
Ariana kembali ke tempat duduknya tadi, terlihat Angga sedang bermain ponsel, "Dika dan Anjani sudah pergi?"
"iya mereka pergi bawa mobil Romo, jadi kita harus tunggu Romo sampai selesai, beliau sedang membicarakan sesuatu dengan Nandaka, tuh di sana," kata angga.
Ariana menyandarkan kepalanya di bahu pria tercintanya itu, "mas, seandainya aku tak akan bisa memberikan mu anak bagaimana, apa kamu akan meninggalkan aku?"
"tentu saja tidak, aku tak keberatan untuk itu, karena keluarga Kusumo punya Dika yang sebentar lagi bisa melanjutkan keturunan keluarga ini, karena aku tak ingin ada siapapun selain kamu,"
"mas yakin, aku izinkan mas nikah lagi jika aku tak bisa punya anak," kata Ariana.
"kamu ngomong apa Ariana, di keluarga ini,tak ada yang pernah nikah sampai dua kali, cuma sekali, dan untuk masalah momongan,kami tak keberatan jika tak memiliki penerus, asal anak dan menantuku bahagia," jawab Nyai Laila.
"terima kasih ibu,aku sempat takut jika kalian semua bisa mendepak ku,"
"tidak Ariana, sudah sekarang ayo pulang, tapi kita belanja dulu sepertinya tadi Ndaru titip sesuatu," kata Ndoro Shaka.
Angga mengemudikan mobil menuju ke sebuah pasar modern yang ada di dekat padepokan.
mereka memilih beberapa jenis buah, beberapa jenis sayur dan keperluan yang lain.
setelah memilih semua yang ada di daftar titipan itu, mereka pun pulang, dan saat sampai di rumah, ternyata Ndaru dan Rinjani sedang bermain karambol.
"selamat datang... Romo dan ibu," sapa keduanya.
"iya kalian sudah makan, atau mau ibu buatkan sesuatu?" tanya Nyai Laila
"tidak usah ibu, kami baru saja makan, silahkan istirahat saja," kata Ndaru.
keduanya membereskan permainan itu dan memilih untuk masuk kedalam rumah.
Rinjani langsung menolong mbok tum yang hampir jatuh karena belanjaan.
"aku bantu mbok," kata Rinjani yang sempat memegang tangan wanita sepuh itu.
tak sengaja Rinjani menyentuh tangan mbok Yem, akhirnya setelah menaruh belanjaan.
__ADS_1
kemudian mbok tum menilai Rinjani dari detak jantungnya, wanita itu tersenyum.
"Nyai muda, boleh saya lihat perutnya, biar mbok bantu untuk memijatnya agar enakan," kata wanita tersenyum.
"baiklah mbok, kebetulan beberapa hari ini tubuh ku terasa tak enak," kata Rinjani.
mereka pun masuk ke kamar yang dulu pernah jadi kamar milik Ndaru, wanita itu mulai memijat perut bagian bawah Rinjani.
mbok tum tersenyum dan membenarkan tata letak perut dari wanita itu.
setelah semuanya, mbok tum membantu Rinjani bangun, "Nyai sekarang tolong berhati-hati ya, karena ada calon penerus keluarga di perut Nyai,"
"apa mbok, tapi kemarin lalu saya baru saja mens," kata Rinjani bingung.
"tapi kalau Nyai tak percaya bisa memeriksanya dengan memakai tes kehamilan, dan mbok bisa pastikan jika itu calon bayi sudah berusia sekitar enam Minggu dan sehat,"
Rinjani tak percaya dengan apa yang dia dengar, "kalau begitu tolong sembunyikan dulu ya mbok,aku ingin memberi tahu semuanya saat kandungan ku sudah besar ya mbok,"
"baik Nyai," jawab mbok tum.
tapi berbanding terbalik dengan Angga dan Ndaru, "ada apa ini?" tanya Rinjani sedikit kaget.
"kamu darimana sayang, lebih baik kita pulang," ajak Ndaru.
"tunggu dulu mas, mbak Rinjani harus tahu kabar bahagia ini, mbak aku sedang hamil sekitar lima Minggu, mbak seneng kan?" tanya Anjani yang langsung memeluk tubuh kakaknya.
