
Ndoro Shaka dan Nyai Laila sedang melihat kedua bayi laki-laki cucu pertama keluarga Kusumo.
"siapa nama mereka, uluh-uluh ganteng-ganteng banget sih, mbah uti gemes mau pegang," kata nyai Laila tak sabar.
"sabar ya Bu, mereka sedang di rawat intensif karena bagaimanapun mereka lahir prematur," jawab Ndoro Shaka.
"iya kang mas, tak ku kira kira akan memiliki cucu," kata nyai Laila.
"itu baik, tapi sebaiknya kita menemui Rinjani dan mengatakan apa yang harus kita lakukan,"
"ya kang mas benar, karena wanita itu sudah semakin gila," kata nyai Laila.
akhirnya mereka meninggalkan ruang bayi, tapi meski begitu akan ada seseorang yang menjaga tempat itu karena Ndoro Shaka tak ingin jika cucunya mengalami keadaan yang bahaya.
mereka sampai di ruangan milik Rinjani, terlihat dia sedang di suapi oleh Ndaru.
Ndoro Shaka dan Nyai Laila yang melihat pun merasa senang karena keduanya nampak begitu akur.
dan mulai sekarang Ndoro Shaka tak akan menyuruh putra-putranya melakukan perjalanan yang bisa membahayakan.
"ada apa Romo dan ibu, sepertinya ada hal yang sangat penting ingin di bicarakan?"
"ah kamu benar Ndaru, dan Rinjani apa kamu siap untuk mendengarnya, karena ini menyangkut saudaramu, jadi bagaimana menurutmu nak?" tanya Ndoro Shaka.
"saya ikut semua keputusan dari keluarga, karena Anjani sudah sangat keterlaluan, meski dia saudaraku, tapi dia telah berlaku jahat," lirih Rinjani dengan sedih.
"baiklah, kami akan memilih hukuman yang paling ringan, Ndaru jaga istrimu dan biarkan aku dan ibumu yang menyelesaikan perkara di rumah bersama Dika,"
"baik Romo, saya mengerti," jawab Ndaru.
dia pun akan fokus menjaga istrinya itu, terlebih Rinjani masih perlu pemulihan secara menyeluruh.
di tambah lagi Ariana yang juga tak dalam kondisi baik, dia bahkan di rawat di rumah atas permintaan dari wanita itu.
beruntung dengan aneka obat-obatan tradisional bisa menjaga wanita itu agar tetap dalam kondisi yang baik.
tak butuh waktu lama, Ndoro Shaka dan istrinya itu pulang, dan terlihat Dika sedang berlatih pedang bersama Wira.
keduanya berhenti saat mobil Ndoro Shaka memasuki kawasan istana Bangura.
__ADS_1
"selamat datang Romo, bagaimana keadaan dari kakak ipar? apa dia dan kedua keponakan ku baik?" tanya Dika.
"tentu, mereka sehat dan kedua bayi itu begitu tampan," jawab Ndoro Shaka.
"kalau begitu bisa kita mulai mengakhiri semuanya, aku muak jika harus terus melihat wanita itu, terlebih dia sudah membunuh anak ku dan juga mencelakai mbok Yam yang sudah setia menjaganya,"
"baiklah Dika, tapi gunakan pakaian lengkap, begitupun dengan ku Romo," perintah Nyai Laila yang akan menunggu di kamarnya.
"baik ibu,kami mengerti," jawab pria itu.
setelah Nyai Laila pergi, mereka berdua bersiap masuk kedalam rumah tinggal milik Dika yang di jadikan tepat hukuman.
Wira, Geno dan Lidin juga ikut masuk dan Dewo menjaga di depan istana Bangura.
Anjani sedang tertawa sendiri saat ini, karena dia mendengar pintu rumah di buka.
"akhirnya aku bebas, suamiku kamu pulang, lihatlah apa yang mereka lakukan padaku," kata Anjani.
wanita itu kaget saat melihat rombongan orang dengan pakaian jas hujan dan membawa benda-benda tajam.
