
"baik aku mengerti, dan aku akan mengatakan semua yang ada di hati sdn otak ku saat sudah jadi istrimu," kata Rinjani.
"bagus, dan tolong jamu harus terima apapun yang akan aku perbuat, karena kamu tau kan jika aku itu sedikit gila," kata pria itu yang di angguki oleh Rinjani.
akhirnya Ndaru pamit pulang,dan sebelum pergi dia memberikan sebuah kartu ATM pada Rinjani.
"buat apa Ndoro muda?" tanya Rinjani bingung.
"untuk mu mulai membeli semua perlengkapan untuk menemaniku saat ke acara resmi, dan beli pakaian yang sopan, ingat tak boleh pakaian terbuka, kamu tentu tau tata Krama di istana Bangura," pesan pria itu lagi.
"baik Ndoro," jawab Rinjani.
"dan satu lagi panggil aku kang mas, bukan Ndoro," ancam pria itu.
Rinjani mengangguk patuh, dan pria itu sudah pergi bersama dengan asistennya.
Hasto melihat ke arah Ndoro mudanya itu, "ada apa Hasto, kamu seperti orang bingung begitu? kamu kira aku berubah iya?"
"iya Ndoro, bukankah Ndoro menikahinya hanya karena dia menjadi saksi waktu itu?"
"tenang Hasto, meski begitu aku tak mungkin menunjukkan niat awal ku, jadi kamu harus tenang dan kita main tentu dengan cara yang halus," kata Ndaru yang tersenyum penuh arti.
"baik Ndoro saya mengerti," jawab Hasto.
mobil pun tak menuju ke rumah, melainkan kesebuah tempat yang cukup jauh.
itu adalah gudang pribadi milik Ndaru, pria itu turun dari mobil dan berganti baju.
dia bersiul sambil memakai sarung tangan, dan tak lupa topeng berbentuk Petruk.
"waktunya kita bermain," gumamnya
di desa sebrang yang cukup jauh,ada yang sedang hajatan dan memanggil orkes terkenal se-Jawa.
semua orang tumpah ruwah di sana, tapi pemilik acara mengelar orkes itu di lapangan yang dekat rumah
bahkan sound sistem mengunakan salon gantung yang membuat suara makin keras hingga suara bicara tak bisa terdengar normal.
di sekeliling dari tempat itu adalah sebuah perkebunan tebu yang sangat rimbun.
ini adalah kesempatan besar, bagaimana tidak sudah pasti dia akan menikmati acara yang akan di lakukan.
sedang di sebuah area rumah pertokoan, beberapa karyawan baru saja pulang bersamaan dengan pegawai pabrik yang pulang dari pergantian shift malam.
__ADS_1
para wanita dan pria pulang berduyun-duyun, ada yang pulang naik motor, naik angkot hingga menunggu jemputan.
tapi ada seorang wanita yang keluar cukup telat di banding yang lain, karena dia harus ke toilet ya maklum bawaan orang hamil.
tapi saat baru akan melewati gerbang, mulutnya di bekap dan di bius, dia pun di bawa ke area tergelap dari pabrik itu yang tak terjangkau CCTV.
belum lagi tumbuhan ilalang yang sangat tinggi hingga menyulitkan orang untuk melintas di area belakang pabrik sepatu itu.
seorang pria masih setia menunggu istrinya pulang, terlebih dia khawatir karena dia tadi telat.
seorang satpam menghampiri pria itu, "ada apa mas, kenapa masih disini, tolong jangan menghalangi gerbang," tegur pria itu.
"tunggu pak, saya ingin menunggu istri saya, dia seharusnya pulang pukul sembilan tadi, tapi saya telat jemput, ini fotonya," kata pria itu.
"owalah, mbak Nuning sudah keluar tadi bareng temennya, kebetulan tadi sempat menyapa saya tadi saat keluar dari pabrik," kata satpam itu.
