
tak terasa sudah tujuh tahun berlalu, kehidupan Ndaru dan Rinjani sudah sangat lengkap dengan kehadiran tiga orang anak.
"Rayyana, ajak kedua kakak mu untuk sarapan, Devka, Dipta!!" teriak Rinjani.
"sebentar bunda, aku belum menemukan kaos kaki ku," jawab Rayyana.
"aku masih mencari dasi ku bunda!" saut Dipta yang sudah mengajak semua kamarnya.
yang tak terduga Devka sudah siap dengan tenang dan tanpa drama seperti kedua saudaranya.
"Romo," panggil Rinjani yang tak sadar.
"bunda... Romo kan sudah..." kata Devka mengenggam tangan ibunya.
"sudah apa Devka, katakan jika kamu punya pemikiran aneh pada Romo, dasar bocah ini mengesalkan,"
"Romo sudah pulang, ku kira Romo hilang ingatan dan melupakan rumah kita," kata Devka asal.
"hei bocah pintar, imajinasi mu terlalu mengerikan Devka, Romo cuma ada urusan di padepokan, dan jangan samakan Romo dengan ayah teman-teman mu yang gila itu, dan selama sebulan ini Romo akan terus di rumah," kata Ndaru.
__ADS_1
"Romo!!!", teriak Rayyana yang baru keluar dari kamarnya.
"ya Tuhan putriku sudah benar, oh ya nanti Romo uang antar ke sekolah, sekalian kami ingin pergi ke rumah sakit," kata Ndaru pada ketiga anaknya.
"memang mau apa Romo dan bunda ke rumah sakit?" tanya Dipta yang baru sampai di meja makan.
"jangan bilang bunda hamil lagi, aku tak mau punya adek lagi," protes Devka.
"loh memangnya kenapa, orang sepupu kalian saja juga mau punya adek loh," kata Ndaru menggoda anak-anaknya.
mendengar itu ketiganya malah berteriak dan mulai protes, Rinjani hanya bisa bersabar melihat tingkah suami dan tiga anaknya.
"sudah kami hanya melakukan pemeriksaan kesehatan saja, kalian sarapan gih, tapi kalau hamil lagi mau bagaimana lagi dong, kalau mau di bunuh nanti bunda ikut mati, bagaimana?" kata Rinjani.
Ndaru menatap tajam kearah istrinya itu karena mengatakan hal aneh.
sedang Rinjani hanya tersenyum, karena kelahiran Rayyana saja hampir membuat suaminya gila.
karena kehamilan terlalu dekat membuat Rinjani hampir kehilangan nyawa karena memaksakan diri untuk melahirkan anak itu.
__ADS_1
"sudah romo cuma bercanda tentang adik, karena Romo juga tak ingin kehilangan bunda kalian, kami ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes dari Mbah Kakung dan Mbah uti, jadi setelah sarapan, lekas pamitan pada mereka," perintah Ndaru.
"baik Romo," jawab ketiganya.
mereka langsung berlari ke rumah sebelah untuk pamit berangkat sekolah, dan bertepatan dengan sepupu mereka.
yaitu Rissa dan Rossa, "Mbah kamu berangkat ke sekolah dulu ya," kata Rayyana berlari.
"aduh sayang, kamu ini perempuan kenapa begitu grusa-grusu, pelan-pelan," tegur Nyai Laila.
"habis nanti Romo marah kalau telat, Mbah Kakung ingat janjinya," kata Rayyana.
"baiklah sayang ku, nanti sore kita semua main di belakang, Devka juga harus ikut,"
"aku malas karena bermain dengan para wanita ini menyebalkan, terlebih Rayyana dan Rossa sangat manja dan suka menangis," kata Devka.
"menyebalkan, aku itu gak cengeng," kata bocah itu dengan kesal
"terus selama ini apa, cuma keluar air mata," saut Dipta.
__ADS_1
"sudah sekarang cepat pergi untuk ke sekolah, nanti yang mau ikut main Mbah Kakung kasih hadiah, terlebih Mbah buyut kalian juga datang," kata Ndoro Shaka
"baiklah kalau begitu eyang, kami ikut!!" teriak mereka semua dan kemudian bubar.