Jangan Salahkan Aku Jatuh Cinta

Jangan Salahkan Aku Jatuh Cinta
hanya mimpi


__ADS_3

Ndaru menyuntikkan obat tidur ke tubuh Rinjani, "pastikanlah saat dia bangun, yakinkan dia jika semua yang dia lihat itu cuma halusinasi, jika tidak bisa, maka aku akan membuatnya mengingat sesuatu agar dia bisa bersama ku,"


"baik Ndoro," jawab mbok Yem.


Ndaru langsung bergegas pergi menemui semua orang yang ada di sana.


Nyai Laila dan Anjani sudah duduk di luar ruangan, pria yang tergantung terbalik sudah mati.


"si goblok... kenapa kamu membunuhnya, seharusnya biarkan dia hidup karena dia harus menjadi kambing hitam," kata Ndaru yang baru sampai ruangan itu.


"itu tak mungkin mas, karena dia sudah tau semuanya aku menghindarinya. tapi kita bisa cari orang lain tenang saja," jawab Dika.


"kamu itu harus menjaga wibawa dan seragam mu, bukan seperti ini..."


"aku tak peduli, jika di pecat pun aku tak masalah akan hal itu, toh aku masih seorang Kusumo," jawab Dika.


"baiklah jika begitu malam ini kita bisa habisi mereka semua, dan menikmati setiap teriakan itu," kata Ndaru.


Rinjani bangun dan tidak melihat suaminya di sampingnya, "mas Ndaru..." lirihnya.


dia pun ingat sesuatu, tapi tiba-tiba kepalanya sangat pusing, "loalah Nyai sudah bangun, tong istirahat' saja Nyai,"


"lepaskan mbok, aku ingin pergi, keluarga ini Semuanya berdarah dingin, mereka suka membunuh orang!" bentak Rinjani.


"sudah kamu mengigau di siang bolong ini sayang?" kata Ndaru yang baru masuk membawa beberapa berkas.


"aku tak mengigau mas, kamu itu adalah pria yang bersiul dan membunuh seorang gadis di gang itu, bukan pria yang mati di penjara itu!" teriak Rinjani yang ketakutan.


wanita itu sudah mundur ke sudut kamar untuk berlindung, tapi Angga terlihat santai


dia langsung menghampiri istrinya yang sedang ketakutan itu, melihat suaminya Rinjani ingin lari.


tapi Ndaru berhasil menangkap wanita itu dan mendorongnya hingga terjatuh di ranjang.


"mbok Yem keluar!! dan jangan ada yang berani mengganggu, meski itu hal sepenting apapun, kecuali ada ketiwasan,"

__ADS_1


"baik Ndoro," jawab wanita itu.


Rinjani sudah ketakutan, tapi tanpa di duga Ndaru memasang borgol pada kedua tangan Rinjani.


dan borgol itu tersambung ke teralis besi yang ada di kepala ranjang, "kamu tak akan ku biarkan lari," bisiknya.


Rinjani terus berontak tapi borgol itu tak bisa terlepas, dia pun tak mau menjadi korban dari kegilaan suaminya itu.


Ndaru mengunci pintu kamar dan langsung melepas pakaian atasnya hingga dia telanjang dada.


"apa yang kamu inginkan mas?"


"tentu saja, mengambil hak ku sebagai suamimu, dan terima kasih sudah membuatku ingin merasakan mu," kata Ndaru yang merobek baju Rinjani.


dia pun tak bisa melakukan apapun saat ini, dan sekarang dia pun pasrah dengan nasibnya yang begitu menyedihkan.


Ndaru terlihat begitu bersemangat, beberapa kali dia mencium bibir Rinjani dan wanita itu pun membalas.


setelah puas, Ndaru melepas satu borgol Rinjani, "kamu tak bisa lari, jika kamu nekat, maka kamu tak akan bisa melihat orang tua mu lagi, lagi pula kamu tidak ada bukti yang menyatakan jika aku adalah psikopat itu."


ya Rinjani tak punya bukti, terlebih kasus itu sudah di tutup, "kalau begitu apa yang terjadi dengan keluarga Hasna? jangan bilang kalian semua membunuhnya?"


"bukan kami tapi kalian," kata Ndaru yang bangkit dan mulai memakai celana pendek miliknya.


"apa maksudnya," tanya Rinjani.


Ndaru melepaskan semua borgol di tangan Rinjani dan membawanya ke kamar mandi.


mereka pun kembali melakukannya di kamar mandi sebelum benar-benar mandi.


Rinjani pun tak bisa menolaknya, bagaimana pun Ndaru adalah Suaminya.


setelah mandi, mereka kembali ke ruang hukuman, terlihat mereka sedang menyaksikan Hasna dan keluarganya di ikat di sebuah tiang.


"kamu, Ariana dan ibu yang akan membunuh mereka, karena mereka sudah berani membuat kami malu, dan untuk Hasna sisakan karena Dika yang akan membuat wanita itu tau bagaimana saat Dika marah," kata Ndaru membisikkan di telinga Rinjani.

__ADS_1


"tidak... aku tidak bisa membunuh mereka," bantah Rinjani.


"kalau begitu aku yang akan membunuh kedua mertua ku itu, karena kamu tak ingin membunuh mereka, jadi pilih mana," kata Ndaru mengancam istrinya.


"tolong jangan mas, jangan sakiti orang tuaku, aku akan melakukan apapun," kata Rinjani.


"baguslah, karena semua keluarga Kusumo harus berani menghadapi musuh, karena musuh keluarga kita banyak Rinjani..." bisik Ndaru dengan lembut.


seperti sihir, ucapan pria itu seperti membangkitkan sesuatu di hati Rinjani.


"tolong mbak jangan lakukan itu, jangan lukai mereka, ingat mbak kamu itu gadis baik," kata Hasna memohon


"kamu salah Hasna, aku bukan gadis yang baik," jawab Rinjani tersenyum.


Ndaru yang memang tau istrinya itu hanya menyeringai dan bertepuk tangan.


Hasna histeris saat pisau itu membelah perut dari ibu Lastri, dan kemudian melukai leher wanita itu.


membuat darah muncrat kemana-mana, itulah kenapa Hasna langsung berteriak makin histeris.


dia melihat keluarganya meregang nyawa di tangan mereka bertiga, "tidak... maafkan aku... aku seharusnya tak berulah..." tangis Hasna.


"maaf semuanya sudah terlambat," jawab Dika yang berdiri di depannya.


Ndaru memeluk istrinya dan mencium pipi Rinjani, "kalian membuatku iri,"


"kalau begitu minta Romo menikahkan mu,jangan cuma kawin Mulu,"


"itu benar, dua Minggu dari sekarang pernikahan kalian, dan untuk mu Dika, sepertinya kamu harus pergi ke luar kota untuk menenangkan diri dan lebih baik keluar dari kesatuan mu,dan fokus menjadi pewaris keluarga Kusumo,"


"baik Romo sesuai keinginanmu..." jawab Dika yang mengayunkan pedang miliknya yang membuat kepala Hasna mengelinding ke lantai.


"ternyata aku mencintai orang yang salah, maafkan aku Semuanya, aku akan mengikuti semua keinginan dari mu ibu..."


"bagus putra ku, ini yang ibu inginkan..."

__ADS_1


__ADS_2