
pak Selo dan Bu Sekar baru sadar dari pingsannya, mereka kaget melihat ruangan gelap tanpa penerangan sedikit pun.
pasalnya ruangan itu begitu pengap dan juga ada teralis besi yang mengurung mereka.
"siapapun tolong keluarkan kami, kami ini besan Ndoro Shaka kalian tau!!" teriak pak Selo
seseorang datang, suara langkah kaki yang memecah keheningan, suara nyanyian tembang kidung Jawa Wahyu kalasebo yang kental.
Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Senajan setan gentayangan tansah gawe rubedo
Hinggo pupusing jaman
Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Maper hardaning ponco saben ulesing netro
Linambaran sih kawelasan Ingkang Paring Kamulyan
Sang Hyang Jati Pangeran
Jiwanggo kalbu samudro pepuntoning laku
Tumuju dhateng Gusti Zat Kang Amurbo Dumadi
Manunggaling kawulo Gusti krenteg ati bakal dumadi
Mukti ingsun tanpo piranti
Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Maneko warno prodo mbangun projo sampurno
Sengkolo tido mukso kolobendu nyoto sirno
Tyasing roso mardiko
Mugiyo den sedyo pusoko kalimosodo
Yekti dadi mustiko sakjroning jiwo rogo
Bejo mulyo waskito digdoyo bowo leksono
Byar manjing sigro sigro
Ampuh sepuh wutuh tan keno iso paneluh
Gagah bungah sumringah ndadar ing wayah wayah
__ADS_1
Satriyo toto sembodo wirotomo katon sewu kartiko
Kataman wahyu kolosebo
Memuji ingsun kanthi suwito linuhung
Segoro gondho arum swuh rep dhupo kumelun
Ginulah niat ingsun hangidung sabdo kang luhur
Titahing Sang Hyang Agung
Rembesing tresno tondho luhing netro roso
Roso rasaning ati kadyo tirto kang suci
Kawistoro jopo montro kondang dadi pepadang
Palilahing Sang Hyang Wenang
Nowo dewo jawoto talisantiko bawono
Prasido sidikoro ing sasono asmoro loyo
Sri narendro kolosebo winisudo ing gegono
Dhatan gingsir sewu warso.
"kalian tau setiap tindakan dan dosa akan mendapatkan balasan, jadi sekarang waktunya balasan itu kalian terima karena berani mengusik ketenangan keluarga Ndoro Shaka," kata Nyai Laila yang membuka penutup kepalanya.
dan di sampingnya Ndoro Shaka berdiri dengan tatapan tajam, "Ndoro ampuni kami, bagaimana pun kami adalah orang tua Rinjani,"
"putri kalian sudah mati, dan wanita di samping putriku adalah putri kedua kalian yang setengah gila, kalian pikir kami bisa di bodoh hingga sejauh mana," kata pria itu dingin
keduanya kini sudah terjebak, mereka tak bisa mundur lagi, "maafkan kami Ndoro, kami hanya di minta untuk melakukan ini atas perintah dari pria itu, karena dia ingin menjebak dan mengetahui apa yang di lakukan keluarga Kusumo, karena dia ingin membalas dendam,"
"tak usah membawa-bawa orang lain, kalian akan mendapatkan ganjaran karena berani menghianati keluarga Ndoro Shaka, dan ku pastikan hukuman kalian akan sangat berat,"
"mohon ampun Nyai, tapi ketiga putriku sudah terjebak juga menjadi menantu mu, setidaknya ampuni kami," kata wanita itu.
"kamu tuli, sudah ku katakan Rinjani sudah mati, dan Ragini pun akan mati di tangan Ndaru karena putra ku itu tak akan mengampuninya, dan Anjani memang akan ku jadikan menantuku, tapi dia tak mengakui kalian sebagai orang tuanya?" kata Nyai Laila.
"tidak seperti itu, bagaimana bisa putriku mati, Nyai jangan mengatakan omong kosong!!" marah pak Selo
"kenapa, dia di aniaya oleh polisi yang menjadi sekutu kalian itu,pria busuk yang berani mencoba menjebloskan Ndoro Shaka ke penjara dan juga ketiga orang putra kami," kata Nyai Laila.
pak Selo jatuh lemas tak percaya, "Rinjani!!!" teriaknya frustasi.
Bu sekar tak percaya, "itu pilihan kalian jadi nikmatilah dan tak usah sedih, mungkin sebentar lagi putri kalian akan datang bersama putraku, jadi tunggu saja," jawab Nyai Laila yang di rangkul oleh Ndoro Shaka.
keduanya pun pergi meninggalkan kedua besannya yang berani berkhianat seperti ini.
