
kedua remaja itu memberikan salam terakhir kepada dua orang yang sudah meninggal dunia itu.
mereka hanya tau jika mereka itu adalah kakek dan juga seorang pelayan wanita itu.
setelah itu keduanya di bakar hingga menjadi abu, pembakaran berjalan setidaknya tiga jam di rumah kremasi.
setelah selesai, abu keduanya di berikan kepada keluarga untuk di simpan.
Ndoro Shaka terlihat sedikit sedih setelah kehilangan orang kepercayaan miliknya yang sudah ikut dari lama.
tapi dia juga tak boleh terpuruk karena sekarang pak Tirto sudah hidup damai di alam nirwana.
"kang mas," kata Nyai Laila menyandarkan kepalanya di lengan suaminya itu dengan nanya.
"sudah lama sekali rak mendengar mu memanggilku dengan panggilan kang mas," kata Ndoro Shaka.
"karena aku tak ingin ketiga putra mu itu ikut-ikutan memanggil mu Kang mas, ingat bagaimana mereka dulu ikut memanggilku adek," kata Nyai Laila tersenyum
"ya dek, mereka bertiga dulu sangat nakal, entahlah apa yang terjadi, hingga sekarang mereka begitu baik dari sebelumnya,"
"itu sepertinya karena istri-istri mereka Kang mas, lihat saja Angga yang dulu paling sulit di atur, sekarang menjadi sosok penurut, meski mulutnya begitu tajam dan suka mengomel,"
"iya dek, sekarang kang mas sudah merasa lebih tenang setelah melihat mereka bertiga, dan keputusan tepat menikah kan mereka," kata Ndoro Shaka.
"sekarang kang mas harus fokus dengan ku saja, karena aku sekarang butuh dirimu kang mas," kata Nyai Laila.
"baiklah aku mengerti Nyai, aku akan fokus padaku," kata Ndoro Shaka.
__ADS_1
di rumah Ndaru, Rinjani sedang duduk bersama di kamar mandi, keduanya sedang saling membantu membantu luluran.
karena Rinjani kurang nyaman jika di bantu oleh para mbok mbak kecuali mbok Yem.
tapi sekarang mbok Yem sedang sering di rumah Dika karena Anjani yang harus menyesuaikan diri di keluarga ini
"ada apa sayang, sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ndaru
"tidak ada kang mas, hanya ketakutan ku saja tentang acara besok,aku takut ada yang bermasalah besok," jawab Rinjani yang jujur.
"tenang saja sayang, semuanya akan baik-baik saja," kata Ndaru meyakinkan istrinya.
karena tanpa sepengetahuan dari istrinya, Ndaru membuat pengaturan untuk acara lebih aman.
malam ini semuanya beristirahat dengan tenang, Rinjani juga berada di pelukan suaminya.
Ndaru kali ini bermimpi dia melihat dua ekor kuda yang berwarna emas dengan Surai yang begitu indah.
saat akan mendekat betapa terkejutnya Ndaru melihat istrinya duduk di antara dua kuda itu sedang tidur.
"ada apa kang mas?"
"ah tidak ada," jawab Ndaru yang kaget.
dia ingin mendekat, tapi dia merasakan sebuah pukulan di wajahnya.
ternyata istrinya sedang menepuk pipinya pelan, "ada apa sih sayang? aku masih mengantuk.."
__ADS_1
"tapi ini sudah jam lima, kita harus bersiap, aku duluan ya mas," kata Rinjani mengecup bibir suaminya itu dan bergegas ke kamar mandi.
setelah mandi, Rinjani mulai menata rambutnya terlebih dahulu karena itu sangat membutuhkan waktu.
Ndaru pun melihat istrinya itu yang terlihat cekatan, bahkan wanita itu terlihat begitu terbiasa membuat sanggul sendiri.
dan saat rambut selesai, gini giliran memakai make up natural yang makin menambah kecantikannya.
Ndaru sudah selesai mandi, dia menuju ke ruang kerja, karena Hasto akan membantunya memakai kain jarik dan kendet.
Rinjani selesai pukul tujuh pagi dengan baju lengkap, setelah itu dia membantu Ndaru memakai basekap Jawa.
keduanya pun selesai dan keluar dari rumah tinggal, ternyata Ndoro Shaka dan Nyai Laila juga sudah siap.
"kita berangkat dulu Romo, biar nanti Angga dan Dika berangkat bersama istri mereka," ajak Ndaru yang harus menerima tamu bersama ayahnya.
"baiklah, dan kalian berdua kenapa begitu cantik, dan lihatlah Nyai, menantu mu itu, dia benar-benar pantas mendampingi putra mu,"
"iya Romo benar, karena menantu dari keluarga Kusumo tentu harus seperti ini, sudah ayo berangkat," ajak Nyai Laila.
tak butuh waktu lama, mereka berangkat dengan dua mobil dan dengan pengawalan ketat
ternyata tempat pesta sudah siap, Nandaka kaget melihat Nyai Laila dan Rinjani yang nampak begitu cantik.
seorang wanita menegurnya, "hei jangan bikin masalah, ingat kemarin kepala sesudah terancam," kata Lily menyikut perut Nandaka.
"ah iya kamu benar, aku ke tempat lain ya," pamit pria itu kabur.
__ADS_1
tak butuh waktu pukul delapan pagi Angga dan Dika datang bersama istri masing-masing.
tak lama para tamu undangan datang sesuai dengan undangan yang di terima.