"sekarang sudah waktunya kamu mati, mau di tangan ku atau keempat pria yang lain," kata pria itu menyeringai di balik topeng yang dia gunakan.
"tapi sayangnya kamu harus mati seperti kamu membunuh keturunan dari keluarga Kusumo," kata Dika.
"tidak, itu kecelakaan, dan jika wanita tua itu tidak mencekoki diriku dengan jamu itu, aku juga tak akan keguguran, itu semua salah keluarga biadab itu, mereka begitu memperdulikan dua menantunya yang lain, sedang padaku mereka begitu dingin," marah Anjani,
"aku tak peduli, kamu harus mati," kata Dika mengayunkan sabit miliknya.
dan kini kaki yang terpasung itu putus, suara jeritan dari wanita itu seakan begitu pilu dan keras.
tapi yang aneh,semua mbok Mban atau pun para pekerja pria seakan biasa saja tanpa ada yang terkejut.
bahkan mereka tetap melakukan pekerjaan mereka dengan biasa, setelah itu semua menjadi senyap dan sepi.
karena lidah wanita itu sudah di potong dan dan di buang begitu saja.
rumah mewah itu kini tergenang oleh darah yang mengalir begitu saja.
bahkan darah itu mengotori lantai yang terbuat dari marmer yang di pesan khusus
__ADS_1
tapi yang aneh marmer itu malah ikut berubah warna menjadi merah, "ini marmer apa Romo, kenapa warna berubah,",
"ini adalah marmer khusus, sudah nikmati saja pertunjukannya," jawab pria itu tersenyum.
setelah Anjani meregang nyawa mereka pun menguburkannya di area perkebunan di belakang rumah.
tapi mereka akan mengatakan jika wanita itu diasingkan seperti halnya orang tua dari Rinjani.
mau bagaimana pun mereka tak bisa mengatakan yang sebenarnya jika mereka telah membunuh wanita itu.
bukan masalah apa, tapi mereka hanya tak mau Rinjani membenci keluarga mereka terlebih dia harus fokus pada kedua putranya.
"Wira, minta para mbok mban membersihkan rumah ini dan jangan sampai ada sedikitpun jejak yang tertinggal, ingat itu,"
"baik Ndoro sepuh," jawab pria itu.
pria itu memanggil dia puluh orang sepuluh mbok mban wanita dan sepuluh pekerjaan pria untuk membersihkan semuanya.
semua orang sibuk, sedang Dika merasa lega, pasalnya sekarang dia sudah menjadi duda.
"meski kamu menjadi duda, kamu tak boleh melakukan kebodohan lagi, dan bilang pada mas mu itu, jangan mengusulkan hal aneh lagi," pesan Ndoro Shaka.
"baik Romo, kami mengerti dan aku akan bilang pada mas Ndaru untuk lebih berpikir panjang sebelum memulai membuat rencana," jawab Dika
mereka berdua pun menuju ke kamar masing-masing, setelah mandi, Dika menuju ke sekolah milik keluarga itu.
disekolah dia melihat para murid sedang berlatih menari dan menjadi dalang.
"meski aku bukan pewaris dari keluarga, tapi dengan menjadi keluarga Kusumo sudah menjadikan ku di hormati. aku tak butuh harta, aku hanya butuh seseorang yang bisa mencintai ku dengan tulis, entah itu ada apa tidak, yang pasti aku menunggu hal itu," gumam Dika.
tapi yang sebenarnya pria itu memiliki kesukaan dan ketidaksetiaan,entah sifat itu menurun dari siapa.
Rinjani sedang berusaha untuk memompa ASI nya, karena dia ingin kedua putranya itu mendapatkan hal yang terbaik.
tapi karena ramuan yang kemarin di kirimkan mbok tum,sekarang saat ASI dari Rinjani keluar, maka itu sangat deras dan banyak.
bahkan dia menjadi ibu susu untuk beberapa bayi pria yang ada di rumah sakit.
dan Ndaru tak mempermasalahkan itu karena itu perbuatan mulia, toh itu tak mengurangi jatah dari kedua putranya.
__ADS_1