
Elin tengah berkutat dengan beberapa buku di depan meja belajar nya. Malam ini sungguh ia sangat enggan memikirkan hal lain selain buku2 dengan tangga nada itu.
Tidak lupa sebuah biola berada tepat di sisi kiri meja nya. sesaat ia melihat dan membaca not yang ada di buku tersebut, ia akan langsung mempraktekan menggesek biola kesayangan nya.
Tok.. tok.. tok
Terdengar pintu diketuk dengan halus dari luar. Elin menghentikan tangan nya, lalu meletakan biola tersebut di atas meja. Ia berjalan menghampiri pintu, memutar gagang kunci nya.
Memang sejak kejadian itu, ia selalu waspada dan tak akan pernah lupa untuk mengunci pintu kamar nya. Kejadian yang sangat membuat nya trauma sekaligus geram sekali. Tapi apa yang harus ia lakukan? sudahlah, yang penting sekarang ia harus lebih berhati-hati bukan?.
"Masuk Ma." Ujar Elin saat mengetahui yang mengetuk pintu adalah mama nya.
"Elin, malam ini kamu tidak turun ke bawah untuk makan. Sekarang makan lah." Ujar mama Elin sambil meletakan nampan berisi makan malam serta segelas susu hangat untuk Elin.
"Terimakasih Ma, aku akan memakan nya nanti" Balas Elin yang kembali ke meja belajar nya.
Mama Elin sadar akan sikap dingin Elin pada nya. Wanita paruh baya itu menghela. kemudian berjalan mendekati Elin. lalu menarik sebuah kursi dari meja rias, dan duduk di samping putri nya itu.
Ia memperhatikan wajah anak nya itu sejenak. Namun Elin tetap bergeming. Ia tau mama nya tengah memperhatikan nya, namun entah kenapa hati nya memilih untuk tidak ingin tahu saja.
"Semenjak Papa mu pergi, rasa nya kita hampir tak pernah ngbrol berdua lagi. Mama tidak tau entah dari mana kesalahan Mama. tapi mama merasa anak mama sudah seperti gadis yang bukan mama kenal lagi." Wanita itu mulai melirih
"Maafkan mama, Elin." sambung wanita itu mulai terisak.
Elin terisak dalam diam nya. Mata nya tertuju pada buku yang ia buka di atas meja, namun sesungguh nya ia tak dapat membaca sedikitpun isi puku itu, karna pandangan nya kini sudah kabur oleh air mata yang menggenang.
__ADS_1
"Tentang permintaan mama kemarin, sungguh mama tidak bermaksud memaksamu. Akan tetapi alangkah baik nya jika kau mau untuk sekedar saling berkanalan dulu..." Wanita itu menghela, menjeda kalimat nya .
"Setidak nya, ini untuk menjaga hubungan keluarga kita dengan tante Dewi. " sambung wanita itu setelah mengusap air mata yang mengalir di pipi nya.
Elin mengepalkan jari nya yang menggenggam erat-erat sebuah pensil. Air mata nya yang tadi menggenang sudah tak terbendung lagi. Dan sekarang air mata itu benar-benar berderai dan jatuh di atas buku yang ada di hadapan nya.
Ia menahan seusatu di dalam hati nya. sesuatu itu sangat sulit untuk di utarakan. Elin memang tak pernah suka berdebat dalam hal apa pun. kemarin ia sudah mengutarakan pada Mama nya bahwa ia tidak bisa menerima perjodohan itu. Namun lihat lah sekarang, mama nya masih saja mengungkit hal itu. Dan itu sangat membuat Elin muak.
Wanita paruh baya itu kembali menghela. ia paham betul, semenjak Papa nya meninggal, Elin yang dulu periang, berubah jadi gadis yang pendiam dan susah untuk diajak bicara. Apa lagi semenjak ia menikah dangan Bimo.
Ia merasa Elin menjauhi nya. Ia juga tidak mengerti, Mengapa Elin sangat cuek dengan ayah sambung nya itu, padahal di mata nya, Bimo adalah sosok ayah yang sangat perduli pada Elin.
"Pikirkan lah kembali permintaan Mama Elin, mama mohon." ucap wanita itu seraya beranjak dari duduk nya.
Elin melempar pensil yang tadi di genggam nya ke sembarang arah. kemudian berteriak gusar. Lalu menangis sejadi-jadi nya.
"Kenapa aku harus menanggung semua nya? Apa aku tidak berhak untuk bahagia bersama pilihanku? Aku lelah, Tuhan. Aku hanya punya mama di dunia ini, tapi mengapa mama tak bisa memahami kesakitanku?." Elin terisak
Mengapa mama nya tidak mengerti perasaan nya. mengapa mama nya malah mementingkan hubungan dengan tante Dewi?
Mengapa benar-benar sendiri melalui sakit itu sejak lama. Tapi ia tidam menyangka, soal ini pun mama nya tidak bisa mengerti diri nya.
Di balik mama nya yang merasa Elin berubah. Tapi bagi Elin, mama nya lah yang telah banyak berubah setelah menikah dengan Bimo.
Dulu di mata Elin, mama nya adalah tempat kembali yang paling nyaman. Namun sekarang lihat lah, bahkan sedikitpun mama nya seperti tak ingin tahu tentang perasaan Elin.
__ADS_1
Sebenar nya ada banyak cerita yang ingin sekali ia bagi dengan Mama nya. Elin ingin bercerita tentang sahabat-sabat nya yang baik, Elin juga ingin bercerita saat orang-orang terkesan saat ia bermain biola di pertunjukan tahunan kampus bulan lalu. Dan masih banyak lagi cerita yang ingin ia bagi. Termasuk cerita tentang seseorang yang kini tengah ia cintai dalam hati nya, yaitu Arga.
Tapi cerita cerita itu hanya bisa ia kubur dalam sebuah diary milik nya. karna ia merasa, mama nya selalu tak punya banyak waktu untuk mendengar cerita-cerita itu. Dan Elin merasa mama nya benar-benar perduli pada nya.
****
Sementara di ruang keluarga....
Mama Elin menunduduk lesu di samping Bimo yang tengah menonton sebuah acara di televisi. Ia merasa penuh beban. Sesak di hati nya menghujani nya dengan berbagai kemelut. Ia tau betul Elin merasa tertekan dengan semua rencana ini. Tapi, Bimo telah banyak berjasa bagi nya dan Elin.
Semenjak Papa Elin meninggal dunia, Bimo lah yang mengelola dan mengatur perusahaan, karna Elin sebagai pewaris tunggal masih
di bawah umur ketika itu.
Sementara ia hanya wanita biasa yang tidak mengerti seluk beluk perusahaan. Untuk itu lah ia mau menerima lamaran Bimo, yang tidak lain adalah bekas asisten sekaligus teman baik mendiang suami nya dulu.
Sekarang wanita paruh baya itu bagai makan buah simalakama. Ia terjebak dalam cerita yang rumit. Di mana ia harus mematuhi Bimo sebagai suami nya yang menurut nya sangat telah berjasa pada nya dan Elin, dan memikirkan Elin yang tampak sangat tertekan dengan semua keadaan ini.
Entah lah...
Untuk saat ini, pasrah adalah kata sederhana yang dapat ia tekan dalam hati nya, meski kata pasrah itu sendiri sangat berat ia jalani. Betapa tidak, hati seorang ibu mana yang tak akan gelisah melihat anak nya tidak bahagia?....
ššššš
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah ya readers. terimakasih :-)
__ADS_1