
tak terasa pesta makin dekat, Ndaru, Angga dan Dika melihat semua persiapan yang hampir selesai.
bahkan meja milik para petinggi padepokan juga sudah di pasang dan di hias, "ternyata semua sudah selesai ya?"
"iya tuan, tapi saya harus bertanya pada mbak Rinjani, untuk memastikan tata letak dari prasmanan," kata Nandaka yang mendekati Ndaru.
"buat apa, aku bisa menghandle sendiri, dan jangan pernah ganggu istriku, atau kamu mau tau bagaimana aku bertindak," marah Ndaru mencengkram kerah baju pemuda itu.
"tenang mas, toh ini hanya untuk acara saja, kenapa anda begitu marah seperti ini?"
"aku bilang diam! dan jangan pernah berani menyebut nama istriku lagi, mengerti," kata Ndaru mengingatkan Nandaka.
Ndaru kemudian pergi meninggalkan pria itu, dan memilih melihat persiapan yang lain.
Dika menepuk bahu Nandaka yang masih terlihat syok, "sudah ikuti saja perintahnya, kau tak mau kan kepala mu lepas dari tubuh mu," bisik pria itu tersenyum ramah.
Nandaka kaget, apa memang Ndaru sekejam itu, hanya karena Nandaka ingin membahas acara dengan istrinya, pria itu tak segan membunuhnya.
di rumah Rinjani sedang memastikan baju suaminya itu sudah siap pakai, bahkan perhiasan juga sudah datang tadi pagi.
Anjani datang ke rumah tinggal kakaknya, "mbak di rumah!" panggil wanita itu.
"iya ada apa?" saut Rinjani dari dalam rumah.
"mbak aku tak bisa menyanggul rambut ku, gimana dong?" tanya wanita itu.
"ya nanti biar mbak minta mbok Yem untuk membantumu," jawab Rinjani mengajaknya duduk di ruang tamu.
"terus kalau gitu, mbak siapa yang bantu?" tanya gadis itu sedikit merasa bersalah.
"kamu lupa jika mbak itu pernah sekolah di SMK khusus, jadi urusan menyanggul rambut secara tradisional pun mbak bisa, tapi sepertinya ini akan memakai sanggul Jawa ya," bingung Rinjani yang memang jarang ke pesta seperti ini.
"bagaimana kalau kita tanya ibu mertua saja," ajak Anjani.
"kamu benar, ayo ke rumah utama," ajak Rinjani
sesampainya di rumah utama, ternyata sudah ada Ariana yang duduk bersama Nyai Laila.
"wah sepertinya ada yang start duluan nih," kata Rinjani mencium tangan ibu mertuanya.
__ADS_1
"enggak kok mbak, habis aku bingung mau buat model sanggul untuk besok," kata Ariana.
"kalian berdua pasti kepingin tau juga ya?" tanya Nyai Laila.
Rinjani dan Anjani mengangguk, dan mereka pun duduk di lantai sambil mendengarkan apa yang akan di katakan oleh ibu mertuanya.
setelah mereka tau, para mbok mban datang dengan membawa Lina keranjang bunga melati segar.
dan hari ini mereka harus merangkai bunga melati itu dengan baik, karena mereka harus mengenakannya besok.
bahkan untuk bunga melati di keris suami masing-masing harus mereka juga yang merangkainya.
Rinjani yang memang terbiasa sangat terlihat ahli, sedang dua wanita itu masih perlu belajar.
sedang Nyai Laila yang sudah melakukan Semuanya selama bertahun-tahun pun juga sudah terbiasa.
"ibu, kenapa kami harus merangkai ini sendiri, apa ada filosofi yang terkandung di dalamnya," tanya Ariana.
"bunga ini melambangkan kesucian, dan ibu dulu merangkai untuk acara penting dan itu di jadikan resmi oleh Romo kalian, jadilah peraturan ini sekarang," kata Nyai Laila.
"berarti Romo sangat mencintai ibu, bahkan saat banyak para petinggi memiliki selir, tapi Romo tetap hanya memiliki satu istri yaitu ibu," kata Rinjani.
