
keluarga Kusumo sudah sampai di rumah mewah yang sangat luas, meski di kawasan baru.
tapi rumah gaya tradisional tetap menjadi pilihan Ndoro Shaka, tapi bedanya rumah sekarang lebih terasa adem dengan taman yang begitu luas.
tapi meski begitu luas rumah baru hanya seperempat dari rumah lama mereka.
"bagaimana menurutmu sayang, seperti keinginan mu bukan, meski bernuansa hawa klasik tapi rasa modern tetap ada, oh ya ada kolam renang di belakang rumah," kata Ndoro Shaka.
"iya kang mas, terus rumah Ndaru dan rumah Angga?" tanya Nyai Laila.
"di samping kanan rumah Ndaru, di samping kiri rumah Angga, dan kita saling terhubung dengan pintu samping di sana, karena di adat Jawa tak boleh kita tinggal satu atap dengan tiga keluarga," kata Ndoro Shaka menerangkan.
"tapi mereka bisa menjaga kedua anaknya, bukankah itu akan sangat menyulitkan,"
nyai Laila tau benar jika menjaga dua bayi itu sangat sulit, terlebih Rinjani dan Ariana belum punya pengalaman.
"tenang di masing-masing rumah ada banyak orang yang membantu jadi kamu tenang oke, kalian boleh pulang dulu, mbok tum dan mbok drh ingat bantu keduanya menjaga anaknya,"
"baik Ndoro," jawab kedua wanita itu.
keduanya pun langsung mengikuti masing-masing Ndoro mereka, dan sesampainya di rumah itu.
Ndaru tersenyum karena dia tak mengira yang membeli tanah di samping rumahnya adalah Romo-nya sendiri.
__ADS_1
Rinjani masuk kedalam rumah, terlihat semua barang tertata rapi, bahkan di di gong rumah sudah ada tiga foto besar terpajang.
di tengah adalah foto pernikahan mereka, dan di samping kanan kiri adalah foto kedua putranya.
"kapan mas mengambil foto Devka dan Dipta?"
"kemarin dan kamu tau kedua putra kita ini ternyata mengemaskan seperti mengerti ada kamera yang membidiknya," kata Ndaru tersenyum sambil merangkul pundak Rinjani.
"dia tampan seperti Romo-nya," kata Rinjani yang tersenyum cerah.
"Nyai biar saya timang dan tidurkan Aden kecil," kata mbok Yem yang meminta Devka.
"baiklah mbok, tapi tolong tidurkan di kamar utama saja ya, karena aku tak ingin jauh dari putraku," mohon Rinjani.
"baiklah kang mas," jawab Rinjani.
dia memang pernah di rumah itu saat kejadian dengan Ragini, tapi dia penasaran karena dia tak di kasih tau saudara-saudaranya itu di asingkan kemana.
"ada apa sayang, sepertinya kamu terlihat khawatir? coba katakan pada suamimu ini?" tanya Ndaru melihat wajah istrinya.
"aku sedang berpikir, kedua saudaraku di asingkan kemana? pasalnya Anjani aku telpon tak menjawab," tanya Rinjani.
mendengar pertanyaan itu, dia pun kaget karena yang dia tau jika Anjani di hukum mati sedang untuk Ragini, dia sengaja mengirim wanita itu ke rumah sakit khusus yang menanggani orang gila.
__ADS_1
dan rumah sakit itu tak bisa di akses secara sembarangan karena itu rumah sakit seperti hantu yang menampakkan diri hanya pada orang-orang tertentu.
"mereka di sebar sayang, tapi mereka berada di pedalaman jadi mungkin ponsel tak berguna di sana," jawab Ndaru yang berbohong.
"ow begitu ya, tapi itu kenapa ada tiga pigora kosong di dinding?" tanya Rinjani heran.
karena pigora itu membuat rumah itu kurang bagus di lihat, "itu untuk adik-adik dari Devka dan Dipta,"
"apa? luka jahitan ku saja belum kering," kata Rinjani tak bisa berkata-kata lagi.
"kan aku menunggu dan kita harus berusahalah, karena aku ingin saat mereka besar akan terlihat seperti anak kembar,"
"mas hamil sendiri!" kesal Rinjani yang meninggalkan suaminya itu.
sedang di rumah Angga, rumah mewah itu terlihat begitu sedikit furniture.
bukan karena Angga pelit, tapi dia tak ingin orang yang bekerja di rumahnya banyak karena itu membuat tidak nyaman.
belum lagi jika anak-anak mulai aktif merangkak dan berjalan, itu akan membahayakan jika terlalu banyak perobatan.
"sayang di sini kamar kita, dan terhubung dengan kamar utama, jadi saat malam mereka menangis kamu bisa langsung menuju ke kamar kedua anak kita,"
"baiklah mas kalau begitu permintaan mu," jawab Ariana yang juga sudah merasa senang dengan apa yang dia punya saat ini.
__ADS_1