"tentu, itu berarti dia akan jadi penerus keluarga Kusumo," jawab Rinjani.
tapi semua orang malah terlihat sedih, "iya mbak, dan anak ku akan jadi penerus pertama keluarga ini yang akan lahir,"
"kenapa kamu bilang seperti itu, ingat Anjani kamu tak boleh sombong, lagi pula kita tak tau takdir Tuhan," kata Rinjani.
"tapi apa yang ku ucapkan benar bukan," kata Anjani nampak kesal.
"baiklah terserah kamu, aku mau pulang karena kepalaku pusing," kata Rinjani.
__ADS_1
"mbok tum, sekarang anda harus menjaga Anjani," kata Nyai Laila yang tak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu.
"ngapunten Nyai sepuh, saya akan menjaga Nyai muda Rinjani, karena akan lebih baik jika Nyai muda dalam pengawasan saya, mari Nyai muda,permisi..." jawab mbok tum.
Ndaru pun undur diri, Nyai Laila merasa aneh, pasalnya dulu mbok tum bilang akan melindungi semua penerus Keluarga Kusumo.
tapi sekarang wanita itu malah menjadi mbok mban mengurus Rinjani dan bersama mbok Yem.
"ibu minta mbok seh saja, karena beliau juga dukun bayi seperti halnya mbok tum kan," kata Dika.
"tidak bisa Dika, mbok seh adalah asisten yang membantu Ariana selama ini, dan kamu tak boleh seenaknya seperti ini, ibu tolong bijaklah jangan sampai hanya demi satu orang, anda mengorbankan yang lain, atau anda bisa kehilangan Semuanya," kata Angga dingin dan langsung pergi dari tempat itu.
"sudah Dika, cukup dengan mbok Jum di samping istrimu, kamu tak ingin lebih melukai hati saudara-saudara mu bukan, ingat jika Ndaru dan Angga dari kecil selalu mengutamakan dirimu," kata Ndoro Shaka.
Anjani pun merasa jika keluarga ini seakan menekannya, karena dia hamil lebih dulu di banding dua kakak iparnya.
"kenapa Romo sepertinya tak suka dengan kehamilan ku?" kata Anjani yang berani mempertanyakan Ndoro Shaka.
"seharusnya kamu tau, jika sebagai saudara paling muda untuk menjaga sopan santun di depan saudara yang lebih tua, terlebih jika bukan karena Rinjani aku juga tak akan menyetujui pernikahan kalian," jawab Ndoro Shaka.
jder...
bagai petir menyambar, akhirnya Ndoro Shaka keceplosan dan mengatakan hal yang sejujurnya.
bagaimana bisa dia di terima di rumah keluarga suaminya karena Rinjani, "bagaimana bisa?"
"karena permintaan dari Dika dan Rinjani menjamin jika kamu adalah gadis baik, dan pantas aku menyetujuinya,jika tidak tak mungkin aku dengan mudah memilih menantu, tanpa di selidiki terlebih dahulu," kata Ndoro Shaka.
Dika merangkul istrinya itu, "jadi mbak Rinjani memohon bersama kamu mas, untuk bisa aku masuk ke keluarga ini? tapi kenapa?" kata Anjani marah.
"karena dia ingin kamu di lindungi,jika kamu tidak masuk keluarga ini, kamu pasti akan mati di tangan keluarga mu,lagi pula aku menyukai mu dari pertama kali aku melihat mu," jawab Dika.
"tapi bagaimana bisa, aku memang mungkin tak pantas, Karena aku dari kecil tak pernah dapat pendidikan seperti mbak Rinjani," kata Anjani.
"maka itulah, seharusnya kamu bersikap baik jangan sampai membuat saudara mu yang lain merasa sedih, jika tidak kamu tentu tak mau melihat apa yang akan terjadi," kata Ndoro Shaka dingin.
__ADS_1
tapi Nyai Laila memeluk tubuh menantunya itu, "sudah tak usah di dengarkan ucapannya, karena Romo mu sedang banyak pikiran, kamu tetap membantu kebanggaan dan kesayangan kami," kata Nyai Laila.