
"Rora, kamu baru pulang? "
Rora menoleh ke arah suara yang melerai lamunan singkat itu.
"Ah..iya ma. " Sahut Rora pada bu Sinta yang tiba-tiba menghampiri nya ke ruang keluarga itu.
"Mama, ini benar undangan dari mas Rey? " Tanya Rora memperlihatkan kartu undangan ditangan nya.
"Oh itu... " jawab bu Sinta sambil mengambil duduk di samping Rora, lalu meneguk air putih dari gelas yang baru saja ia ambil dari dapur.
"Iya. satu minggu yang lalu Rey datang lagi ke sini dan memberikan undangan itu sama mama." Lanjut bu Sinta lagi sambil meletakan gelas kosong ke atas meja kecil di hadapan nya.
Rora membulatkan mata nya tak percaya.
"Dasar... tapi apa mama nggak sakit hati sama mas Rey? dia kan yang.... "
"Nggak, Rora. Kita nggak punya hak untuk marah, apa lagi sakit hati pada nya. lagi pula kepergian Naira juga bukan sepenuhnya salah Rey."
Rora terdiam, dia juga tak ingin memperpanjang pembahasan tentang Naura yang jelas-jelas dialah penyebab semua perselisihan Rey dan Naura waktu itu.
"Ya sudah, Mama ke kamar dulu. kamu segeralah pergi tidur, ini sudah larut malam. " Ujar bu Sinta bangkit dari tempat duduk dan berlalu meninggalkan Rora.
"Jadi dia benar-benar menikahi gadis aneh itu? Baguslah, sekarang tidak ada lagi hambatanku untuk mengambil perhatian Arga kembali" Gumam Rora tersenyum simpul.
πππ
Hari yang di janjikan itu pun tiba. sejak pagi sekali keluarga Elin dan juga keluarga Rey telah sampai di hotel tempat acara itu diselenggarakan. Pagi ini adalah acara akad nikah nya, kemudian setelah itu langsung resepsi nya.
Kini Elin dan Rey berada di ruang terpisah untuk di rias sebelum acara akad itu di mulai.
"Wah... cantik sekali calon pengantin." Ujar Risa kagum setelah melihat Elin selesai dirias.
"Aku jadi pengen cepat-cepat nyusul. " Celoteh Echa dengan mimik manja nya.
"Ye... emang udah ada calon nya? " Ledek Risa memajukan bibir nya.
"Kali aja nanti ada di antara tamu undangan. " Balas Echa sambil terkekeh. Risa juga jadi ikut tertawa.
"Eh, Elin. kamu jangan terus melamun gitu dong. kan ga lucu kalau nikah nya batal gara-gara calon pengantin wanita nya kesambet. " Ujar Echa lagi saat melihat Elin hanya diam saja.
__ADS_1
"Apaan sih Cha. garing banget." Ujar Risa membulatkan mata nya.
Elin menarik nafas panjang, lalu menatap dua sahabat nya itu, kemudian ia memaksakan untuk tersenyum. Meski tampak jelas, ia tengah menahan sesuatu yang akan tumpah dari pelupuk mata nya.
Keriuhan Echa dan Risa mendadak berhenti menjadi haru biru. mereka paham betul perasaan Elin saat ini. kemudian mereka berdua berhambur memeluk Elin.
"Jangan sedih... semua nya akan baik-baik saja. jangan sedih. nanti makeup nya luntur lo. " Lirih Echa dan Risa sambil terus menghibur Elin. Namun kenyataan nya mereka berdualah yang lebih dahulu meneteskan air mata.
Waktu terus berjalan. kini Rey, keluarga, tamu undangan dan yang lain nya sudah berada di mimbar nikah yang di dekor dengan sangat mewah nya. Tidak lama kemudian, Elin yang didampingi mama nya serta pak Bimo juga dua sahabat nya pun datang ke tempat itu. Elin di dudukan di samping Rey, semua mata lagi-lagi tertuju pada penampilan Elin yang begitu menawan, wajah nya anggun seoalah membuat mata siapa saja yang melihat enggan berkedip, tidak terkecuali dengan Rey. senyum di bibir nya terus saja merekah, mata nya tak henti menatap wajah Elin, sempat kedua nya saling beradu pandang untuk sesaat, namun Elin dengan segera mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
Lalu proses akad nikah itu pun dimulai...
"Saya terima nikah dan kawin nya Elina sharin gunawan binti Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Ucap Rey lantang dan lancar saat ijab qabul itu.
"Bagai mana saksi? " tanya penghulu
"Sah" Hampir semua yang hadir di sana menjawab serempak. Dan detik itu juga Elin telah resmi menjadi istri Rey. Sah di mata agama dan juga negara.
Semua tampak tersenyum bahagia, baik dari keluarga Elin maupun keluarga Rey, semua nya tampak larut dalam suka cita.
Rey menyematkan cincin pernikahan di jari manis Elin, dengan di iringi tepuk tangan serta sorak gembira dari keluarga dan tamu yang hadir. Namun ketika Elin akan memasangkan cincin ke jari Rey, entah karna gugup dan kurang fokus, cincin itu terlepas dari pegangan Elin, lalu jatuh ke lantai, berdencing lalu menggelinding hingga berhenti di kaki salah seorang tamu undangan yang tak lain adalah Arga.
semua yang mengenal Arga, tidak bisa berucap apa-apa, semua hanya diam dalam pikiran masing-masing.
