
siang itu rapat berjalan sedikit alot karena bulan ini mereka kehilangan salah satu donatur tetap.
tapi Nyai Laila meyakinkan jika mereka tak perlu khawatir karena itu tak akan ada pengaruhnya.
"tapi Nyai, anda tak boleh seenaknya begini, karena bagaimanapun keluarga Sutrisno sudah menjadi jajaran pemberi dana besar, kami merasa ini tak adil bagi mereka," kata seorang wanita yang memang menjadi pendukung keluarga itu.
"apa yang anda sebut banyak itu, memberikan bantuan uang sepuluh juta, tapi nyatanya sokongan terbesar tetap dari keluarga Kusumo, lagi pula bukan ini Ndaru memberikan dua ratus juta untuk bakti sosial karena istrinya yang ikut bergabung,jika anda tak terima silahkan jika ingin keluar dari perkumpulan ini, saya mempersilahkan," kata Nyai Laila yang menatap tajam.
semua orang pun terdiam tak berani ada yang berbicara lagi, karena mereka tak ingin dikucilkan jika lepas dari perkumpulan ini.
"ini juga berlaku untuk siapapun yang ingin keluar karena merasa pilihan ini tak tepat, silahkan, karena kalian tau dan ada disana saat kejadian buruk itu terjadi di hari bahagia putra dan menantuku," kata Nyai Laila.
"maafkan kami nyai, silahkan di lanjutkan," kata seorang ibu yang selama ini juga terlihat diam tapi nyatanya dia pendukung setia keluarga Kusumo.
Rinjani merasa tak enak, akhirnya pukul empat sore rapat mereka selesai.
Rinjani dan Nyai Laila langsung pulang setelah sedikit berbincang dengan semua orang.
sesampainya di rumah, Rinjani lupa belum belanja, dia buru-buru ke dapur untuk melihat makanan yang harus di buat olehnya adalah ikan goreng sambal diadakan.
"cak Seto tolong ambilkan ikan di belakang, tapi ikan kesukaan suamiku ya, ambilkan untuk makan kita semua," kata Rinjani.
"baik Nyai," Jawab Seto yang pergi dengan mbok Yem.
mereka mengambil lima ekor ikan gurame untuk makan malam, sedang di rumah Rinjani membuat bumbu untuk merendam ikan sebelum di goreng.
tapi saat selesai membuat bumbu dan menyiapkan bahan, Rinjani kaget saat mendengar pintu terbuka, ternyata itu adalah Ndaru.
pria itu masuk dengan marah, dan Rinjani bergegas menghampiri suaminya.
"kang mas sudah pulang," sapa Rinjani yang menghentikan langkah Ndaru.
"Hasto pergilah," usir Ndaru.
__ADS_1
"baik Ndoro," jawab pria itu.
tapi Rinjani bingung, Hasto menunduk sopan sebelum pergi, tiba-tiba Rinjani di tarik ke dalam kamar dan di dorong hingga tersungkur.
"ada apa kang mas," kaget Rinjani.
terlebih dia melihat Ndaru mengunci pintu dan melepaskan ikat pinggangnya.
"kang mas ada apa, jika aku salah aku minta maaf, tapi tolong katakan sesuatu," katanya yang mulai panik.
sebuah pukulan ikat pinggang itu mengenai punggung Rinjani, "AAA... sakit mas!!"
"ampun mas... aku minta maaf tolong..." mohon Rinjani yang merasakan tiga kali pukulan dari suaminya itu.
"kenapa kamu selalu diam saat dihina, buka mulut mu dan gunakan namaku untuk membungkam mulut mereka, kamu mengerti, hari ini kamu masih di tolong ibu, jika tidak ada ibu atau aku, kamu akan jadi lelucon!" marah Ndaru.
"maafkan aku mas, aku hanya merasa tak sopan jika menjawab orang yang lebih tua," jawab Rinjani yang sudah menangis.
pasalnya punggungnya terasa begitu panas dan sakit, terlebih sekarang Ndaru mencengkram erat dagu Rinjani.
Ndaru keluar dari kamar dengan membanting pintu cukup keras, dan menuju ke ruang kerja, sedang Rinjani hanya bisa menangis menutup mulutnya agar orang-orang tak mendengarnya.
mbok Yem bergegas menghampiri Rinjani di kamar, dan terlihat wanita itu masih meringkuk sambil menangis.
"ya Gusti... Nyai muda..." panggil wanita itu dengan sedih.
saat mbok Yem ingin membantu Rinjani, tak sengaja wanita itu menyentuh punggung Rinjani.
"sakit mbok, lebih baik sekarang mbok lanjutkan memasak aku akan membersihkan diri," kata Rinjani.
"tapi Nyai," kata mbok Yem yang merasa kasihan.
"tidak apa-apa mbok," jawab Rinjani.
__ADS_1
sedang di ruang kerja, Ndaru memukuli dirinya sendiri, dia terus terbayang bagaimana Rinjani memohon ampun tadi.
"bodoh, kenapa kamu begitu kasar padanya!" kesal Ndaru yang memukul meja hingga hancur.
"Hasto!!!" teriaknya memanggil pria kepercayaannya itu.
Hasto masuk dengan wajah datar, seperti biasa dia tak terkejut melihat sosok Ndaru yang sedang mengamuk.
"ada apa Ndoro?"
"belikan obat yang biasa ku gunakan saat luka, segera, dan setelah itu bereskan semua ini," kata Ndaru.
"kebetulan saya masih ada dua yang masih baru Ndoro, silahkan..." kata pria itu yang mengetikan salep itu.
Ndaru melihat ke arah asistennya itu dan kemudian langsung pergi, dia masuk ke dalam kamar.
dan melihat Rinjani yang sedang kesulitan untuk mengoleskan obat merah.
"kemarilah aku bantu," kata Ndaru yang mengejutkan Rinjani yang langsung menarik diri menjauh dari pria itu.
"tidak kang mas, aku bisa sendiri,"
"jangan membuatku mengulangi perkataan ku jadi jangan membantah," kata Ndaru yang tak suka di bantah.
Rinjani duduk di ranjang, Ndaru menyisihkan tambur panjang istrinya itu dan mulai mengoleskan obat itu ke punggung putih istrinya itu.
"emm... sakit mas..." kata Rinjani yang mengigit tangannya.
Ndaru menarik tangan Rinjani agar tak terluka dan memberikan tangannya Nagar di gigit oleh wanitanya itu.
dia terus mengusapkan obat dengan tangan kanannya di bantu cermin besar meja rias.
dia tau jika obat itu sangat perih, tapi tak mengira jika Rinjani sampai pingsan.
__ADS_1
akhirnya Ndaru menambahkan obat itu agar segera sembuh, dan Ndaru menahan tubuh istrinya itu agar tak jatuh.
dan dia tak bergerak sedikit pun, "maafkan aku ya, seharusnya aku mengendalikan emosi ku bukan seperti tadi yang langsung meluap begitu saja,"