
Ndaru masih memejamkan matanya, tak terasa sudah satu tahun mereka pindah rumah meninggalkan segalanya.
Rinjani tersenyum melihat suaminya itu masih terlelap tidur, karena dia tau jika semalam pria itu menghadiri acara bersama Ndoro Shaka.
ya menjadi penerus dari Ndoro Shaka membuat Ndaru harus super sibuk mengurus usaha dan juga padepokan.
meski kedua adiknya membantu toh hanya sedikit meringankan, terlebih Dika yang memilih menjadi pemegang yayasan sekolah dan beberapa usaha juga.
Devka masuk kedalam kamar orang tuanya, dia melihat sosok ayahnya yang masih tidur.
"eits... mau kemana Devka, tak boleh ganggu Romo ya, karena Romo masih lelah," bisik Rinjani mengendong putranya itu
pasalnya kedua putranya sekarang sudah bisa berjalan dengan baik, meski belum bisa bicara hanya berceloteh tak jelas.
tapi itu menjadi hiburan tersendiri untuk Rinjani selama suaminya sibuk, dan biasanya saat siang hari akan ada Dika yang membawa salah satu dari mereka untuk di bawa jalan-jalan.
seperti pagi ini, Nyai Laila sudah di rumah keluarga Ndaru dari pagi, karena keluarga Angga sedang ada di Bali untuk beberapa urusan.
__ADS_1
"apa suamimu belum bangun nduk?"
"belum ibu, tapi tak masalah soalnya pasti lelah karena kegiatan kemarin sangat padat, bahkan kang mas pulang pukul dua belas malam," jawab Rinjani yang menaruh putranya di depan tv.
di area itu di buatkan arena bermain khusus, bahkan di buatkan ada pelindung pagar terbuat dari plastik yang kokoh agar kedua bayi itu tak sembarangan berjalan.
"iya kamu benar, Tomo juga sepertinya masih kelelahan, itulah kenapa ibu membiarkan Romo bekerja di rumah, dan bermain disini," jawab Nyai Laila.
"ibu seandainya aku hamil lagi padahal putraku masih kecil apa itu akan menjadi masalah?" tanya Rinjani.
"tentu saja tidak, ini juga dulu seperti itu, bahkan dulu suamimu lebih kecil dari pada Devka dan Dipta saat ibu hamil Dika, itulah kenapa mereka bertiga tumbuh seperti saudara kembar tiga, karena perbedaan umur yang tak jauh, tapi apa memang kamu hamil lagi?" tanya Nyai Laila tak percaya dengan apa yang di bicarakan oleh menantunya itu.
"kamu serius sayang? apa kamu yakin?" kaget wanita itu tak percaya
"iya Bu, setidaknya sudah sekitar enam Minggu dari terakhir aku mens, dan saat aku memeriksakan diri ke dokter, ternyata benar, dan dokter mengatakan jika tak masalah karena jahitan juga sudah kering meski belum sempurna,"
"tenang nduk,nanti ibu akan bantu menjaga kedua putra mu, dan ibu mohon untuk mu menjaga kondisimu, ingat kejadian kemarin ya nduk, dan ibu juga akan meminta Romo mu untuk mengurangi kunjungan, orang di padepokan itu juga punya banyak orang, kenapa harus merepotkan putraku,"
__ADS_1
"ada apa sih ibu, kenapa terus marah karena Romo yang sibuk, uluh-uluh ganteng-ganteng banget sih cucu opa!" kata Ndoro Shaka yang langsung mengendong Dipta.
"Romo keterlaluan, masak menyuruh Ndaru terus bekerja, ya kasihan sama keluarganya, jangan jadikan kedua cucu mu persis seperti putra-putra mu dulu, Romo tak kasihan mereka yang jarang berkumpul dengan ayah mereka," kesal Nyai Laila.
"iya ibu,kemarin itu terakhir karena seminggu ini kami akan libur dan fokus bermain dan menjaga para bocah ganteng ini," kata Ndoro Shaka.
"itu benar, selamat pagi sayang, kenapa gak bangunin sih," kata Ndaru yang memeluk istrinya di depan kedua orang tuanya.
"kang mas malu ih, ada Romo dan ibu ini," kata Rinjani memukul tangan suaminya dengan manja
"mereka biasa saja kok sayang, lihatlah karena mengikuti Romo, kedua putraku sampai yak kenal ayahnya, sayang Devka nak!" panggil Ndaru yang pasrah.
Rinjani mengambil tangan Ndaru dan menaruhnya ke perutnya, "tenang Romo, sebentar lagi akan ada pendatang baru, jadi Romo bisa berusaha lebih baik lagi dekat dengan anak-anak, aku mengandalkan mu," kata Rinjani.
"apa? kamu hamil lagi, padahal kemarin aku cuma bercanda sayang," kata Ndaru tak percaya
tapi Rinjani hanya tersenyum dan menunjukkan hasil USG yang membuat Ndaru senang tapi juga khawatir.
__ADS_1
"tebang mas, dokter mengatakan jika semuanya baik-baik saja, jadi tak usah memasang waja sedih begitu," kata Rinjani tertawa senang.