Jangan Salahkan Aku Jatuh Cinta

Jangan Salahkan Aku Jatuh Cinta
pria ini siapa?


__ADS_3

setelah tiga hari di vila, mereka kini sudah kembali ke kehidupan yang sesungguhnya.


Rinjani sedang sibuk menyiapkan pesta untuk padepokan yang ke seratus tahun.


bukan hanya itu, padepokan pun akan mengadakan pesta yang sangat meriah.


karena itu Rinjani menyewa sebuah EO yang sudah sangat mumpuni karena tak ingin ada kesalahan sedikitpun.


siang ini dia bertemu dengan pemilik EO tersebut, ternyata dia seorang pria muda.


"apa anda pak Nandaka, perkenalkan saya Rinjani Dewandaru Kusumo," kata Rinjani yang datang dengan pengawalan Seto.


"selamat siang mbak Rinjani,dan ini siapa? suami mbak ya?" tanya Nandaka dengan senyum yang terlihat hangat.


"maaf, saya pengawal sekaligus orang yang mengawasi Nyai," terang Seto dengan nada dingin.


"tenang cak Seto, kita cuma membicarakan tentang pekerjaan," kata Rinjani dengan lembut.


"baik Nyai," jawab Seto yang akan membantu Rinjani.


mereka mulai membahas desain untuk pesta itu, dan Rinjani ingin rasa kental Jawa hadir.


bukan karena apa, karena dia tau jika keluarga mertuanya itu sangat menjunjung tinggi nilai budaya leluhur.


"kalau permintaan anda seperti itu, setidaknya akan butuh tenda cukup banyak mengingat tamu yang datang ribuan orang


"ya terserah saja, cak Seto yang lebih mengetahui semua letak hingga lebar taman padepokan," kata Rinjani santai.


"baiklah kalau begitu besok saya akan melihat tempat itu dan menunjukkan beberapa contoh bunga yang akan di gunakan," kata Nandaka.


"baiklah, silahkan datang ke istana Bangura, dan nanti saat sampai di sana bilang ingin menemui Nyai Rinjani masalah pesta ya, dan pastikan anda berpakaian sopan," kata Rinjani


"aduh Mbak, kenapa mau bertamu saja begitu repot?" kata Nandaka yang memang pertama kali mendapatkan klien seperti ini.


"sudah ikuti saja peraturannya, dan jangan membantah, karena keluarga kami selalu menjunjung tinggi kesopanan," kata Rinjani

__ADS_1


pria itu hanya mengangguk, kini Rinjani pergi bersama Seto menuju ke sebuah toko kain.


sedang Nandaka sedikit tertarik dengan wanita yang telihat lembut dan sopan, tapi saat membuka mulutnya begitu dingin dan tak ramah.


Rinjani masuk kedalam toko itu, ternyata mbok Yem dan Anjani serta Ariana sedang sibuk memilih brokat yang akan di kenakan saat acara.


"mbak, bantu kami memilih brokat karena kami belum menemukan yang sesuai, belum lagi itu harus masuk dengan beskap putih yang akan di kenakan oleh suami-suami kita."


"kenapa bingung, beskap Jawa putih pada dasarnya bagus untuk bersanding dengan apapun, tapi cari warna yang bisa membuat kulit kita bersinar, dan ini seperti contohnya," kata Rinjani menjajarkan ketiga tangan mereka kemudian baru mencari bahan sesuai.


setelah dapat mereka membeli empat potong dan kain jarik juga sudah dapat Semuanya.


"semuanya sudah?" tanya Rinjani yang melihat belanjaan.


"tusuk konde belum mbak," kata Ariana yang ingat pesan ibu mertuanya.


"kalau itu, seharusnya itu di belikan oleh para suami karena itu hadiah yang spesial,"jawab Rinjani yang mencoret beberapa daftar yang sudah di beli.