"owalah begitu ya, ya sudah mungkin bareng sama temennya, kalau begitu saya permisi ya," pamit pria itu.
sebuah mobil box pergi dengan santai, pria yang mengemudikan mobil itu tersenyum senang sambil bersiul.
dia melihat toples berisi janin di dalamnya yang sudah dia awetkan.
"janin yang sangat sempurna," gumamnya yang kemudian pergi.
terlebih setelah semua yang terjadi tak mungkin mereka bisa santai dalam pengamanan.
seorang pria sedang tersenyum senang di balik topengnya, pasalnya dia sedang sibuk memotong-motong tubuh seseorang.
bahkan darah itu merembes ke aliran air yang di gunakan untuk mengairi sawah di sana, tapi tak ada yang sadar.
dia mengambil hati yang berwarna merah dan sangat sehat itu, "sepertinya ini sempurna," gumamnya menyimpan kedalam kotak penyimpanan.
tak lupa dia juga membuka tengkorak kepala dan mengambil otak yang juga sangat bagus itu.
"selesai dan selamat pusing polisi..." gumamnya pergi setelah menyiramkan asam sulfat pada mayat yang sudah terpotong menjadi puluhan itu.
tak ada yang tau jika ada pembunuhan, karena gempat gempita di tempat itu, bahkan pria itu melenggang dengan sangat santai dan pergi dengan sebuah mobil Jeep.
dia bersiul mendapatkan apa yang dia inginkan, dan dia tadi sempat menikmati setiap jeritan dan permohonan wanita yang akan dia eksekusi.
terlebih dia memotong dengan keadaan hidup-hidup, mulai dari pergelangan kaki, kemudian lutut, setelah itu tangan ,dan membelah perut saat dia hidup agar tak merusak organ dalamnya.
"kita pulang Ndoro?"
__ADS_1
"tentu, kita harus pulang..." jawab pria itu.
di sisi lain ada seorang pria yang sedang mengatur posisi toples yang berisi begitu banyak janin.
mulai dari yang masih berbentuk sangat kecil hingga janin yang siap lahir, semuanya tertata rapi di rak khusus itu.
"gila... wanita tadi boleh juga, dia sempat mencakar leherku, tapi beruntung aku tak meninggalkan jejak," gumamnya.
"Ndoro kita sudah di minta pulang," kata seorang pria mengingatkan.
"tentu, ayo kita pulang, dan kamu sudah membawa apa yang aku minta," tanya pria itu.
"tentu Ndoro," jawanya
dia pun segera menuju ke rumah utama keluarga yang sedang ada renovasi guna kehidupan bersama.
karena keluarga itu ingin anak-anak mereka mandiri tapi rak pindah jauh satu rumah utama.
Angga sampai bersama dengan Banyu, keduanya membawa kotak penyimpan.
"kalian dari mana?" tanya Nyai Laila dengan nada suara tegas dan mata menatap tajam Putranya itu.
"dari mencari keinginan dan kesukaan ibu, hati sapi dan otak sapi," jawab pria itu.
"tapi lehermu kenapa?" tanya wanita itu khawatir.
"hanya sedikit berkelahi tadi, tapi tak masalah," jawab Angga.
tak lama Ndaru yang datang dengan Hasto membawa hal yang sama dan di lehernya juga ada bekas luka.
"kamu habis dari mana, kenapa baru dari tempat Rinjani lehermu terluka?" tanya nyai Laila.
"kami hanya bercanda, dan tanpa sengaja Rinjani melukai leherku, Hasto bawa kotak ini ke belakang," kata Ndaru.
"baik Ndoro," jawab pria itu
Banyu dan Hasto pergi dari sana, untuk menyimpan apa yang tadi mereka dapatkan dan besok akan memasak kesukaan dari Laila.
"selamat malam semuanya, wah ada apa ini kok kumpul?" tanya Ndoro Shaka yang juga baru pulang.
pria itu tak membawa apapun, tapi ada bekas bercak darah di sekitar lehernya.
"dari mana Romo," kata Ndaru mengusap leher ayahnya itu.
__ADS_1
"biasa cari angin," jawab pria itu tersenyum aneh.