"Maaf kepada mas yang memakai jas berwarna navi, bisakah anda ambilkan cincin itu untuk pengantin kita? " Suara MC menyentakan keheningan mereka.
Adit menepuk bahu Arga, lalu Arga berusaha bersikap tenang, kemudian mengangguk pelan pada sahabat nya itu. Detik kemudian ia berjongkok memungut cincin itu, dan kemudian ia melangkah menuju Elin dan Rey.
Elin hanya tertunduk tak mampu mengangkat wajah nya untuk menatap Arga yang kini telah semakin mendekat, air mata nya benar-benar sudah tak terbendung.
"Ambil lah, semua nya akan baik-baik saja. ino hanya soal waktu. " Ujar Arga sambil mengulurkan cincin itu pada Elin. Rey menengadahkan wajah nya, mengehela nafas sesak.
Namu Elin tak kunjung meraih nya.kemudian Arga menarik lembut tangan Elin, lalu meletakan cincin itu di telapak tangan gadis itu. kemudian dengan senyum hambar serta menahan sesak di dada nya, ia berjalan kembali ke tempat Adit berdiri.
Adit menatap sendu pada sahabat nya itu, namun Arga lagi-lagi melempar senyum nya, seakan meyakinkan Adit bahwa ia tidak apa-apa. Namun tentu saja itu tidak akan membuat Adit percaya.
"Ayo pulang saja" Bisik Adit.
"Nanti saja, aku masih ingin melihat nya. lagi pula acara baru saja dimulai. " jawab Arga sambil terus menatap gadis di atas pelaminan itu.
__ADS_1
"Sudahlah, berhenti menyakiti hatimu sendiri" Bisik Adit lagi.
"Aku bahkan sudah mempersiapkan hatiku untuk lebih sakit lagi dari pada ini" Jawab Arga datar.
Adit tak bisa berkata lagi, ia hanya menatap kasihan pada sahabat nya itu. ia tau Arga hanya berlagak kuat di luar saja, namun hati nya sudah pasti telah hancur berkeping-keping. itu sangat jelas terlihat dari sorot mata yang terus menatap nanar pada gadis itu. air mata nya memang tidak terlihat mengalir, namun siapa sangka air mata itu jatuh ke dalam lubuk hati nya.
"Hai Ga... kamu datang juga?" Tiba-tiba Rora menghampiri meja Arga dan Adit.
Arga enggan menjawab. sementara Adit menatap Rora dengan tatapan sinis.
"Mereka tampak serasi ya." Ujar Rora lagi sambil menatap Elin dan Rey yang duduk di pelaminan.
Arga mendengus. lalu mengangkat gelas minuman ke bibir nya.
kemudian tanpa canggung Rora mengaitkan tangan nya melingkari lengan kekar Arga. Arga menautkan kening nya menatap gadis itu.
"Singkirkan tangan mu dari ku. lalu pergilah dari hadapanku." Sinis Arga kemudian.
Namun tanpa peduli Rora tetap tak menarik tangan nya, malahan ia hanya tersenyum menatap Arga.
"Arga, aku masih cinta sama kamu. aku ingin kita kayak dulu lagi. " ujar Rora setengah berbisik.
"Lagi-lagi seperti nya aku harus memperingatkan mu. bahwa tidak ada tempat bagi penghianat di hatiku. " Ujar Arga penuh penekanan.
Rora terkekeh, lalu melepaskan pelukannya dari tangan Arga.
"Wanita itu juga terang-terangan telah menghianati mu, tapi kenapa tatapan mu jelas masih menginginkan nya. " ujar Rora sambil melirik ke arah Elin di ujung sana.
"Selama nya kau tidak akan sama dengan nya. dia jelas jauh berbeda denganmu. " Balas Arga tak kalah sinis.
"Arga, aku yang jelas-jelas masih sayang sama kamu. kenapa kamu masih saja memuja nya yang dengan jelas sekarang ia bersama suami sah nya di depan sana. apa matamu tidak bisa melihat itu?" Ujar Rora lagi.
Namun tak ingin berdebat terlalu panjang dengan gadis itu, Arga mengajak Adit untuk meninggalkan nya, dan kemudian setelah menoleh sebentar ke arah Elin, ia benar-benar meninggalkam acara itu.
Sementara Elin yang tidak bisa untuk tidak memperhatikan Arga dari tadi kini kembali tertunduk setelah melihat Arga dan Adit berjalan menjauhi tempat itu.
Rey yang tentu saja menyadari itu semua memilih untuk tidak berkomentar, ia tau diam di saat ini adalah yang terbaik, meskipun ia harus membuang rasa cemburu dalam hati nya sejauh yang bisa ia lakukan.
πππππ
__ADS_1
Hai readers, terimakasih telah mampir. tidak bosan-bosan nya author ingatkan readers semua untuk tinggalkan jejak setelah membaca ya. karna like, dan komen dari readers adalah semangat buat author. sekali lagi terimakasih, and happy readingπππ