__ADS_1
keesokan harinya, Ndoro Shaka sudah bersiap untuk ke padepokan seperti biasa.
tak hanya pria itu tapi ketiga putranya juga, dan juga Nyai Laila.
karena pagi ini ada acara resmi yang di adakan, sedang ketiga putranya itu tak mengajak istri masing-masing tapi hanya para asisten.
sesampainya di padepokan, semua orang menyambut rombongan keluarga itu dengan sangat meriah.
tapi saat Ndoro Shaka akan duduk ada seorang pria yang datang, dan pria itu sudah tak bisa diam terus menerus.
karena semua rencananya sudah di hancurkan oleh keluarga itu, bahkan satu-satunya orang yang bersedia menolongnya sudah mati.
"kamu tak pantas duduk di kursi itu," kata pria yang sepantaran dengan Ndaru dan Angga.
"kamu putra haram keluarga Leksono,mau datang menuntut balas? atau mau apa?" tanya Ndoro Shaka dengan santainya.
"kamu tak pantas duduk menjadi ketua padepokan karena kamu yang membunuh keluargaku," marah pria itu.
"kamu yakin bukan keluarga mu yang memiliki hal aneh, dia memberi makan semua orang dengan tubuh manusia, dan lagi pula kamu hanya anak dari seorang mbok mban di rumah itu, bahkan kamu tak di akui oleh nyonya rumah itu, jadi kamu tak pantas menyebutmu anak Leksono bukan," kata Ndoro Shaka dengan tegas.
"kenapa? bagaimana pun aku tetap putranya," kata pria itu tak terima.
"komunitas masyarakat kami tak pernah mengakui seorang anak di luar pernikahan, meski kamu punya sejuta bukti," saut seorang sesepuh yang ada di padepokan itu.
"bagaimana Andre, kamu masih mau mengusik ketenangan keluarga kami?" kata Ndaru yang berjalan menghampiri pria itu.
melihat Ndaru mendekat, dia pun segera mundur, dia tau jika dia bisa saja terancam karena Ndaru terkenal memiliki kekuatan bertarung mematikan.
"jangan mendekat Ndaru, kamu itu sama dengan ayah mu, seorang pembunuh," marah Andre yang perlahan mundur.
"kamu itu pengecut, kamu mengunakan tangan orang lain untuk menyakiti keluargaku, bahkan kamu membujuk mertuaku dengan uang mu bukan, dan bodohnya karena janji manis mu mereka akhirnya terkena gangguan jiwa," kata Ndaru yang berakting sedih.
"apa... kamu sudah tau," kaget Andre.
"hei!!! jangan menguji kesabaran ku, karena ulah mu aku kehilangan segalanya," kata Ndaru mencekik leher pria itu di depan semua orang.
"Ndaru kamu tak bisa membunuh ku, akan ada banyak saksi mata di sini," kata Andre yang merasa menang.
"apa kalian melihat mas Ndaru melukai pria bernama Andre?" tanya Dika.
"tidak, Andre mencekik dirinya sendiri dan juga membenturkan kepalanya karena telah merasa bersalah karena mencoba membunuh Ndoro Ndaru," jawab semua orang santai
"aku tak membunuh mu, kamu bunuh diri sendiri," kata Ndaru tersenyum.
"dasar penganut iblis," kata Andre yang tidak punya kesempatan untuk lari.
bahkan anak buahnya sudah memberikan sujud pada Ndaru, "lihat mereka memilih pilihan benar, kamu pria bodoh yang tak sadar diri ingin mengusikku, ku pastikan kamu akan bertemu dengan orang tua busuk itu di neraka," kata Ndaru by dingin.
Ndaru membanting Andre hingga pria di itu kesakitan. kemudian di depan kaki Ndoro Shaka kepala Andre di benturkan ke sebuah batu besar, yang biasa di gunakan untuk pijakan kaki hingga kepala pria itu pecah dan tewas.
semua orang terlihat santai, karena dari awal padepokan ini berdiri,semua hal seperti ini sudah lumrah karena mereka akan menghukum orang yang salah dengan cara kematian.
__ADS_1
"semoga kamu tak punya rasa itu lagi ya... bereskan..."perintah Ndaru yang kini kembali duduk dengan santai di samping kiri Ndoro Shaka yang kini mulai membuka sidang padepokan.