contoh beberapa kain yang akan di produksi.
Ndaru memeriksa setiap detailnya dan memastikan tak ada yang salah karena mereka terkenal sebagai sentra produksi kain sutera yang berkualitas.
"bagus, ingat jangan sampai ada masalah, karena kain-kain ini sudah di pesan khusus,"
"baik Ndoro," jawab Hasto
dia pun kembali ke mejanya dan kembali mendesain sepatu yang akan di garap di gedung satu.
terlebih ini ada sepatu pesanan dari salah satu negara untuk sekolah, tak hanya sepatu ada juga kaos kaki dan juga tas.
karena desain yang terakhir di kirimkan sudah sesuai tapi hanya merevisi peletakan logo sekolah.
__ADS_1