
setelah sidang padepokan, seperti biasanya Ndoro Shaka memberikan beberapa perlengkapan dan juga uang investasi pada beberapa usaha milik pengikut.
sedang ketiga putranya sedang duduk bersama asisten pribadinya membahas sesuatu.
sedang di rumah, Ragini baru selesai marah karena Ndaru tak mengajak dirinya.
karena dia seharusnya ikut acara resmi di padepokan untuk mendampingi Ndaru sebagai istri.
"kenapa mbak Rinjani begitu marah, bukankah mbak tau, jika aku juga istri dari Angga, aku tak di ajak juga tak merasa sakit hati tuh, lagi pula mbak aneh ya, dulu saat kita bertemu, kamu begitu tenang, tapi kenapa kamu sekarang meluap-luap begitu?"
"ha-ha-ha mungkin itu hanya perasaan mu saja, kenapa bicara seperti itu Ariana," jawab Ragini yang merasa sedikit gelagapan.
"baiklah kakak ipar, mbok Yem boleh minta air minum karena kakak ipar ku ini tak menawarkan aku air minum, ah aku haus loh..." kata Ariana dengan santai.
Ragini ingin sekali mendepak wanita yang duduk di ruang tengah miliknya saat ini, pasalnya dia menikmati kacang telur kesukaannya.
padahal Ariana tau jika ini adalah camilan yang di benci oleh Rinjani, tapi sebulan ini kacang itu ada di rumah tinggal milik Ndaru.
padahal semua orang tau jika kesukaan Rinjani dan ibu mertuanya itu selalu sama.
"hei kenapa menatapku seperti itu, kamu tak akan marah hanya karena camilan ini bukan, aku bisa memberimu kacang tanah lain kali, saat di sawah milik keluargaku panen,mau berapa karung setidaknya kamu bisa membuat kacang telur dengan itu," kata Ariana.
"kamu ingin membuatku lumpuh, karena terkena asam urat," ketus Ragini
"tentu saja tidak, jika aku ingin melakukannya, aku akan mematahkan kakimu, toh ini sangat mudah karena aku adalah pemegang sabuk hitam, wah minuman datang, terima kasih mbok Yem, yang sudah kakak ipar aku pulang ya," kata Ariana pulang ke rumah tinggal miliknya.
"dasar sialan, lain kali aku akan memotong-motong dirimu," gumam Ragini marah.
sedang di tempat lain, Wira mengajak Anjani dan Rinjani mendatangi sebuah tempat.
mereka sampai di sebuah tempat yang begitu jauh di pedalaman, terlihat Ndaru dan Dika ada disana.
__ADS_1
"ada apa kalian meminta ku datang ke tempat seperti ini kang mas?" tanya wanita itu bingung
"ada yang ingin bertemu dengan mu, mungkin mereka akan kaget, karena kemarin Romo mengatakan pada mereka jika kamu sudah mati," kata Ndaru santai
"kenapa begitu?"
"karena Romo Ingin mereka menyesal karena berani mengunakan anaknya sebagai alat balas dendam orang lain, yang bahkan orang tua mu sendiri tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang mereka lihat hanya tentang uang," terang Ndaru merangkul pundak istrinya dan mengajaknya masuk.
mereka melihat sebuah ruang kaca satu arah, terlihat kedua orang tua mereka sedang memohon.
mereka terlihat begitu kalut dan sedih, sedang Rinjani melihat kedua mertuanya sedang berdiri di sana.
"kenapa sekarang kalian menangis dan merasa sedih, bukankah ini pilihan kalian, tentu ini adalah hasil dari pilihan kalian bukan, jadi menangis sekarang tak berguna," kata Ndoro Shaka.
"maafkan kami Ndoro... izinkan kami bertemu Rinjani, kami tergoda untuk membantu pria itu, karena dia berjanji akan memberikan tanah yang luas, dan lagi dia berjanji untuk menjamin jika Ragini tak akan mengalami masalah di lain hari," kata pak Selo.
"apa peduliku, karena aku tak ingin ikut tersangkut masalah dengannya, jadi tolong jangan melakukan hal yang salah, terlebih aku membenci penghianat,"
"maafkan aku Ndoro Shaka... kami akui kami salah, menelantarkan Anjani di rumah mertuaku, mengurung Ragini dan memanjakannya juga, dan terlalu keras mendidik Rinjani hingga menaruh semua beban keluarga di bahu gadis itu, tolong berikan kami kesempatan untuk melihat putri kami," mohon pak Selo.
Rinjani dan Anjani di ajak masuk oleh Ndaru dan Dika, "putriku ..." kata Bu Sekar yang ingin memeluk Rinjani.
tapi wanita itu hanya berdiri diam, "kamu masih hidup? maafkan kami.. ini semua kami lakukan karena kami ingin kamu hidup normal bukan tersiksa di keluarga itu," kata wanita itu.
