
Rinjani sudah di rias dengan sangat cantik, kali ini dia mengusung adat Jawa klasik.
dia melakukan sesi foto terlebih dahulu sambil menunggu acara akad nikah.
karena sekarang dia mengunakan rumah milik Dika untuk di rias, acara pernikahan pengucapan janji suci sudah di laksanakan.
sekarang Rinjani keluar untuk bertemu dengan suaminya, terlihat Ndaru begitu tampan dengan pakaian Jawa klasik.
saat acara akan di mulai, tanpa di duga, Ndaru memilih berdiri karena dia lelah jika harus mengikuti acara dengan terus duduk.
semua orang yang belum tau kaget melihatnya, begitu pun dengan Rinjani tapi dia memilih untuk menutupi perasaannya.
acara pun berlanjut dengan acara resepsi pernikahan, dan ada hiburan campursari.
dan nanti malam ada Ki Aji yang akan menjadi dalang untuk memainkan kuah Ramayana.
dan besok Ki Prapto yang akan membawakan cerita cinta antara raja pandu dan kedua istrinya.
acara benar-benar berjalan dengan sangat lancar, acara hati ini berakhir pukul dua belas malam.
dan Rinjani butuh waktu lama untuk membersihkan make-up di wajahnya.
belum lagi sasakan rambut yang merepotkan lagi, tapi dia berusaha sendiri.
melihat Rinjani yang terlihat kerepotan, membuat Ndaru ingin membantunya.
"hentikan, kamu bisa membuat rambutmu rontok," tegurnya.
"jangan kang mas, nanti kang mas ikut kotor," kata Rinjani yang merasa tak enak.
"hentikan membantah dan diam," bentak Ndaru.
Rinjani pun pasrah mengikuti perintah suaminya itu, ternyata Ndaru punya cara lebih cepat, setelah itu Rinjani nampak takut.
"kamu kenapa, aku susah membantumu, kenapa kamu tak mengucapkan apapun?" tegur pria itu.
"aku hanya merasa malu kang mas, sekarang aku merasa tak pantas bersanding dengan mu, karena ternyata kang mas sudah sehat, dan banyak wanita yang lebih cantik dariku," kata Rinjani lirih.
mendengar ucapan istrinya, Ndaru murka, dia langsung mencengkram dagu gadis itu dengan erat.
"aku memilih mu bukan wanita lain, dan sudah ku katakan jika aku itu setengah gila, jadi aku ingin lihat sesabar apa dirimu menghadapi suamimu ini, dan ingatlah aku hanya butuh wanita yang menurut bukan pembangkang," kata Ndaru yang kemudian mendorong Rinjani hingga jatuh.
__ADS_1
Rinjani pun hanya bisa memegangi pipinya, karena cengkraman Ndaru cukup sakit.
"sekarang mandi dan jangan sampai aku mengatakannya lagi," kata pria itu.
mendengar itu Rinjani langsung menuju ke kamar mandi, tapi saat dia selesai, dia lupa tak membawa baju ganti.
dia melongok keluar dan tak menemukan siapapun, jadi dia berlari keluar mengenakan dua handuk untuk menutupi tubuhnya.
setelah mengambil tas miliknya, dia kembali ke kamar mandi dan memakai baju piyama panjang.
dia keluar dan ternyata dia melihat Ndaru dan Hasto baru masuk kamar tapi setelah itu asisten suaminya itu pergi.
"kang mas membutuhkan sesuatu?"
"tidak, aku hanya ingin mandi, dan kenapa kamu masih disana dan tak ingin membantuku? karena aku tak suka orang lain masuk kedalam kamar pribadiku," kata Ndaru.
Rinjani bingung mendengar ucapan dari suaminya yang ingin dia membantu mandi.
ternyata benar-benar membantu pria itu mandi, karena Ndaru tak bisa mengosok bagian punggung.
"jangan pernah berharap aku menyentuh mu, karena kalau boleh jujur aku tak tertarik dengan mu, jadi aku tak memiliki nafsu padamu," kata Ndaru dengan santai.
"aku tau kang mas, pernikahan kita hanya sebuah keharusan dari kedua keluarga, tapi..."
