
Happy reading...
.
.
.
"Lepaskan aku Ga, " bentak Elin, namun suara nya bergetar, ia tak bisa menahan air mata nya.
"Elin, aku ingin kita bicara," ujar Arga lembut sambil tetap menahan tangan Elin.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Ga, semua nya sudah berakhir. " Jawab Elin, kemudian menengadahkan wajah nya.
"Tidak sayang, ini semua belum berakhir, jangan pernah katakan itu, aku mohon. "
Arga terus menggenggam tangan Elin, tidak perduli orang-orang memandang aneh pada nya, bahkan di antara mereka ada yang berbisik-bisik satu sama lain ketika melewati mereka.
"Lepaskan Arga, aku risih orang-orang melihat kita seperti ini"
"Aku tidak peduli, "
"Tapi aku peduli Ga, orang-orang tau aku baru saja menikah, aku tidak ingin mereka berfikir negatif padaku. "
"Apa itu lebih penting bagi mu sekarang? "
"Arga... "
"Apa kau benar-benar menginginkan pernikahan itu? "
"Arga, aku... "
"Ikut aku... " Sekarang Arga malah menarik tangan Elin pergi dari tempat itu, wajah nya terlihat marah sekali.
"Arga, kau akan Membawaku ke mana? " ujar Elin sambil setengah berlari mengikuti langkah panjang Arga, karna Arga tidak melepaskan tangan nya.
Arga tak menjawab pertanyaan Elin, hingga langkah kaki panjang itu membawa nya ke sebuah gedung yang jarang dilalui mahasiswa ataupun para dosen di sana.
Arga menyudutkan Elin ke tembok, dua tangan nya sekarang berada di antara tubuh Elin, mata nya menatap tajam wajah gadis itu, Elin memejamkan mata serta mengalihkan wajah nya.
"Tatap aku. " Ujar Arga, sekarang suara nya lebih tenang.
Elin menggeleng kan kepala nya...
"Elin... " Sekali lagi Arga meminta.
Elin membuka mata nya perlahan, lalu ia sekarang menatap ragu pada Arga.
"Apa sekarang kau menginginkan pernikahan itu? " Sekali lagi menanyakan hal yang sama pada gadis itu.
__ADS_1
Elin menahan sesak di dada nya, mengumpulkan segala keberanian, dan berusaha melawan rasa cinta nya terhadap Arga yang membuat nya lemah.
"Iya, " jawab Elin berusaha mendatarkan suara nya agar telihat tenang.
"Bohong!!!" Arga membentak, tangan kanan nya ia pukulkan ke tembok.
Elin memejamkan mata
"Matamu tidak bisa berbohong Elin, aku tau itu. " Ujar Arga lagi setelah menarik nafas nya.
"Tapi sekarang fakta nya aku sudah menikah, Arga. Sebesar apapun rasa cinta ku padamu sudah tak akan berarti lagi. " Jawab Elin pula.
"Aku sangat mencintai mu, Elin. Apa kau lupa dengan janji kita? " Lirih Arga dengan pandangan yang tidak ia alihkan sedikitpun dari wajah Elin.
"Aku tidak pernah melupakan nya Arga..."
jawab Elin menggantung kalimat nya, lalu ia menyapu air mata nya dengan ujung jari nya.
"Tapi mungkin mulai saat ini aku akan melupakan itu," sambung nya lagi dengan menahan sesak di dada nya.
Arga mengusap wajah nya dengan gusar, lalu ia menengadahkan wajah nya, mengerjapkan netra nya yang mulai memanas beberapa kali, menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu kembali menatap Elin.
"Apa kau benar-benar ingin melupakan ku? " tanya nya kemudian, setelah berhasil mengatur hati nya.
Elin hanya tertunduk...
"Jawab aku," ulang Arga.
Arga kini menyentuh pipi Elin, menangkup nya dengan kedua tangan nya, lalu mengusap air mata Elin dengan jari nya.
"Aku tau kau tidak akan bisa melakukan itu, kau mencintaiku, iya kan? "
Lalu Arga mendekatkan wajah nya ke wajah Elin, semakin dekat, semakin dekat, dan....
Elin mendorong tubuh Arga ketika bibir Arga hampir saja mengecup bibir nya, kemudian dangan langkah cepat ia mencoba menjauh dari tempat itu, meninggalkan Arga yang mematung di sana dengan ribuan rasa kecewa yang memggumpal di dada nya.
Hening....
Itulah yang tergambar di sekitar gedung sepi itu, Arga masih menyelami apa yang baru saja terjadi, apa ia benar-benar telah kehilangan Elin sekarang?, apa memang seharus nya ia menyudahi saja kisah ini dan mengiklaskan Elin hidup bersama Rey? , tapi semua itu akan mudah diucapkan, namun kalian tentu tau untuk melakukan itu sangatlah sulit bukan?
