
"jangan pernah tundukan kepala mu, karena keluarga Kusumo tak pernah menundukkan kepalanya pada siapa pun itu," kata Ndaru berbisik pada istrinya.
dia pun langsung melihat Rinjani mengangkat kepalanya sambil tersenyum.
semua orang mengucapkan selamat pada kedua pengantin, Ndaru terlihat sangat berkarisma terlebih setelah pria itu normal kembali.
Rinjani tersenyum saja bersama beberapa orang, tapi tanpa di duga olehnya ada Ayusta dan Salsabila yang datang.
keduanya adalah sepupu dari Rinjani, meski sepupu jauh bagaimana pun mereka tetap saudara.
terlebih ayah dari Ayusta adalah salah satu kepala cabang padepokan yang di pegang oleh Ndoro Shaka
"aduh aduh... lihatlah meski di pakaikan baju mahal, orang kampung mah tetep kampung ya," hina Salsabila.
"maaf anda harus berbicara sopan dengan Nyai muda keluarga Kusumo," kata mbok Yem.
"eh pembantu diem ya," ketus Salsabila tak terima.
"tolong jangan menjatuhkan harga dirimu sendiri, menghina keluarga Kusumo adalah kesalahan besar dan hukumannya sangat berat," kata Rinjani yang kemudian pergi bersama mbok Yem.
ingin rasanya Salsabila menarik wanita itu hingga terjatuh dan mempermalukannya.
tapi Ayusta menghentikannya, "kita harus bermain secara cantik, dan aku sudah mempersiapkan itu,"
wanita muda itu menyeringai, pasalnya dia susah menemukan sesuatu yang mungkin akan mempermalukan Rinjani sebagai menantu keluarga itu.
dan sudah bisa ditebak, jika dia pasti akan di hukum berat oleh Ndaru yang terkenal kejam.
seorang pria baru saja datang ke area pesta itu, dia bingung karena tak menyangka akan melihat orang yang dia cintai menikah hari ini.
dia melihat sekeliling, tapi saat dia melihat Rinjani yang tersenyum ternyata dia melihat seorang pria merangkul pinggangnya.
"Rinjani!!" teriak pria itu.
semua orang menoleh, tak terkecuali Rinjani yang mengenal suara itu.
"kak Halim?" kata Rinjani lirih.
"kamu mengenalnya?" tanya Ndaru penasaran dengan pria yang berpenampilan cukup mewah itu.
"dia adalah kakak senior di sekolah, dan dia terus memintaku menunggunya untuk menikah dengannya," jawab Rinjani.
__ADS_1
"tapi kenapa kamu menikahi ku, jika susah ada pria itu?"
"karena bagiku dia hanya sebatas kakak senior tak ada perasaan apapun, sedang Ndoro adalah pilihan ku," kata Rinjani.
"tentu saja aku lebih darinya, dan yang utama aku adalah putra pertama keluarga Kusumo," sombong Ndaru.
"Ndoro Ndaru salah, aku memilih mu saat kamu masih duduk di kursi roda, bukan yang sekarang," jawab Rinjani membuat Ndaru tertawa.
Halim susah sampai di dekat Rinjani, tapi sebuah tangan mencengkram leher pria itu erat di depan semua tamu.
"ha-ha-ha... berarti kamu menyukai aku yang cacat?" kata Ndaru tertawa.
"ya karena aku tak suka wanita lain melirik mu seperti ini, karena aku yakin dia pun datang karena undangan seseorang, karena aku t
sudah tak berhubungan lagi dengannya setelah dua tahun," jawab Rinjani yang melihat ke arah Halim yang sudah memerah karena tak bisa bernafas.
"kau dengan pria busuk, sekarang aku ingin tau siapa yang mengundang mu?" tanya Ndaru yang merangkul pinggang Rinjani dengan erat.
tak lupa dia juga mengisyaratkan pada Banyu dan Hasto untuk meringkus pria itu.
