
Ndaru mengandeng dan merangkul pinggang Rinjani dan mengajaknya duduk agar lebih nyaman.
pria itu terlihat begitu posesif, dan meminta Hasto mengambilkan teh hangat manis.
"kang mas, aku bukan sakit parah, kenapa begitu khawatir seperti ini, aku hanya kekurangan darah, dan berkat suapan dari kang mas tadi, aku sudah mulai baikan," jawab Rinjani.
"benarkah, kamu pasti belum istirahat, dan pasti ini Dika yang meminta mu keluar,"
"itu benar kang mas, aku sebagai istrimu tak boleh diam saat ada orang yang ingin menghina mu," kata Rinjani.
"baiklah terserah dirimu, jika kamu tambah parah aku tak mau mengurus mu," kesal Ndaru yang merasa tak di pedulikan okeh Rinjani.
sedang wanita itu hanya menghela nafas, karena dia bukan tidak ingin istirahat tapi karena dia tak ingin istrinya malu.
Ariana duduk menemsni Rinjani yang terlihat sudah mulai sedikit lebih baik.
"aku tak menyangka,ada wanita jahat seperti itu,percuma wajah cantik tapi mulutnya sampah," kesal gadis itu.
"karena semua orang itu tak sama Ariana, setelah kita menikah, kita akan melihat bagaimana setiap orang melihat kita, terlebih suami-suami kita itu orang penting," kata Rinjani.
"iya sih mbak, tapi ucapan wanita busuk tadi bikin aku emosi, ingin rasanya mulutnya tak cabein,"
Rinjani tersenyum mendengarnya, terlihat Jasmine yang menikmati setiap kue.
pukul lima sore akhirnya pesta berakhir, Rinjani sedang di ajak ke ruang khusus milik Nyai Laila untuk menunjukkan sesuatu.
Rinjani menyentuh sebuah lulur yang sudah turun temurun, dan ada juga jamu khusus yang Rinjani di minta untuk meminumnya saat itu juga.
wanita itu merem melek merasakan rasa kamu yang begitu pahit bercampur dengan adem, sepet dan rasa lainnya yang tak enak.
"ibu, semua ini apa?"
"ini adalah warisan dari leluhur ibu nduk, sekarang kamu harus mengunakan ini untuk merawat diri, agar suamimu tetap betah dan selalu memujamu," kata Laila.
"terus kalau habis Bu?"
"tenang nanti eyang kirim dari rumah," kata eyang uti.
ya Bu Ageng sudah membuktikan sendiri, dia tetap terlihat muda meski sudah berusia cukup sepuh.
tapi wanita itu tetap terlihat awet muda dan cantik, mbok Yem membawakan bingkisan itu ke rumah tempat tinggal Rinjani dan Ndaru.
Rinjani langsung di tarik oleh Ndaru dan dia dihempaskan ke atas ranjang dengan cukup kasar.
__ADS_1
"ada apa kang mas!" tanya Rinjani yang kaget.
"sudah tidur dan jangan terus berulah, suster tolong pasang lagi infusnya," kata Ndaru.
suster itu segera memasang infus kembali ke tangan Rinjani. "ah... sakit, pelan suster," kaget wanita itu
"hei... apa yang kamu lakukan," bentak Ndaru
"maaf Ndoro muda," jawab suster itu yang kaget.
setelah infus terpasang kembali, kini Rinjani juga di suntik obat tidur agar Wanita itu istirahat.
dan besok pagi suster akan datang lagi untuk mengambil dan melepas infus.
Ndaru pun meninggalkan Rinjani di kamar, dan dia menuju ke tempat tinggal Dika dan Hasna nantinya.
tapi dia tak mengira jika Keduanya sedang bermesraan, terlebih keduanya adalah teman lama.
Ndaru memutuskan untuk ke ruang kerja saja melihat laporan semua keuangan usaha miliknya.
Ndoro Shaka kaget saat masuk kedalam ruangan dan melihat putranya itu sedang begitu fokus di depan laptopnya.