Arga tertunduk dan terduduk di sana, ia benar-benar gila oleh gadis itu, tak seperti kisah cinta nya dengan Rora yang bisa dengan mudah ia lepaskan, Elin sangat berbeda di mata nya, gadis itu terus saja bersemayam dalam hati nya, meski lahir nya ia tahu sudah sangat mustahil untuk mendapatkan nya kembali.
Sementara itu, Elin terus berlari menyusuri setiap koridor, tak perduli dengan beberapa orang yang tersenggol oleh nya, tak perduli dengan teriakan yang memaki nya, ia terus berlari sambil berderai air mata, sampai akhir nya langkah nya terhenti di depan toilet, lalu ia melangkah ke dalam nya, berdiri di wastafel, lalu mencuci wajah nya di sana.
Kemudian ia menangis sejadi-jadi nya di sana setelah tangan nya memutar keran air untuk mematikan nya. Bahu nya terguncang, serta air mata nya terus membanjiri pipi nya.
Hati nya teramat sakit menerima kenyataan itu, ia terluka ketika bibir nya mengatakan pada Arga bahwa ia akan melupakan semua nya, sementara hati nya mengatakan sebalik nya, ia sakit melihat Arga menatap nya dengan harapan-harapan yang dulu pernah mereka sematkan, dan lebih sakit lagi ia harus berpura-pura harus tegar menerima semua itu.
"Pengantin baru seperti nya mulai meratapi nasib nya di sini," tiba-tiba suara itu menyentakan Elin, ia menoleh pada sumber suara itu, dan... ya Rora.
__ADS_1
Rora tidak sengaja melihat Elin di sana ketika ia akan menggunakan toilet juga.
Ia berjalan dengan gaya angkuh serta tatapan sinis dan merendahkan nya mendekati Elin.
"Apa kau telah di campakan oleh suamimu itu di malam pertamamu?! " Seringai Rora mengejek.
"Atau ia baru menyadari kau hanya wanita aneh yang suka menyendiri, dan tidak tau cara menyenangkan laki-laki sehingga kau sekarang dicampakan nya, lalu kau meratapi nasib malang mu di tempat ini? " ujar Rora lagi dengan disusul gelak tawa oleh dua sahabat nya.
Elin hanya diam, menurut nya kali ini ia tak punya banyak waktu untuk meladeni gadis ini.
Drrrtt...
Drrrrtt...
Drrrrrtt...
Tiba-tiba telfon genggam milik Elin bergetar, sebuah pesan dari Bu Arini, dosen pembimbing nya.
Elin merutuki diri nya sendiri mengapa ia bisa melupakan janji penting bersama dosen itu. Padahal dosen tersebut sangat lah susah untuk meluangkan waktu nya. Elin kemudian membuka pesan itu.
Saudari Elina sharin gunawan, anda telah membuat saya menunggu hampir satu jam, terus terang saja, saya membuat janji bukan dengan anda saja. Maaf, sepertinya hari ini batalkan saja niat anda untuk bertemu dengan saya!
Elin terkesiap membaca pesan dari dosen tersebut, lagi-lagi kembali ia merutuki diri nya, Lalu ia melangkah keluar dari toilet itu, meninggalkan teriakan Rora yang merasa tidak dianggap keberadaan nya di sana.
Elin berusaha berlari sekuat tenaga untuk menuju ruang dosen itu, ia berharap dosen itu masih di sana, tidak menghiraukan Risa dan Echa yang berteriak memanggil nama nya.
Echa dan Risa pun bingung kenapa Elin tidak menyahut, dan terus berlari seperti itu. Detik kemudian mereka pun berlari menyusul Elin dari belakang.
Elin sampai di depan ruangan Bu Arini, Elin merasa lega karna melihat ruangan itu masih terbuka, ia mengatur nafas nya, berjalan mendekati pintu, dan tepat ketika ia sampai di depan pintu, Bu Arini pun hendak berjalan ke luar ruangan tersebut.
"Bu, maaf bu saya telat. " Ujar Elin dengan nafas yang masih belum sepenuh nya teratur.
"Maaf Elin, saya sedang terburu-buru, saya juga ada janji di luar. " Ucap bu Arini sambil berlalu dan mengunci ruangan nya.
"Bu, sebentar saja. " Mohon Elin
"Anda bisa mengatur jadwal pertemuan kembali, tapi sekarang saya benar-benar harus pergi." Ucap bu Arini.
Elin hanya bisa pasrah dengan keputusan itu,
ia memandang nanar punggung bu Arini yang terus menjauh dari nya.
Echa dan Risa yang melihat itu, kemudian menghampiri Elin yang masih mematung di sana, lalu merangkul bahu Elin, mereka tau sesuatu yang sulit pasti telah menimpa Elin. Elin benar-benar lelah dengan apa yang ia lalui pagi ini, ia memutuskan untuk pulang saja, Risa dan Echa pun mengantar Elin pulang ke rumah nya dan Rey.
ššššš
Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan rate 5 sebanyak-banyak nya ya readers..
dukung authur dan beri semangat author untuk melanjutkan cerita ini. jangan lupa beri masukan juga di kolam komentar
__ADS_1
terimakasih banyak
happy reading...