"aku tau Rinjani menikah dari Salsabila, dia yang mengirimkan DM padaku," jawab pria itu yang kini sudah di lumpuhkan.
karena namanya yang di sebut, Salsabila di dorong hingga tersungkur di kaki Ndaru dan Rinjani
"Dewo, kamu tau bukan mengusik keluarga Kusumo apa hukumannya, kamu boleh membuatnya tau diri," perintah Ndaru
"ampun Ndoro, itu bukan saya, saya saja tak mengenal pria ini, dan lagi meski saya tak suka Rinjani menikah dengan anda, tapi aku lebih ingin mencaci maki dirinya dari pada memainkan trik seperti ini," kata Salsabila jujur.
"ya kang mas, di lihat dari karakternya yang bisa melakukan ini bukan Salsabila tapi ..."
"kau ingin menyalahkan ku bukan!" teriak Ayusta.
"apa... aku bahkan belum mengatakan nama, kenapa kamu begitu percaya diri, atau kamu mau mengakuinya?" tanya Rinjani tersenyum kearah wanita itu.
Ayusta terdiam, dia tak mengira jika dia terjebak ucapannya sendiri, dia pun ingin lari, tapi Lidin langsung menarik dan mendorongnya, para pria di keluarga itu memang tak pernah membedakan antara wanita dan pria.
"selamat keluarga kalian hancur," kata Ndaru yang memainkan rambut milik istri yang sengaja di sisakan sedikit di depan.
"tunggu Ndoro muda, anda tak bisa melakukan itu, saya adalah orang kepercayaan dari Ndoro Shaka dan kepala cabang di daerah Jawa tengah," jawab pria itu.
"tak peduli, karena kedua anak mu sudah berani mencaci maki istriku, dan membuat pesta ku berantakan," kata Ndaru
__ADS_1
Rinjani tak tega jika paklek-nya yang begitu baik harus di buat malu seperti ini.
karena ini bukan kesalahannya, "tunggu kang mas, yang salah putrinya jadi tak usah menghukum orang tuanya bukan, terlebih paklek Hadi adalah orang kepercayaan dari Ndoro romo," kata Rinjani memohon.
"kamu selalu bisa membuat ku berubah pikiran dengan perkataan manis mu, baiklah istriku sesuai keinginan mu, Hasto lakukan apa yang di katakan oleh Nyai muda," perintah Ndaru
"baik Ndoro muda," jawab asistennya itu.
kedua gadis itu sudah di seret keluar dari acara pesta begitu pun pemuda itu.
dan tak hanya Keduanya, sudah di pastikan jika Rinjani pasti juga terkena masalah nantinya.
acara pesta di lanjutkan tapi Rinjani merasa jika kepalanya pusing, jadi dia memilih duduk di sudut di temani mbok Yem.
wanita itu datang membawakan segelas teh hangat, "Nyai muda pasti kelelahan, karena tidak tidur beberapa hari,"
"tidak apa-apa mbok,toh ini adalah adat yang harus di ikuti, jadi aku tak masalah, dan tolong bisakah mengambilkan aku sesuatu," mohon Rinjani.
mbok Yem mengambilkan sebuah roti gandum, dan itu pun harus di makan dengan pelan-pelan.
setelah selesai, Rinjani tersenyum ke arah mbok Yem, tapi dia tak bisa bangun karena kepalanya benar-benar sakit.
"mbok tolong panggilkan suamiku," mohon Rinjani.
"baik Nyai muda," jawab mbok mban setia itu.
wanita itu bergegas membisikkan sesuatu pada Ndaru, pria itu melihat Rinjani yang duduk di kursi dengan wajah pucat.
"saya permisi dulu ya," pamit Ndaru dengan para tamu.
dia bergegas menghampiri Rinjani dan tepat sebelum istrinya itu jatuh pingsan.
Ndaru sempat menahan kepala Rinjani hingga tak jatuh ke atas tanah.
dia pun langsung membawa Rinjani ke dalam, dan saat melewati para tamu, semua orang kaget.
"Angga telpon dokter keluarga kita," perintah Ndaru.
"baik mas," jawab Angga yang bergegas menelpon orang yang di maksud.
sedang Ndaru membawa Rinjani ke kamar dan menidurkannya di ranjang, dia juga melepaskan hiasan kepala yang memang cukup berat itu.
__ADS_1