"aku mengerti kang mas, karena semuanya pasti butuh proses, tapi bisakah aku tau apa yang kang mas suka, apa yang tidak suka, dan apa memiliki alergi?"
"besok hasto akan menyerahkan semua daftar apa yang kamu tanyakan barusan, karena aku lelah ingin beristirahat, kamu juga tidurlah karena besok hari kita masih sangat panjang," kata pria itu yang mengeringkan dirinya.
Rinjani pun bangkit dan memilih tidur di sofa karena dia tau jika suaminya itu mungkin masih tak bisa menerimanya untuk tidur satu ranjang.
"itu tempat duduk, tidur di ranjang," perintah Ndaru.
terpaksa dia menurut dan tidur di ranjang yang sama tapi dengan suasana cangung.
tapi mungkin karena efek kelelahan, dia pun akhirnya tertidur begitu saja, dan Ndaru juga terlelap dalam tidurnya.
keesokan harinya, Ndaru bangun sedikit kesiangan, tapi dia sudah melihat istrinya itu sudah selesai bersiap.
"kenapa kamu tak membangunkan ku," kata Ndaru yang lari ke kamar mandi.
"tenang kang mas, ini masih jam setengah tujuh, undangan untuk orang padepokan pukul delapan, dan lang mas msih bis bersiap-siap, dan tadi sarapan aku minta tolong cak Hasto untuk menyiapkan menu sehat untuk mas," kata Rinjani dengan tenang.
__ADS_1
"kalau begitu bantu aku bersiap, tentu kamu tau harus bagaimana memperlakukan suamimu," kata Ndaru.
Rinjani tersenyum dan membantu pria itu memakai kain jarik, tak lupa beskap Jawa.
keduanya sudah siap, dan sedang sarapan bersama, Rinjani terlihat sangat cantik dengan polesan make-up tipis dan sanggul modern.
Ndaru mengambil sebuah hiasan rambut yang terbuat dari emas murni.
"kemarilah biar aku pasangkan," kata pria itu yang memasangnya dengan hati-hati.
itu adalah sebuah hiasan dengan bunga mawar sebagai bunga utama dan di kelilingi dengan dedaunan yang semakin membuatnya indah.
Ndaru juga mengambil selendang yang harus di jebakan oleh istrinya saat ada acara resmi.
dan tak lupa juga Bros keluarganya, yang sudah di pakaikan olehnya, "terima kasih kang mas," kata Rinjani.
"ingat kamu sekarang menjadi menantu tertua di keluarga ini, jadi kamu harus mencerminkan karisma yang lembut dan dalam kondisi apapun, kamu harus ingat untuk menjaga nama baik keluarga ini,"
"inggeh kang mas," jawab Rinjani yang juga selesai sarapan.
dan setelah sedikit memperbaiki make-up mereka berdua pun sudah di minta keluar.
saat dia dan Suaminya keluar, sudah ada Hasto dan seorang wanita yang sudah cukup dewasa di sampingnya.
"perkenalkan dia mbok Yem yang akan menjadi mbok mban khusus yang akan membantumu," kata Ndaru
"salam hormat Nyai," kata wanita itu.
"inggeh mbok, Sugeng injing," jawab Rinjani
"mbok perjelas panggilan mu, karena di rumah ini hanya ada satu Nyai yaitu ibu," tegur Ndaru.
"ngapunten atas kelepetan nipun, neng Rinjani," jawab mbok Yem.
"mbok!" bentak Ndaru.
"kang mas... saya tak keberatan apapun panggilannya, karena yang terpenting saya adalah istri dari Aden Ndaru," kata Rinjani.
"baiklah,terserah dirimu," jawab Ndaru yang tak bisa bicara apapun
Rinjani tersenyum dan mengandeng lengan Ndaru dan menyiapkan diri menemui semua orang.
__ADS_1
dan kini semua mata tertuju padanya, karena selain Ndaru yang menikah, dan penggantinya dari kalangan biasa.
tang membuat kaget adalah Ndaru yang sudah bisa berjalan normal, dan sekarang wajahnya makin terlihat tampan bersih dari jenggot dan Jampang yang selama ini dia pelihara.