"hei ini pesta pernikahan mu, bagaimana kamu bisa di sini dan bekerja, ingat nanti malam masih ada pertunjukan dari eyang mu," kata Ndoro Shaka pada putranya itu.
"kamu memang rajin, tapi kamu tak kasihan dengan istrimu?"
"sudah ada mbok Yem yang menjaganya, terlebih dia sedang tidur karena aku meminta suster untuk memberikan obat penenang," jawab Ndaru.
"begitu rupanya, ya sudah kalau begitu terserah kamu, tapi ingat nanti malam kamu harus tetap ada saat pertunjukan berlangsung,"
"baik Romo,"
Ndaru yang sedang fokus, tiba-tiba konsentrasinya buyar karena merasa kelaparan.
dia ingin menelpon Angga dan meminta pria itu membelikan sesuatu.
tapi yang aneh, Angga sudah datang membawa bakmi kesukaan keduanya.
"mau ikut makan bareng? aku bawa makanan kesukaan kita?" tawar Angga.
"boleh dong, bagaimana kamu bisa membawa ini saat aku baru membayangkannya saja,"terang Ndaru.
"intuisi, atau telepati dari saudara kembar, sudah berhenti dan Ayo kita mulai makannya,"
__ADS_1
mereka berdua terlihat begitu lahap saat sedang makan, tak lama akhirnya setelah makan habis keduanya malah kekenyangan.
"ayo keluar untuk melegakan perut kenyang ini," ajak Angga.
"tentu, ah porsinya bikin aku tak habis pikir, apa tak rugi itu rumah makan memberikan begitu banyak?"
mereka keluar untuk melihat apa persiapan sudah selesai, ternyata sudah bahkan panggung wayang kali ini sangat mewah.
bahkan melebihi panggung yang semalam, karena semua gamelan milik Keluarga Kusumo keluar dari tempat penyimpanan.
pukul tujuh malam acara di mulai, dan semua orang sangat menikmati tontonan dan hiburan rakyat gratis ini.
suasana sedikit lebih terasa karena gamelan dan gong yang di mainkan adalah gamelan turun temurun.
bahkan biasa akan di keluar hanya saat ada sedekah desa, tapi kali ini berbeda, karena pernikahan Ndaru adalah pengalaman pertama istana Bangura mengadakan pesta setelah sekian lama.
itulah kenapa semua warga antusias menyambut pesta yang di adakan, Rinjani sudah tertidur dengan pulas
pukul tiga dini hari pesta dan hiburan rakyat selesai, dan semuanya bubar untuk beristirahat.
infus Rinjani tadi sudah di cabut pukul dua karena sudah habis, dan Ndaru merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu.
perlahan Ndaru juga terlelap dengan nyaman, terlebih saat dia memeluk tubuh Rinjani.
keesokan paginya, Rinjani terbangun dengan di peluk erat oleh suaminya, bahkan dia bisa mencium aroma tubuh Ndaru yang begitu maskulin.
"ah aku tak bisa bergerak," lirihnya yang perlahan melepaskan pelukan Ndaru.
beruntung pria itu berubah posisi tidurnya dan Rinjani langsung bergegas untuk pergi.
dia merasa tubuhnya begitu lengket dan dia harus menyiapkan masakan pertama untuk semua orang di keluarga ini.
semua orang di dapur belum ada yang memasak menunggu Rinjani karena ini peraturan rumah itu.
Rinjani memakai kulot berwarna hitam dan juga kaos lengan tiga perempat, tak lupa dia menyanggul rambutnya karena ingin memasak.
"selamat pagi semuanya, mohon bantuannya," kata Rinjani pada semua mbok mban.
"iya Nyai muda, dan anda ingin membuat masakan apa, bisa beritahu kami agar kami siapkan semua bahan yang di butuhkan," kata mbok tum yang sudah menjadi kepala mbok mban di sini.
"Nyai muda, dengan melihat semua peraturan anda harus membuat semua masakan kesukaan semua orang, dan ini daftarnya," kata Wira memberikan selembar kertas.
"baiklah, tolong siapkan semuanya, saya akan mulai masak," kata Rinjani dengan semangat.
__ADS_1