"ibu terlambat, aku mencintai suamiku, meski dia membunuh ku aku rela, jadi tak ada hak apapun untuk ibu dan ayah untuk ikut campur, berhenti memperlihatkan jika kalian peduli, bukankah kalian sangat menikmati semua harta yang di berikan suamiku sebagai mahar bukan,"
"Rinjani, bicara yang sopan!" bentak pak Selo.
"tutup mulutmu!!! jangan membentak nyonya muda dari keluarga Kusumo," kata Ndoro Shaka.
"cukup ayah,setelah apa yang terjadi, aku tak ingin melihat kalian lagi, terlebih yang kalian lakukan pada kami itu jahat, karena dari awal kalian itu hanya sayang pada Ragini, jadi jangan pernah membuatku memerintahkan anak buah suamiku, untuk berbuat kasar nantinya saat kalian berani menunjukkan wajah kalian di depan ku," kata Rinjani memberikan peringatan.
__ADS_1
"sekarang kamu begitu sombong ternyata, kenapa karena merasa jika pria ini mencintai mu hingga kamu sangat bertingkah, jangan lupa dia sudah tinggal dan tidur dengan Ragini, dan ibu yakin Ragini pasti sekarang hamil anaknya," kata Bu Sekar.
"ibu jangan bohong dan mengatakan omong kosong lagi, aku tau Ragini tak akan pernah bisa hamil karena rahimnya sudah di angkat saat dia berusia sepuluh tahun karena ada miom yang tumbuh dengan cepat dan ganas," kata Anjani.
"gadis sialan, kamu ingin menghancurkan kedua saudarimu karena merebutkan pria yang sama, kamu itu anak yang kurang ajar Anjani," bentak Bu Sekar.
"kenapa bilang seperti itu, padahal itu bukan salah Anjani, karena dari awal aku hanya menyukai Rinjani, jika saja Ragini tak menirunya aku tak akan pernah bisa menyentuhnya, dan untuk perkataan tadi, putrimu itu pelacur ya, dia berani-beraninya menggoda ku dengan baju men-ji-jik-kan dan berani memasak bagian yang paling di benci di keluargaku, beruntung Hasto mengganti semua masakan sebelum kami makan," kata Ndaru.
"itulah kenapa kalian nampak biasa saat menceritakan hal itu, berarti kalian sudah curiga? dan mempermainkannya, kalian keluarga jahat," kata pak Selo.
"apa kami jahat, bukankah kalian tak sadar diri, sekarang aku serahkan apa yang akan di berikan oleh Rinjani dan Anjani untuk hukuman kalian," kata Ndoro Shaka yang tersenyum merangkul Nyai Laila.
"tolong kirim mereka ke pedalaman Kalimantan, kang mas punya perkebunan di sana dan minta mereka tinggal disana untuk bekerja, dan biarkan mereka disana untuk menyadari kesalahannya agar tak membahayakan orang lagi, dan minta orang mu untuk mengawasi mereka agar tak melakukan kesalahan lagi," kata Rinjani.
"bagaimana dengan Ragini,apa kamu punya pilihan Anjani?" tanya Dika merangkul gadis itu.
"masukkan wanita itu ke rumah sakit jiwa, dan taruh di kamar isolasi, agar dia tau rasanya tinggal di rumah yang seharusnya dia tinggali dari dulu," kata Anjani dengan dingin.
"kalian berdua sialan!!" teriak Bu Sekar murka ingin menyerang kedua putrinya.
Anjani dan Rinjani tak mengira jika ibunya itu sangat menyayangi Ragini di bandingkan dua putri yang lain.
sedang di rumah, Ragini sudah terkapar karena Ariana yang marah membanting wanita itu.
karena Ragini berani menyentuh Angga yang baru pulang duluan dari acara tadi.
dan wanita itu sudah tak sadarkan diri sekarang, "dasar pria menyebalkan, kenapa jamu diam saat wanita menjijikan ini menggoda mu, kamu suka dengannya," marah Ariana.
"ha-ha-ha aku tak suka wanita stres begini, karena aku hanya ingin lihat, bagaimana reaksi istriku yang manis ini saat suaminya di goda seperti ini di depannya," kata Angga dengan santai.
"jika kamu berulah, tak potong manuk mu," kesal Ariana.
__ADS_1
tapi Angga sangat mencintai istrinya itu, karena baginya hanya Ariana yang bisa melengkapinya.
mendengar ucapan istrinya itu, Angga hanya tertawa saja, karena pria itu tak mengira jika istrinya itu begitu sangar menunjukkan rasa cemburunya.