
pagi ini Rinjani sedang berada di dapur umum bersama dengan para wanita yang sedang memasak.
sedang dari semua wanita hanya satu orang yang tak ada yaitu Jasmine.
"wah ini mbak Jasmine yang gak bangun ya, bagaimana bisa orang semua orang datang untuk membantu masak buat sarapan,dasar wanita aneh," kata Bu Ningsih.
"sudah Bu, tak usah di pusingkan, mungkin kalau di rumah dia selalu begitu, jadi tak terbiasa bangun pagi," kata Rinjani.
"iya Rinjani bener, sudah Bu ayo kita semangat lagi, karena bapak-bapak di desa sudah hampir selesai." kata Nyai Laila.
mereka semua pun bersemangat untuk melakukan masak besar kali ini.
pukul delapan pagi, para bapak-bapak sudah selesai, bersih desa jadi para ibu sudah siap untuk memberikan makan satu-satu.
para bapak-bapak antri dengan sangat rapi, Jasmine pun baru sadar dan terbangun dari tidur cantiknya.
dia kaget melihat matahari sudah nampak cukup tinggi. "ah sialan aku ketiduran,"
wanita itu selesai mandi bebek dan langsung menuju ke depan, sudah begitu rencananya gagal total semua.
melihat para ibu sudah sibuk membagikan makanan, dia langsung menarik Rinjani menjauh dan mendorong wanita itu asal.
Angga yang melihat itu pun kesal dan beruntung dia bisa menahan kakak iparnya hingga tak jatuh ke tanah.
"Semuanya berhenti, atau aku akan membuang semua masakan itu!" marah Angga.
Nyai Laila yang di area paling ujung kaget mendengar ucapan dari putranya itu.
"ada apa Angga?"
"lihat kelakuan dari menantu keluarga Saktiawan ini, kamu tak apa-apa kakak ipar?" tanya Angga khawatir.
"sepertinya kakiku terkilir karena di dorong," jawab Rinjani yang tak bisa berdiri.
"apa? aku hanya memintanya minggir, karena ini tugas ku," jawab Jasmine.
"hei nona yang Budiman, kamo semua tidak buta di sini, kamu datang-datang tanpa bicara sudah menarik dan mendorong Nyai Rinjani begitu saja, kamu itu tak tau malu ya," tegur Bu Siska.
"saya cuma mau bantu," kata Jasmine mengelak.
"kamu itu kalau tidak niat membantu tak usah datang, Nyai muda sudah dari pagi sibuk memasak bersama kami, kamu malah enak-enak kan tidur," tegur ibu yang lain
"eh tutup mulutmu ya," kata Jasmine membentak.
"hentikan pertengkaran ini, kalian tak menghargai aku!" bentak Ndoro Shaka.
semua pun kaget mereka lupa jika ada pemimpin padepokan, "Angga bawa kakak ipar mu istirahat, dan untuk mu Jasmine nanti setelah acara temui aku dan seluruh keluarga Saktiawan tanpa terkecuali," kata Ndoro Shaka dingin
__ADS_1
semua orang kaget, mereka diam sejenak, mereka lupa jika sekali membuat masalah maka satu keluarga mereka yang kena imbasnya.
Jasmine terdiam dia dalam masalah besar, dia tau jika nanti mertuanya mungkin akan melakukan sesuatu karena tingkahnya kali ini.
Angga ingin memapah kakak iparnya tapi saat mereka akan berjalan.
keduanya kaget melihat Ndaru berdiri dengan tatapan mata yang tajam, "kenapa kamu berani menyentuh istriku!" katanya dengan dingin.
"kang mas..." kata Rinjani lirih menahan sakit.
"Ndaru..." kata Jasmine yang merasa ada angin segar.
dia pun langsung lari ke arah Dewandaru, dan langsung memeluk pria itu, sedang tatapan Ndaru masih tertuju pada Rinjani dan Angga.
"Ndaru kamu datang di saat yang tepat, lihatlah Angga dan istrimu memojokkan ku hingga membuat Ndoro Shaka marah," kata Jasmine dengan tak tau malu.
sedang Rinjani menoleh dan menghapus air matanya, dia sesaat lupa jika bagaimana pun Jasmine salah.
tapi bagi Ndaru hanya wanita itu yang penting, "lepaskan pelukan mu karena istriku sedang terluka,"
"apa... Ndaru.." kata Jasmine tak percaya.
