
setelah keduanya selesai ngopi, ternyata dari kegelapan malam terdengar suara yang tak asing.
"kang mas..." panggil Rinjani yang melihat sosok hewan yang sangat di hindari saat kemah.
Ndaru menyorotkan senter kearah yang di maksud oleh istrinya itu, ternyata benar seekor babi hutan berukuran besar dengan taring yang cukup besar sedang menatap ke arah mereka.
Ndaru memberikan senter itu kepada istrinya, dan dia mengambil pedang miliknya.
Rinjani mengambil pisau yang di berikan oleh suaminya, Ndaru keluar di tengah rintik hujan untuk membunuh babi hutan itu.
babi itu langsung menyerangnya, tapi Ndaru mengambil sebuah kayu untuk melawan babi itu, tapi tak berguna.
terpaksa dia mengenakan pedang dan mengayunkan pedang itu, tapi hanya melukai babi itu malah membuat semakin marah.
beberapa kali hewan itu terkena pedang tapi tak kunjung jatuh, Rinjani mengambil tripod untuk menaruh senter.
dia mengambil sebuah kayu yang cukup besar, dan dia membantu Ndaru untuk mengalahkan hewan itu.
"kang mas!!" kata Rinjani melempar balok kayu itu.
Ndaru menangkapnya dan memukul kepala babi itu hingga terkapar, mendengar keributan.
Ndoro Shaka terbangun dan kaget melihat apa yang di lakukan oleh Ndaru dan Rinjani
Ndaru menarik tangan istrinya itu, babi hutan itu masih sekarat dan tak kunjung mati.
"kamu harus membantunya mati, karena tak ingin bukan kamu melihat dia kesakitan," bisik Ndaru.
"tapi mas, aku tak tega," kata Rinjani.
"kamu menantu keluarga Kusumo, ini hanya hewan bukan manusia, jadi lakukan sayang,"
Ndaru menunjukkan letak detak jantung hewan itu, dan dia membimbing istrinya itu untuk menikamnya dengan tepat.
tak lama babi hutan itu mati, "semoga kamu damai disana, semoga tak akan merasakan sakit lagi," kata Rinjani yang menangis.
dia tak mengira jika suaminya bisa sekejam ini, bahkan Ndaru terlihat dingin saat melakukan prosesi itu.
"kalau sudah membunuhnya, bawa bangkai itu ke atas yang ada sebuah sumber mata air. setelah meletakkan babi itu di sana, nyalakan dupa di depan arca itu, dan ingat ini Rinjani jangan sampai kamu lupa," kata Ndoro Shaka.
"inggeh Romo," jawab Rinjani.
Ndaru mengangkat dan mengendong babi hutan itu, dan membawanya naik ke atas bersama istrinya.
__ADS_1
bahkan tubuh pria itu sudah di pastikan bau darah dan juga aromanya akan sama seperti babi hutan itu.
mereka pun sampai di tempat yang di maksud, hujan kembali turun dengan deras.
Rinjani mulai menyalakan dupa di depan arca itu yang memiliki tempat yang melindungi.
setelah itu keduanya duduk untuk berdoa, tanpa di duga, Ndoro Shaka datang dan menguyur keduanya dengan air dari sumber mata air di samping arca itu.
Ndaru dan Rinjani tetap berdoa dan tak terusik dengan apa yang di lakukan pria itu.
setelah selesai keduanya pun membuka mata dan keduanya juga sudah bersih.
"ayo kita turun," ajak Ndaru mengulurkan tangannya.
keduanya turun kembali ke arena kemah dengan hati-hati, dan sesampainya di sana ternyata Nyai Laila dan Ndoro Shaka sudah bangun.
"kalian ganti baju dulu, biar ibu buatkan makanan dan susu jahe hangat untuk kalian," kata wanita itu.
Rinjani langsung menganti bajunya dengan bantuan suaminya, dan beruntung kedua pasang adiknya tidak bangun.
setelah berganti baju, mereka berempat orang duduk bersama, "apa maksudnya tadi Romo?"