"itu benar, terlebih dulu Romo terlalu lama menunggu ibu, jadi sekarang beliau hanya akan fokus pada ibu," jawab Nyai Laila.
rombongan dari ketiga suami mereka pun pulang, ketiganya terlihat santai dan tersenyum saja dari tadi.
mereka pun menyambutnya dengan menghampiri pasangan masing-masing.
Ndaru mengecup kening dan pipi Rinjani sebelum wanita itu mencium tangan Ndaru.
sedang Angga dan Ariana malah saling cubit pipi, dan Anjani tersenyum lembut menyambut Dika
Nyai Laila hanya bisa tersenyum melihatnya, bagaimana tidak, jika mereka punya cara sendiri untuk menunjukkan cintanya.
"selamat sore ibu, bagaimana kabar ibu?" tanya Ndaru dengan sopan.
"kabar ibu baik le, oh ya bagaimana persiapan sudah selesai?"
"inggeh ibu, semuanya sudah selesai dan sesuai yang di katakan oleh tim desain dari EO," jawab Dika.
__ADS_1
"baiklah kalau begitu, apa ada yang melihat sosok Romo Kalian?"
"Romo sepertinya sedang di rumah lek Wira Bu, apa sesuatu yang penting? bisa aku panggilkan?" kata Angga dengan senang hati.
"tidak usah, mungkin mereka ada keperluan jadi sekarang kalian harus istirahat, agar besok bisa mengikuti acara dengan baik ya," kata Nyai Laila.
"baik ibu," jawab ke-enamnya.
Nyai Laila hanya menunjukkan wajah datar, setelah semua orang pergi, dia pun tak membuang waktu lama.
"cak Lidin kemarilah, antar aku menemui Ndoro Shaka," perintah wanita itu.
"baik Nyai," jawab Lidin yang mengeluarkan mobil, mereka pun bergegas menuju ke tempat wira.
sesampainya di sana, ternyata terlihat pengamanan cukup ketat, tapi tak ada yang berani menghalangi Nyai Laila.
terlebih Laila datang dengan pengawalan Lidin dan Geno, "apa Ndoro di dalam?"
"inggeh Nyai," jawab salah seorang pengawal.
mendengar jawaban itu, Nyai Laila langsung masuk kedalam rumah itu, ternyata seorang pria dengan tubuh renta sedang terbaring tak berdaya.
dia tau jika waktu pria itu sudah tak banyak lagi, "kenapa belum mengikhlaskan dia pergi, mau berapa lama kalian menahannya, tubuhnya itu sudah tidak sanggup bertahan," tegur Nyai Laila.
"tidak Nyai, aku tak boleh kehilangan suamiku, jika itu terjadi Nyai harus menikahkan aku dengan Ndoro Shaka, apa Nyai mau!" kata seorang wanita yang menangis di samping pria itu.
"lancang kamu, jangan berani mengharapkan hal itu dasar wanita sialan," kesal Wira.
"dasar wanita licik, sekarang kamu menunjukkan dirimu yang sebenarnya," marah Nyai Laila.
"kenapa memangnya, aku memiliki anak dengannya, tapi dia seperti ini dan bagaimana kehidupan anakku nantinya," marah wanita itu.
"aku yang akan menjamin adikku itu,jadi jangan mengharap hal gila, Ndoro tolong akhiri penderitaan ayah saya," mohon Wira.
akhirnya atas izin Ndoro Shaka, pak Tirto pun menghembuskan nafas terakhirnya di saksikan semua orang.
wanita yang selama ini menjadi teman tidur pria itu pun merasa sedih, karena dia tak tau mau kemana sekarang.
tapi tanpa di duga, Wira menusuk wanita itu hingga tewas, "sudah seharusnya,kamu menemani ayah ku, dan untuk anak mu, aku akan merawatnya seperti anakku sendiri," kata Wira dengan santai.
__ADS_1
akhirnya kedua orang remaja datang, itu adalah anak wira dan juga adik tirinya.
tapi Wira membuat mereka merasa saudara kakak adik, jadi tak akan ada masalah di kemudian hari.