"cak Seto dan cak Epen, sekarang kita ke toko bunga langganan ibu mertua ya," kata Rinjani yang melihat ada deretan nama bunga yang biasa tersedia di rumah.


sedang terjadi masalah di kantor polisi, setelah Juan berhasil mengungkap tentang misteri hilangnya beberapa wanita.


kini keluarga para wanita yang belum di ketahui nasibnya ingin minta kejelasan.


mereka merasa sedih karena Juan yang berhasil mengungkap tentang kejahatan itu malah mati begitu saja.


Nandaka kaget melihat begitu banyak orang berkumpul di depan kantor polsek kota itu,"ada apa pa, kenapa semua orang demo di luar?"


"ya mereka sedang menuntut untuk ayah menyelesaikan sebuah kasus orang hilang, pasalnya sudah cukup lama banyak kasus gadis muda hilang tanpa jejak," jawab kepala kantor polisi yang baru.


"memang mantan kepala kantor polisi sebelumnya tak melakukan apapun? ya kenapa malah ayah yang repot, padahal ayah juga batu di pindahkan kesini dan sebentar lagi akan pensiun,"


"sudahlah le, sekarang ada apa kesini? bukankah EO milik mu sedang merencanakan sebuah pesta besar,"


"ah iya ayah, itu pesta ulang tahun padepokan yang sudah berusia seratus tahun di kota ini, dan pesta ini bukan main jika aku sukses melakukan pesta ini, sudah di pastikan nama EO ku akan terkenal,tapi anehnya ayah, tak semua orang mau menerima pesanan dari keluarga ini," kata Nandaka heran.

__ADS_1


"karena Keluarga yang mengurus pesta itu adalah keluarga yang menjadi pimpinan padepokan itu saat ini, jadi kemungkinan akan menjadi sesuatu yang bisa membuat sedikit tekanan nantinya," jawab pria itu.


Nandaka mengangguk mengerti, tapi dia tak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun nantinya.


di rumah semua sedang melakukan pengukuran baju untuk acara, Rinjani sedikit mengalami kenaikan berat badan meski tak signifikan.


tapi itu tak boleh terjadi karena dia harus terlihat sempurna, terlebih dia harus mendampingi Ndaru nantinya.


"apa akan masalah Bu Tutik? karena berat badanku naik?" tanya Rinjani yang nampak sedih.


"tidak apa-apa Nyai muda, itu normal saat menjadi pengantin baru yang bahagia,"


"ah tidak boleh, karena itu akan merubah bentuk tubuhku, dan mas Ndaru bisa malu," jawab Rinjani


tanpa di sadari wanita itu, suaminya itu sudah berdiri di belakangnya. "tak apa-apa sayang, jamu hanya naik dua kilo,"


"tidak boleh, aku harus puasa mutih sebelum acara, karena aku tak ingin terlihat jelek nantinya," kata Rinjani dengan sungguh-sungguh.


"baiklah,Bu Tutik tolong gunakan ukuran terakhir Nyai muda ya,"


"baik Ndoro Ndaru, kalau begitu kami pamit," jawab wanita itu.


Ndaru mengangguk, dan melihat istrinya sibuk, Ndaru memeluknya dengan erat.


"sudah kan, kamu tau bobot ku saja sudah naik lima kilo setelah kita menikah, karena istriku ini begitu pintar memanjakan suaminya," bisik Ndaru dengan suara rendah dan berat.


"kang mas, ini masih sore, jangan seperti ini," lirih Rinjani yang tau keinginan suaminya.


tapi Ndaru tak peduli, dia mengendong Rinjani ke rumah tinggal miliknya.


Ndaru memberi pesan pada Hasto tak ingin di ganggu, jadi pria itu membuat tulisan agar tak mengganggu kedua pasangan itu.


Ndaru sudah menindih tubuh istrinya, Rinjani pun menahan bibir suaminya.


"hentikan kang mas, kamu ini selalu saja seperti ini," bisiknya yang malu-malu.

__ADS_1


"kenapa, kamu istriku, jadi tak salah bukan," kata Ndaru yang tak bisa di tolak oleh Rinjani


__ADS_2