"aku bilang lepaskan!!" bentak Ndaru mendorong wanita itu dan langsung berjalan ke arah Rinjani.
dia langsung mengambil istrinya dari Angga, "woi... sabar mas bro, aku cuma membantu kakak ipar,"
pria itu juga langsung mengendong istrinya, sedang Rinjani memeluk leher Ndaru agar tak jatuh.
"aku peringatkan sekali lagi padamu, jangan berani mendekat atau menyentuh istriku, jika tidak aku akan membuat mu dan seluruh keluargamu menanggung akibatnya," kata Ndaru yang pergi dari halaman rumah singgah itu
Jasmine tak percaya, dia benar-benar sudah kalah telak, bahkan dia lupa jika ibu mertuanya dan kakak iparnya ada di sana.
"dasar tak tau malu, bisa-bisanya dia memeluk pria beristri di tempat umum, dasar tak punya tata Krama," bisik para ini.
"sudah semuanya lanjutkan, pak Saktiawan bawa semua keluarga mu untuk menemui ku," kata Ndoro Shaka yang mengakhiri sarapannya.
"baik Ndoro," jawab pria itu pasrah.
dan dia akan bisa melakukan apapun di rumah nantinya, karena wanita yang di nikahi putranya itu sudah membuat malu seluruh keluarga.
sedang Ndaru menaruh istrinya di
ranjang, dan langsung menindih wanita itu.
"kenapa kamu diam saat ada pria lain menyentuh mu hah!" marah Ndaru mencekik Rinjani.
"dia adik mu, dan dia hanya ingin menolong ku untuk berjalan karena kaki ku terkilir," kata Rinjani berusaha melepaskan cekikan Ndaru.
__ADS_1
dia sudah sulit bernafas, belum lagi rasa sakit di kakinya juga sangat menyiksa.
"kamu tau dulu dia ingin memiliki mu sebagai istrinya, jadi ingat sekali lagi,tak peduli itu Angga atau Dika, aku tak menyukai pria manapun menyentuh semua milikku, terutama kamu mengerti,"
"iya kang mas.... lepaskan..." mohon Rinjani yang hampir pingsan.
Ndaru pun melepaskan cengkraman tangannya di leher Rinjani,kini pria itu bangkit dan melihat kaki Rinjani.
dia pun membernarkan sendi kaki Rinjani yang terkilir dengan mudah, sedang Rinjani tak bisa berteriak dan hanya meredam teriakannya dengan menutup mulutnya, "duduklah..."
"ada apa kang mas?" katanya dengan takut.
Ndaru duduk di depan istrinya itu dan memakaikan sebuah kalung emas dengan liontin bertuliskan namanya.
"pakai ini dan jangan di lepas," kata Ndaru.
Rinjani mengangguk saja, tiba-tiba Ndaru mendekat dan mencium bibir Rinjani.
sedang wanita itu yang mendapatkan serangan seperti itu kaget dan melotot, karena selama ini Ndaru begitu menjaga batasan antara mereka.
"tutup matamu dan balas," bisik Ndaru sambil membenarkan rambut indah istrinya.
Rinjani pun menutup matanya dan mengikuti perintah Ndaru, pria itu perlahan menindih tubuh Rinjani.
ciuman pun turun ke leher jenjang istrinya, tapi suara ketukan pintu terdengar.
tok.. tok... tok..
"maaf Ndoro muda, Ndoro besar memanggil anda ke ruang rapat," kata Hasto.
mendengar suara itu, Ndaru menatap horor, dia marah karena kegiatannya terganggu.
"dasar asisten sialan, ganggu waktu orang saja..."
"sudah kang mas, lebih baik menghampiri Romo," kata Rinjani yang tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"baiklah, kamu istirahat saja, dan tunggu aku," kata Ndaru yang mengecup bibir Rinjani sekilas sebelum pergi.
pria itu keluar dan membuat Hasto kaget, pasalnya dia sudah tau jika Ndaru marah.
"aku akan menghitungnya dengan mu,awas kamu Hasto..." kata Ndaru yang berjalan pergi.
"apa salah ku, kan ini perintah Ndoro besar..." gumam pria itu sedih.
"HASTO!!!"
"iya Ndoro muda!" jawab Hasto mengejar Dewandaru.
__ADS_1