"itu adalah arca yang menjadi cikal bakal padepokan kita, tak semua orang bisa melihatnya, dan selain kami hanya kalian yang bisa melihatnya, terlebih kekompakan kalian saat melawan hewan tadi menjadi buktinya," jawab Ndoro Shaka.
"ya karena tak sembarang orang, tapi perjalanan mu tak akan mudah, itulah kenapa setiap menantu keluarga Kusumo harus kuat secara lahir dan batin," terang pria sepuh itu.
"kami mengerti Romo,"
mereka pun memutuskan untuk masak untuk Semuanya, dan membereskan semua barang untuk pergi besok pagi.
"hei bangun, kita harus pergi!!" panggil Ndaru membangunkan kedua adik dan adik iparnya.
"dingin mas," kata Angga.
tak terduga, Ndaru dan Ndoro Shaka langsung membuka tenda dan merapikan ke atas atap mobil.
mau tidak mau keempatnya pun bangun, "aduh... kalian ini bener-bener kok, bisa-bisanya masih molor, aku tinggal nih," kesal pria itu.
"iya iya, kita bangun," jawab mereka berempat.
mereka memilih melipir ke sungai dulu, sedang Rinjani dan Nyai Laila sudah selesai dengan sarapan.
Ndaru tadi mengikuti keempat orang itu memastikan jika mereka tak lama-lama.
__ADS_1
setelah sarapan mereka pun pulang, bahkan sekarang jalan menuju keluar hutan sangat buruk.
tapi beruntung mobil mereka tak terperosok atau macet, dan mobil keduanya keluar dari hutan.
kini mereka menuju ke sebuah vila dan saat sampai, Rinjani dan Nyai Laila membuang sampah, memastikan semua bahan makanan keluar dari mobil.
sedang Anjani dan Ariana membersihkan vila, di bantu para pria.
vila yang sudah lama tak di tinggali itu beruntung tetap terlihat baik, karena setiap hari ada penjaga yang datang untuk membersihkan vila.
setelah semuanya beres, mereka pun pergi untuk mandi karena tubuh mereka sangat lengket.
tapi saat Rinjani baru menguyur tubuhnya, terasa seseorang menyentuh tubuhnya.
dia langsung berbalik dan kaget melihat suaminya di belakang tubuhnya sudah dengan senyuman yang menakutkan menurutnya.
"ada apa kang mas," kata Rinjani menutupi tubuhnya sebisa mungkin.
Ndaru pun menyentuh wajah istrinya dengan lembut, kemudian mencium bibir wanita itu.
"kang mas... kita mandi dulu," kata Rinjani yang tak bisa menolak sentuhan lembut dari Ndaru.
"baiklah, kita mandi dulu dan aku akan membantumu," bisik Ndaru yang terpaksa menahan keinginannya.
setelah mandi, Ndaru membopong istrinya dan meletakkan di kasur.
dia sudah memastikan jika semuanya aman, dan siang itu Ndaru tak bisa menahannya lagi.
dia mulai mencumbu istrinya dengan penuh cinta, bahkan setiap ciuman mampu membuat Rinjani mendesah.
dia mengambil haknya sebagai seorang suami, pria itu bahkan tak mengira jika rasanya akan sebaik ini
kegiatan panas mereka berjalan cukup lama, karena Ndaru berkali-kali memintanya.
tak hanya Ndaru dan rinjani, hampir semua juga melakukannya, bahkan Dika dan Anjani cukup rusuh.
karena kedua orang itu melakukan berbagai gaya, dan ternyata keduanya memiliki fantasi yang liar.
sedang Ndoro Shaka dan Nyai Laila tak mau kalah dengan para pengantin baru.
meski sudah menikah lama, mereka tetap harmonis karena Ndoro Shaka tetap bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.
dan Angga, wah pasangan itu termasuk yang paling gila, karena mereka sempat membawa beberapa tali untuk di gunakan.
__ADS_1