
sedang Dika yang masih berjaga karena acara ini akan berjalan sampai pagi.
tiba-tiba ada seorang wanita yang datang dan mengusap dadanya, wanita itu berpenampilan sangat seksi.
"kamu menggodaku Hem... kamu tau jika aku adalah kepala polisi di daerah sini," kata Dika berbisik di telinga wanita itu.
"tentu aku tau, aku mengenal mu dan karena wajah mu ini aku ingin menyerahkannya diriku pada mu pak polisi," bisik wanita itu.
"sayangnya, aku tak suka barang bekas," kata Dika mendorong wanita itu agar menjauhinya.
"kamu yang pertama, aku sengaja memakai baju seksi demi dirimu," kata wanita itu yang sudah membuat lingkaran kecil di dada bidang Dika.
dia langsung menangkap tangan wanita itu dan membisikkan sesuatu yang langsung membuat wanita itu cerah ceria.
wanita itu bergegas pergi menuju ke tempat dia dan Dika akan bertemu, dia sudah bersiap dengan pakaian yang menggoda.
"jika malam ini aku berhasil naik ke ranjang pak Dika, aku pasti akan menjadi istrinya, dan aku pasti akan hidup nyaman di rumah mewah itu," gumamnya tak sabar.
seorang pria berpakaian serba hitam masuk kedalam rumah itu, dan langsung menutup pintu dan membuang kunci.
wanita itu langsung memeluk tubuh pria itu, tapi dia heran kenapa Dika lebih kecil.
pria itu berbalik dan mengejutkan wanita itu hingga terduduk, "siapa kamu?" kagetnya.
"aku adalah Dika ,pria yang kamu panggil bukan," kata pria itu tersenyum menyeringai di balik topeng.
wanita itu ingin lari tapi dia keburu di bekap dan di bawa pergi oleh pria itu.
"aroma mu begitu menggoda, tapi sayang kamu akan habis setelah ini," kata pria itu yang pergi dengan mudah.
Dika sedang fokus menjaga semua area kekuasaannya, dia bahkan terus mendapatkan sapaan dari seluruh tamu yang juga mengenalnya.
bagaimana tidak, Dika adalah putra ketiga dari pemilik padepokan palin besar di pulau Jawa.
bahkan pengikutnya adalah orang dari seluruh negara, pukul lima pagi Dika pamit pulang karena acara sudah selesai, dan kini adalah giliran polres lain yang berjaga.
dia memejamkan mata dan tersenyum karena dia bisa bermain sebentar lagi.
__ADS_1
dia tak khawatir karena semua korban permainannya akan berakhir menjadi mayat jika tidak akan gila dan meracuni tak jelas.
"kita pulang Ndoro?"
"tentu saja tidak, biarkanlah aku bermain dulu, jangan mengajakku pulang dulu," gumamnya.
mobil pun berhenti di sebuah gudang yang cukup jauh dari manapun.
saat mobil masuk pria itu sudah mengganti bajunya dengan jas hujan hitam.
wanura itu sudah di tidurkan tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.
tiba-tiba wanita itu menjerit cukup kuat dan kemudian suara jeritan itu berganti dengan suara tangisan.
para orang yang berjaga di sana terlihat santai tanpa terpengaruh, setelah puas menyiksa, Dika keluar dan melepaskan semua atributnya.
"sialan wanita itu, kalian bisa bereskan dan pastikan jika dia mari atau kalian yang akan mati," perintahnya yang menikmati rokok.
"tentu tuan, kami pasti akan membuatnya bersemangat dan bersenang-senang di sini," kata para pria pria itu.
sesampainya di istana Bangura Dika hanya menyapa Semuanya dan langsung lari ke kamarnya untuk tidur, "beh kasihan amat tuh om polisi, sepertinya sangat lelah," kata Ndaru yang melihat adiknya itu.
"itu lebih baik, dari pada kalian berdua, katanya pengusaha, tiap hari nongkrong saja di rumah, lebih baik bantu Romo kalian di padepokan, biar ibu tak terus melihat kalian," tegur Nyai Laila
"maaf kami belum waktunya ikut campur, itu kata Romo yang masih muda dan sehat, apa ya rahasianya?" kata Angga.
"menikahi gadis muda, dan nikmati air sarinya saat dia masih perawan," jawab Ndaru.
"omongan opo kui,cah keplek," kata Nyai Laila melemparkan bantal ke arah kedua putranya itu.
kedua pemuda itu hanya tertawa, dan ketiga bangunan tambahan untuk rumah ketiganya sudah jadi.
dan untuk rumah khusus milik Ndaru, pria itu sudah meminta untuk di buat kesal suara, agar seluruh suara yang ada di dalam rumah tak keluar.
jadi rumah itu di buat konsep modern di dalam, tapi di luar sana seperti bangunan istana Bangura yang Jawa klasik.
di rumah Rinjani,gadis itu sedang mengajar lima orang anak-anak SD untuk mempersiapkan ujian yang akan segera datang.
__ADS_1
"jadi besok kalau ujian, jangan sampai ada yang nilainya jeblok, jika ada yang jeblok tak jadi mbak belikan hadiah, jadi semuanya harus semangat untuk ujian ya," kata Rinjani.
"baiklah mbak, kami akan semangat!!" teriak mereka dengan semangat.
mereka berlima pun pamit pergi, setelah itu Rinjani mengemasi ruang tamu itu yang cukup berantakan
dia menghela nafas, bagaimana nanti setelah dia menikah, apa dia masih bisa mengajar.
karena itu adalah kesenangannya dalam menjalani hidupnya, karena menjadi guru adalah impiannya.
tapi ternyata keuangan keluarganya tak memungkinkan hingga dia tak bisa melakukan apapun lagi untuk mewujudkan impiannya.
"ada apa nduk, kenapa kamu kok sedih gitu?" tanya ibu Sekar melihat ibunya.
"tidak ada apa-apa Bu, aku hanya bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku menikah, pasti aku tak akan bisa menjadi guru les lagi," jawab gadis itu.
"ya mau bagaimana lagi nduk, jamu harus menurut pada suamimu dan keluarganya," kata Bu Sekar.
Rinjani hanya bisa mengangguk saja, tak berbeda jauh dengan kediaman Rinjani.
di tempat Ariana, gadis itu juga sedang sedih karena tak akan bisa lagi mengajar silat.
terlebih itu adalah kesenangannya sama ini, "kenapa kamu sedih nduk, sebentar lagi kamu akan menikah," kata pak Pujianto.
"tapi kenapa sih pak, aku masih ingin memajukan padepokan silat kita, terlebih aku hanya melihat calon suamiku sekilas saja, dan pria itu sepertinya tak tertarik padaku," kata Ariana.
"itu hanya karena kalian belum saling kenal, karena bapak percaya setelah semuanya kalian pasti akan menjadi pasangan yang baik dan sempurna," kata pak Pujianto.
"iya pak,tapi apa aku masih bisa mengajar silat setelah menikah ya," bingung Ariana yang tak ingin mati bosan.
"kamu tentunya harus menurut dengan suamimu dan keluarganya,dan jangan bikin malu, ingat kamu itu perempuan, jadi mulai bersikap selayaknya wanita," tegur Bu Ninik ibu dari gadis itu.
"iya Bu iya...." kata Ariana yang tak bisa mengatakan apapun jika melawan ibunya itu.
di tempat lain seorang pria sedang asik menguliti bahan baku yang akan dia gunakan untuk membuat wayang baru.
karena beberapa wayangnya sudah mulai rusak, tak mungkin diperbaiki, meski bisa tapi itu tak sempurna lagi karena baginya dia sangat membenci barang yang cacat.
__ADS_1